Konten dari Pengguna
Cuma di Glenmore! Lontong Campur Ini Bikin Orang Rela Antre Pagi-Pagi
1 Desember 2025 12:42 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Cuma di Glenmore! Lontong Campur Ini Bikin Orang Rela Antre Pagi-Pagi
Lontong Campur Glenmore sudah ada sejak 1950-an dan menjadi kuliner legendaris Banyuwangi. Simak sejarah, cita rasa, dan penerus usaha turun-temurunnya.Aldi Fahriyan Furqon
Tulisan dari Aldi Fahriyan Furqon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Sekilas mendengar nama Glenmore, orang mungkin mengira ini adalah sebuahkota di Eropa. Namun faktanya, Glenmore adalah sebuah kota kecil yang berada di bagian barat Kabupaten Banyuwangi, tepatnya di sisi selatan Gunung Raung. Daerah ini dikenal memiliki udara yang sejuk dan telah lama dihuni oleh masyarakat Madura sebagai kelompok penduduk terbanyak. Selain Madura, etnis lain seperti Jawa, Arab, dan Tionghoa juga turut menetap dan hidup berdampingan di wilayah ini. Glenmore memang memiliki jejak sejarah yang berkaitan erat dengan Eropa. Wilayah ini dulunya dimiliki oleh seorang bangsawan asal Skotlandia bernama Ros Taylor. Ia membeli kawasan berbukit dan luas tersebut dari Gubernur Hindia Belanda pada tahun 1909. Tak heran jika banyak wisatawan asal Belanda berkunjung ke Glenmore, baik untuk bernostalgia maupun menikmati pemandangan perkebunan karet, kopi, dan kakao yang ada di sekitarnya.
ADVERTISEMENT
Terlepas dari itu, Glenmore sendiri mempunyai banyak kuliner yang menarik dan menggugah selera salah satunya yaitu “Lontong Campur” yang sudah ada sejak tahun 1950-an. Bermula dari masyarakat madura yang datang ke Glenmore, Banyuwangi salah satunya ibu Samsuni namanya yang membawa resep lontong campur itu sendiri. Kuliner ini merupakan sebuah adaptasi dari sebuah kuliner lontong campur khas madura yang kemudian di modifikasi dengan sebuah rempah rempah khas jawa oleh ibu Samsuni. Beliau memodifikasi resep lontong campur dari madura yang kemudian di cocokan dengan lidah masyarakat setempat sehingga terciptalah lontong campur Glemore yang mempunyai ciri khas tersendiri dari lontong campur dari madura itu sendiri. Awalnya rasanya terasa sedikit aneh akan tetapi cocok dengan lidah masayarakat lokal sehingga long campur ini dapat diterima dengan baik dengan masayarakat, selain itu bu samsuni berjualan di sebuah warung di pasar sepanjang Glenmore dan ada juga banyak penjual lontong campur yang lain yang turut serta ikut berjualan disana, Jadi tidak hanya Bu samsuni saja akan tetapi yang ada hingga saat ini yaitu warung warisan bu samsuni itu sendiri.
Kuliner Lontong Campur Glenomre ini merupakan warisan turunmenurun yang diwariskan oleh ibu Samsuni yang kini usaha tersebut dikeola oleh bu Ekowati. Beliau kelahiran tahun 1978 yang kini berusia 47 tahun yang menjadi penerus neneknya yaitu Ibu Samsuni, Ibu Ekowati adalah generasi ketiga yang mewarisi resep kuliner lontong campur ini. Beliau sendiri tidak tahu pasti mulai kapan dia memulai atau melanjutkan usahanya ini di perkirakan mulai tahun 2011 setahu saya. Ia melakukan usaha tersebut Yang bertempat di pasar Sepanjang Glenmore, ia berjualan di sebuah rumah sekaligus warung 3x4 meter tempat ia berjualan lontong campur tesebut. Bu Ekowati mulai berjualan dari jam 8 pagi hingga jam 9 malam tergantung situasi dan libur jika ada hari hari besar.
ADVERTISEMENT
Hanya dengan harga Rp.10.000 kita bisa menikmati seporsi lontong campur yang mempunyai cita rasa yang unik itu, beliau mengatakan dalam sehari bisa terjual 400-600 porsi lontong campur dan dalam pembuatan lontong beliau bisa menghabiskan 10 – 20 kg beras dan pada hari itu juga lontong itu habis oleh pembeli. Ibu Ekowati berkeinginan ingin membesarkan usahanya tersebut dan
jika kalau bisa membesarkan usaha warungnya lebih besar lagi. Beliau berhararap usaha ini lebih berkembang lagi, tapi untuk saat ini beliau tidak tahu siapa yang akan meneruskan usahanya ini, “ya mungkin karena anak saya masih muda dan masih bersekolah dan tidak ada yang mulai belajar untuk meneruskan usaha ini kalau, saya kan mulai dari kecil sudah belajar dari ibu saya” ucap Ibu ekowati. Lontong campur bukan hanya kuliner biasa akan tetapi kuliner ini sudah menjadi identitas masyarakat Glenmore yang menjadi kebanggaan tersendiri. Popularitas lontong campur ini tidak hanya terbatas di kalangan warga sekitar, namun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mencicipi warisan kuliner otentik. Kehadiran warung-warung seperti milik Bu Ekowati memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat menjadi sarana perlawanan terhadap arus globalisasi kuliner, sekaligus menjadi aset ekonomi dan budaya yang harus terus dijaga keberlanjutannya.
ADVERTISEMENT
Ciri khas dan Bahan Utama
Pada dasarnya lontong campur hampir sama dengan Kuliner lontong lainnya, Untuk bahannya yaitu : lontong yang terbuat dari beras yang bisanya lontong ini berukuran besar yang di potong menjadi beberapa porsi, kemudian bumbu utama yang terbuat dari kacang tanah yang digiling setengah halus, petis ikan khas madura, garam, cabe sesuai tingkat kepedasan yang diinginkan, rempah rempah biasa.
Kuahnya berwarna kuning kemerahan yang beraroma sedap khas rempah Nusantara, tanpa santan, dengan tambahan bihun berkuah pekat dan tambahan daging sapi. Penyajian lontong campur dipadukan dengan bumbu kacang, prtis, dan kuah berempah yang menggugah selara. Beliau mengatakan Kuliner ini adalah kuliner yang aneh berbeda dengan lontong lainnya hanya lontong sama kuah saja , bagi orang yang tidak tahu kuliner ini rasanya asin tapi tidak tahu mengapa rasanya cocok di lidah orang orang.
ADVERTISEMENT

