Konten dari Pengguna

Übermensch: Konsep Manusia Unggul Nietzsche dan Relevansinya dengan Psikologi

aldi firmansyah

aldi firmansyah

Mahasiswa Psikologi semester 1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang seringkali aktif di organisasi dan volunteer, memiliki minat pada leadership, kreativitas, dan pengembangan manusia.

·waktu baca 3 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aldi firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Siluet Manusia. Foto: Nathan Dumlao / Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Siluet Manusia. Foto: Nathan Dumlao / Unsplash

Tahukah kamu bahwa ada seorang filsuf Jerman yang mengusulkan konsep manusia yang melampaui batas-batas dirinya? Dia adalah Friedrich Nietzsche, tokoh terkenal yang memperkenalkan gagasan ubermensch atau Manusia Unggul dalam karyanya Thus Spoke Zarathustra.

Menurut Nietzsche, moralitas tidak semata-mata soal "kebaikan", melainkan tentang kekuatan, kreativitas, dan pengembangan diri untuk keluar dari kondisi mediokritas. Tujuan akhirnya bukan hanya menjadi manusia biasa, tetapi menjadi manusia yang melampaui dirinya sendiri.

Lantas, apakah konsep radikal ini memiliki keterkaitan dengan dunia psikologi? Artikel ini akan membahas inti gagasan Nietzsche sekaligus menelusuri relevansinya dengan ilmu psikologi modern.

Ilustrasi logo "Superman" yang merupakan nama lain dari "Ubermensch". Foto: Jon Tyson / Unsplash

Kualitas Utama Manusia Unggul

Nietzsche menyebut beberapa karakter penting yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi manusia unggul, yaitu:

1. Berani Menghadapi Konflik

Nietzsche percaya bahwa konflik adalah bagian dari pertumbuhan. Bahkan ia menyebut bahwa "perang itu baik, apa pun alasannya," bukan dalam arti kekerasan sempit, tetapi sebagai simbol perjuangan hidup yang membentuk karakter.

2. Tidak Takut Tampak "Jahat"

Manusia unggul tidak selalu tampak baik di mata umum. Ia berani mengambil keputusan sulit jika itu selaras dengan tujuan besarnya.

3. Tidak Mengejar Kenyamanan

Alih-alih mencari kebahagiaan instan, manusia unggul mengejar kekuatan, ketahanan, dan pembentukan diri.

Kehidupan sebagai Eksperimen

Bagi Nietzsche, dunia ini adalah sebuah laboratorium raksasa. Banyak kegagalan terjadi, tetapi dari sedikit keberhasilan itulah muncul individu-individu yang melampaui batas manusia biasa. Ia menekankan masyarakat bukanlah tujuan akhir, melainkan alat yang memungkinkan seseorang ditempa menjadi lebih kuat.

Pernikahan dalam Perspektif Nietzsche

Nietzsche memberikan pandangan tajam tentang pernikahan. Dalam Thus Spoke Zarathustra, ia menolak gagasan bahwa cinta otomatis menghasilkan keturunan unggul. Menurutnya:

  • keputusan menikah tidak sebaiknya diambil ketika sedang dilanda cinta,

  • manusia unggul seharusnya menikah dengan manusia unggul lain,

  • tujuan pernikahan bukan hanya reproduksi, tetapi menciptakan generasi yang lebih berkualitas.

Dimensi yang Membentuk Manusia Unggul

Nietzsche menyebut tiga elemen penting dalam pembentukan pribadi unggul:

  • Energi

  • Kecerdasan

  • Marwah/Kebanggaan diri

Ketiga aspek ini harus seimbang agar gairah mentah dapat disatukan menjadi kepribadian yang kuat.

Dekadensi Kekuatan Manusia

Menurut Nietzsche, kemerosotan manusia modern muncul dari beberapa faktor, seperti:

  • demokrasi modern yang mengedepankan kesetaraan mutlak,

  • protestanisme,

  • perkawinan lintas kelas,

  • patriotisme massal,

  • budaya konsumtif (termasuk budaya minum bir dalam konteks Jerman kala itu).

Hal-hal tersebut, bagi Nietzsche, melahirkan masyarakat medioker yang kehilangan kehendak untuk berkuasa (will to power).

Contoh Nyata Manusia Unggul

Nietzsche sering mengagumi Napoleon Bonaparte, seorang figur yang muncul dari kekacauan, menembus batas, dan membentuk sejarah Eropa. Bagi Nietzsche, Napoleon adalah contoh nyata seseorang yang hidup dengan kehendak kuat dan visi besar.

Keterkaitan Konsep bermensch dengan Psikologi

Meski lahir dari filsafat, konsep manusia unggul memiliki irisan menarik dengan psikologi:

1. Behaviorisme

Gagasan bahwa lingkungan membentuk manusia selaras dengan ide Nietzsche bahwa masyarakat adalah "alat" untuk menempah individu menjadi lebih kuat.

2. Psikologi Humanistik

Konsep aktualisasi diri (Maslow) dan menjadi versi terbaik diri sendiri sejalan dengan semangat self-overcoming yang ada dalam bermensch.

3. Self-Efficacy (Bandura)

Kepercayaan terhadap kemampuan diri menciptakan tindakan yang kuat dan mirip dengan kehendak pribadi dalam membentuk manusia unggul.

Relevansi Manusia Unggul di Dunia Modern

Konsep Ubermensch bukan ajakan untuk menjadi dominan atau menindas orang lain. Inti sejatinya adalah mengatasi diri sendiri, keluar dari kenyamanan, dan membangun diri menjadi lebih kuat dibanding versi sebelumnya.

Di era serba cepat seperti sekarang yang penuh distraksi, tekanan sosial, dan budaya kenyamanan, gagasan Nietzsche mengingatkan kita untuk:

  • berani menghadapi tantangan,

  • membangun karakter yang kokoh,

  • dan terus mengembangkan potensi diri secara sadar.

Pada akhirnya, menjadi "manusia unggul" bukan tentang menjadi lebih hebat dari orang lain, tetapi tentang menjadi lebih hebat dari dirimu yang kemarin.