Konten dari Pengguna

New Normal dan Bangkitnya Kesadaran Ekologis

aldi bintang

aldi bintang

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Malang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aldi bintang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setalah pandemi Covid-19 berhasil menginfeksi berbagai negara di belahan dunia termasuk Indonesia, banyak dari tatanan kehidupan mulai berubah. Aktivitas-aktivitas keagamaan, sosial, ekonomi, dan budaya berjalan tidak normal seperti biasanya. Pasalnya dengan adanya pandemi ini interaksi-interaksi sosial tersebut menjadi terbatas dan masyarakat memilih untuk membatasi diri (social distancing) supaya tidak tertular dengan virus yang semakin menyebar.

Dalam rangka menangani virus yang kian mewabah pemerintah Indonesia sempat mengeluarkan kebijakan yaitu PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala Besar). Dimana semua aktivitas dibatasi dan kegiatan seperti di tempat ibadah, sekolah, wisata, pasar, dan pabrik diberhentikan. Masyarakat diimbau untuk tetap di rumah dan menjaga diri dengan melaksanakan protokol kesehatan dengan baik.

Namun, dengan adanya PSBB keadaan justru tidak semakin membaik. Adanya pembatasan tersebut mengakibatkan aktivitas ekonomi melemah dan banyak para pekerja di PHK. Selain itu banyak dari orang tua mulai resah dengan pembelajaran online dan masyarakat ingin bisa kembali beribadah di tempat-tempat ibadah. Untuk menangani hal tersebut pemerintah lalu mengeluarkan kebijakan baru yaitu new normal.

Menurut juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, new normal adalah tatanan, kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Protokol ini diberlakukan bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga pendidikan dan keagamaan, tentu bergantung pada aspek epidemologi dari masing-masing daerah. Dengan adanya new normal ini jelas kita tidak lagi berperang dengan Covid-19, akan tetapi diimbau untuk berdamai dengan virus.

Pentingnya Kesadaran Ekologis

Kebijakan new normal yang saat ini tengah berlangsung telah mendorong masyarakat disiplin dalam menjaga pola hidup sehat. Perilaku yang sebelumnya acuh terhadap kesehatan kini mulai banyak ditinggalkan dan beralih kepada pola-pola hidup yang teratur. Misalnya seperti cuci tangan disetiap saat, memakai masker saat keluar rumah dan meningkatkan imun tubuh dengan mengkonsumsi makanan yang baik dan rajin berolahraga.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan kini menjadi new life style atau gaya hidup baru di dalam masyarakat. Akan tetapi ada sedikit yang terabaikan. Gaya hidup baru tersebut belum menyentuh aspek tentang bagaimana merawat lingkungan dengan baik. Pada awal-awal Covid-19 mengguncangkan dunia udara di kota-kota besar sempat berkurang polusinya dan langit terlihat cerah berwarna biru. Namun, setelah new normal berlangsung mesin-mesin kendaraan dan cerobong asap kembali mencemari udara. Belum lagi pabrik-pabrik yang mengeksploitasi alam dengan membabi buta. Kebijakan new normal yang tengah berlangsung seharunya mengeluarkan kebijakan baru terkait bagaimana suatu perusahaan dapat bijak dalam mengelola produksinya sehingga tidak merugikan dan mencemari alam.

Kenapa kesadaran ekologis ini sangat diperlukan dalam keadaan pandemi? Mungkin itu pertanyaan yang akan diajukan. Kesadaran ini sangat diperlukan karena ancaman bencana tidak hanya datang dari virus Covid-19. Akan ada ancaman yang lebih berbahaya lagi yaitu perubahan iklim atau climate change. Perubahan iklim ini terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainya di atmosfer yang dihasilkan dari eksploitasi alam dan pembakaran bahan bakar fosil secara berlebihan. Hal inilah yang akan menyebabkan terjadinya efek gas rumah kaca. Semakin jelas bahwa kerusakan lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi menandakan belum adanya kesadaran terutama para elit untuk dapat merawat lingkungan.

Bumi Kita Rumah Bersama

Dalam manajemen rumah tangga apabila rumah mengalami kerusakan, kotor dan tidak terawat dengan baik, dapat dipastikan si pemilik rumah tersebut pasti akan merasa risih, sumpek, tidak tenang dan ingin segera memperbaikinya. Seperti itulah yang seharusnya kita rasakan dengan bumi sebagai rumah kita bersama yang kini sedang mengalami kerusakan. Kesadaran akan hal itu belum sepenuhnya menjadi kesadaran kolektif. Hanya sebagian orang saja yang benar-benar merasakan ancaman bahaya. Yang lainya masih berpangku tangan dan acuh terhadap kerusakan bumi. Bahkan secara tidak sadar mereka sendiri yang menjadi aktor kerusakan yaitu elit-elit yang terus mengeksploitasi alam.

Bumi sebagai rumah kita bersama adalah rumah yang besar dan tidak hanya dihuni oleh manusia saja. Banyak dari hewan, tumbuhan dan makhluk hidup lainya mempunyai hak untuk hidup, berkembang dan tidak dieksploitasi secara membabi buta. Apabila kesadaran seperti ini tidak mulai dibangun maka keharmonisan antar makhluk hidup tidak terjalin dengan baik dan ini merupakan sumber bencana yang besar.

Manusia karena merasa dirinya makhluk yang sempurna dan bisa melakukan segala hal dapat dengan mudah mengubah bumi sesuai dengan keinginannya. Mungkin bumi dianggap hanya sebagai penyedia kebutuhan hidup yang tidak perlu lagi dirawat sehingga mengabaikan nilai-nilai ekologis. Pandangan-pandangan seperti inilah yang seharusnya mulai diubah dan terus diperangi.

Dengan adanya Covid-19 ini seharusnya kita semua sadar bahwa merawat lingkungan itu sama seperti kita merawat rumah. Virus ini bisa jadi muncul akibat dari arogansi manusia yang terus-menerus merusak alam. Mungkin ada benarnya kalimat yang diucapkan oleh filsuf yang kini sedang naik daun yaitu Rocky Gerung. Rocky mengucapkan bahwasanya “Covid-19 bukan virus, tetapi antibodi bumi untuk menghalau virus yang namanya manusia”. Manusia diibaratkan sebagai virus karena memang manusia adalah pembunuh atau killer terhadap makhluk hidup lainnya.

Oleh: Aldi Bintang Hanafiah (Mahasiswa Ekonomi Syariah UMM)