Fenomena 'Diam-Diam Resign' di Kantor Indonesia: Kenapa Banyak Orang Pergi Tanpa
Tulisan dari Aldi Afronando tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis : Aldi Afronando
Dalam dua tahun terakhir, tren “diam-diam resign” makin sering terjadi di berbagai kantor di Indonesia. Tanpa drama, tanpa protes, karyawan tiba-tiba mengajukan surat resign setelah berminggu-minggu terlihat “baik-baik saja”. Fenomena ini sempat ramai di TikTok dan X, terutama di kalangan pekerja Gen Z yang memilih keluar tanpa banyak bicara.
Menariknya, fenomena ini bukan karena karyawan malas berdiskusi. Banyak dari mereka mengaku sudah tidak melihat manfaat berbicara di kantor. Saran dianggap mengganggu, kritik dianggap tidak sopan, dan ide baru sering dipotong sebelum sempat dijelaskan. Akhirnya muncul pola: lebih aman diam, lalu mencari tempat kerja yang lebih sehat.
Fenomena ini mirip dengan “quiet quitting” yang viral di luar negeri, tetapi konteks Indonesia berbeda. Budaya hierarkis membuat banyak pekerja muda merasa tidak punya ruang untuk menyampaikan pendapat. Mereka terpaku pada aturan tidak tertulis: “jangan melawan atasan.”
Namun ada dampak yang lebih serius. Perusahaan yang tidak mendengar karyawannya mengalami turnover tinggi, kehilangan talenta, dan harus terus merekrut ulang. Biayanya besar, tapi jarang disadari.
Sementara itu, perusahaan yang memberi ruang dialog justru mendapat manfaat lebih besar: loyalitas, ide segar, dan performa tim yang stabil.
Fenomena “diam-diam resign” ini sebenarnya bukan soal karyawan manja. Ini soal budaya kantor yang gagal menjadi tempat aman untuk berbicara.
Ketika suara tidak lagi dihargai, kaki yang mengambil keputusan.
Closing statement
Pada akhirnya, orang jarang pergi karena kerjaannya berat tapi karena rasanya nggak didengar. Kalau kantor mau talenta bertahan, ruang ngobrol harus dibuka dulu sebelum pintu keluar yang terbuka lebar.

