Islam dan Pandemi Brain Rot Manusia Modern

Founder Sinergi Pendidikan Indonesia dan Mahasiswa Magister Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aldo MD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap zaman memiliki istilah untuk menamai kecemasannya sendiri. Zaman kita menamai salah satunya dengan brain rot.
Istilah ini populer untuk menggambarkan perasaan bahwa pikiran kita makin tumpul, perhatian makin pendek, dan daya tahan membaca atau merenung makin rapuh akibat konsumsi konten digital yang serbacepat dan terus-menerus.
Penggunaan pertama istilah Brain Rot tercatat pada tahun 1854 dalam buku Walden karya Henry David Thoreau, yang menggambarkan pengalamannya menjalani gaya hidup sederhana di alam.
Dalam kesimpulannya, Thoreau mengkritik kecenderungan masyarakat untuk meremehkan ide-ide kompleks, atau ide-ide yang dapat ditafsirkan dalam berbagai cara, dan lebih suka ide-ide yang lebih sederhana.
Oxford University Press bahkan memilih brain rot sebagai Word of the Year 2024, dengan penjelasan bahwa istilah ini merujuk pada konsumsi konten daring bernilai rendah sekaligus dampak negatif yang dipersepsikan muncul darinya.
Hal demikian sejalan dengan pendapat Gloria Mark, psikolog dan profesor informatika di Universitas California Irvine AS dalam bukunya Attention Span (2023), menunjukkan rentang perhatian manusia selama dua dekade terakhir menurun drastis sebagai akibat dari masifnya penggunaan teknologi digital.
Sementara itu, sejumlah penelitian menemukan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan di platform, seperti Instagram dan Tiktok, dapat menyebabkan kecemasan dan depresi akibat membandingkan kehidupan mereka dengan narasi yang dipoles dan dikurasi dengan cermat yang dibuat oleh orang lain.
”Ketika kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar dan menggulir, kita mengonsumsi sejumlah besar data yang tidak berarti, berita negatif, dan foto teman dan selebritas yang telah diedit dengan sempurna yang membuat kita merasa tidak mampu,” tulis pusat perawatan kesehatan mental dan kecanduan Newport Institute.
Sementara itu, Melansir dari McKinsey Health Institute, menurut surveinya “Gen Z Global 2022”, survei kepada lebih dari 42 ribu responden dari 26 negara, lebih dari sepertiga responden Gen Z menyatakan menghabiskan waktunya lebih dari dua jam dalam sehari untuk menggunakan media sosial. Mereka juga mengaku, media sosial sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan mental.
Sebagian besar Gen Z wanita mengaku, media sosial memberikan dampak negatif berupa rasa takut tertinggal tren baru, dan Fear of Missing Out alias FOMO sebesar 32%, khawatir akan citra tubuh 32 %, dan kepercayaan diri sebanyak 13 %.
Di Indonesia, kecemasan ini tidak dapat dianggap remeh. APJII mencatat pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221.563.479 jiwa, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen dari populasi.
Angka ini adalah tanda bahwa ruang hidup kita telah berpindah, dari halaman rumah dan warung kopi, menuju layar kecil yang bekerja siang malam membentuk perhatian, selera, bahasa, bahkan cara kita menilai kebenaran.
Vaksin Brain Rot dalam Islam
Dalam pandangan Islam, akal memiliki kedudukan yang sangat mulia. Kemajuan, kemaslahatan, dan kebahagiaan hidup manusia, baik di dunia maupun akhirat, hanya dapat terwujud ketika manusia menggunakan akalnya secara benar.
Tidak mengherankan jika dalam khazanah Islam terdapat ungkapan "al-‘aqlu huwa al-hayah, wa faqduhu huwa al-maut," akal adalah kehidupan, dan hilangnya akal adalah kematian.
Ungkapan ini tidak boleh dipahami secara sempit. Kematian akal yang hari ini dikenal "Brain Rot" bukan hanya berarti hilangnya kemampuan berpikir secara biologis.
Kematian akal juga dapat terjadi ketika manusia berhenti mempertanyakan, berhenti merenung, berhenti membedakan yang benar dan salah, serta menyerahkan seluruh kesadarannya kepada arus hiburan, kemarahan, dan kesia-siaan.
Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, memperhatikan, dan mengambil pelajaran. Seruan seperti afala ta‘qilun tidakkah kamu menggunakan akal adalah panggilan moral agar manusia tidak hidup secara otomatis.
Islam tidak memusuhi kemajuan teknologi. Justru Islam mendorong manusia untuk membaca tanda-tanda zaman dengan akal yang jernih dan hati yang bersih. Yang ditolak adalah sikap lalai, berlebihan, dan kehilangan kendali diri.
Langkah pertama sebagai vaksin untuk melindungi diri dari pandemi brain rot adalah memulihkan disiplin perhatian.
Sebagaimana dalam salah satu hadist, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976).
Ini bisa menjadi prinsip utama menghadapi banjir konten digital sebagai penyebab brain rot manusia modern. Tidak semua yang halal perlu dikonsumsi. Tidak semua yang lucu perlu ditonton. Tidak semua berita perlu dikomentari. Tidak semua perdebatan perlu dimasuki.
Membaca buku, menulis gagasan, berdialog secara sehat, dan menyediakan waktu hening adalah upaya menjaga imun diri dari serangan pandemi brain rot.
Di tengah zaman yang serbacepat, kegiatan-kegiatan itu menjadi bentuk perlawanan intelektual.
Manusia yang masih mampu membaca panjang, berpikir dalam, dan menahan diri dari reaksi impulsif adalah manusia yang sedang menjaga cahaya akalnya.
