Konten dari Pengguna

Ketika Tubuh Perempuan Jadi Konten: Media, Algoritma, dan Kuasa yang TakTerlihat

ilustrasi di buat menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi di buat menggunakan AI

Penulis : Aldi Afronando

Media sering disebut sebagai cermin masyarakat. Tapi di era digital, rasanya media bukan sekadar memantulkan realitas ia ikut membentuk cara kita melihat, menilai, bahkan menghakimi. Salah satu contohnya terlihat jelas pada bagaimana tubuh perempuan ditampilkan. Dari iklan televisi sampai unggahan Instagram, tubuh perempuan kerap hadir sebagai pusat perhatian, bukan karena gagasan atau perannya, melainkan karena tampilannya.

Jika dicermati, representasi ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pertemuan dua kekuatan besar: patriarki dan kapitalisme. Media membutuhkan perhatian, dan perhatian paling mudah dijual adalah tubuh perempuan yang sesuai dengan standar “ideal”. Akibatnya, tubuh perempuan bukan lagi sekadar tubuh, melainkan komoditas yang dikemas lewat kamera, narasi, dan kini algoritma.

Di Indonesia, pola tersebut masih sangat terasa. Iklan produk kecantikan, misalnya, hampir selalu menampilkan perempuan berkulit putih, langsing, dan berambut lurus. Seolah-olah kecantikan hanya punya satu wajah. Pesan ini mungkin tidak diucapkan secara langsung, tetapi terus diulang hingga dianggap wajar. Perempuan dengan kulit gelap, tubuh berisi, atau rambut keriting pun secara perlahan disingkirkan dari ruang representasi.

Dunia hiburan pun tak jauh berbeda. Dalam banyak sinetron dan film, karakter perempuan sering terjebak dalam peran yang itu-itu saja: si cantik yang lembut dan pasrah, atau perempuan “berani” yang digambarkan licik dan bermasalah. Kompleksitas perempuan sebagai manusia utuh jarang mendapat ruang. Nilai mereka tetap ditentukan oleh penampilan dan relasi dengan tokoh lain, terutama laki-laki.

Masuk ke media sosial, persoalannya justru semakin rumit. Influencer perempuan seperti Rachel Vennya atau Anya Geraldine sering kali menjadi pusat perhatian publik. Namun sorotan itu lebih banyak tertuju pada tubuh, gaya berpakaian, dan kehidupan personal mereka, bukan pada karya atau ide yang dihasilkan. Kolom komentar pun menjadi ruang bebas bagi warganet untuk menilai, mengomentari, bahkan menghakimi tubuh perempuan.

Ironisnya, platform digital tidak netral dalam persoalan ini. Konten yang menampilkan tubuh perempuan cenderung mendapat lebih banyak like, share, dan views. Algoritma membaca itu sebagai “konten menarik”, lalu menyebarkannya lebih luas. Pola ini terus berulang, menciptakan lingkaran yang sulit diputus. Di sisi lain, ketika perempuan berbicara tentang hak tubuh, batasan, atau kesetaraan gender, mereka justru sering dianggap berlebihan, tidak tahu adat, atau cari sensasi.

Meski begitu, bukan berarti perempuan sepenuhnya kehilangan ruang. Media alternatif seperti Magdalene.co dan Konde.co hadir untuk menawarkan narasi tandingan. Di sana, tubuh perempuan dibicarakan sebagai subjek, bukan objek. Media sosial pun menjadi arena perlawanan baru lewat gerakan seperti #BodyPositivityIndonesia dan #BeraniBersuara, yang mengajak perempuan berdamai dengan tubuhnya sendiri dan berani melawan standar kecantikan sempit.

Perjuangan ini tentu tidak mudah. Algoritma tetap bekerja, kepentingan ekonomi tetap dominan. Namun keberadaan narasi alternatif menunjukkan satu hal penting: perempuan tidak lagi diam menerima cara media memandang tubuh mereka.

Closing Statement

Membaca media secara kritis menjadi langkah awal yang penting. Kita perlu sadar bahwa setiap gambar dan cerita selalu membawa kepentingan tertentu. Selama tubuh perempuan terus diposisikan sebagai objek tontonan, kesetaraan gender akan sulit dicapai. Maka pertanyaannya bukan lagi “seperti apa tubuh ideal menurut media?”, melainkan: kapan perempuan benar-benar diberi kuasa untuk mendefinisikan tubuhnya sendiri?