Konten dari Pengguna

Pena yang Tak Pernah Kering: Kajian Cerpen "Menggambar Seseorang"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Achmad Aldrin Anggari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melalui karakter Anton, penulis menampilkan sosok anak desa yang kritis dan penuh rasa ingin tahu—ia bahkan berani mempertanyakan keberadaan "Budi" yang terdapat dalam buku pelajaran yang diajarkan oleh gurunya, Pak Thomas. Dalam kajian fiksi, tokoh seperti ini disebut sebagai tokoh utama, yaitu tokoh yang paling banyak diceritakan dan yang paling banyak mengalami peristiwa dalam cerita (Nurgiyantoro, 2013, Bab Penokohan). Kegelisahan intelektual Anton terhadap materi ajar yang dianggapnya kuno dan tidak istimewa menjadi jendela bagi pembaca untuk memahami cara berpikirnya yang jauh lebih dewasa dibandingkan usianya.

Dalam cerpen "Menggambar Seseorang" karya Beatrix Polen Aran, diceritakan bahwa cita-cita seorang anak dapat dimulai dari selembar kertas dan sebatang pena, meskipun harus bersinggungan dengan kenyataan ekonomi yang keras. Ketegangan ini menjadi fokus utama cerita yang menggambarkan Anton, seorang bocah dari keluarga petani dan penjual sayur di pelosok Flores Timur, yang memiliki hobi menggambar wajah-wajah dan diam-diam menyimpan impian untuk menjadi dokter.

Melalui karakter Anton, penulis menampilkan sosok anak desa yang kritis dan penuh rasa ingin tahu—ia bahkan berani mempertanyakan keberadaan "Budi" yang terdapat dalam buku pelajaran yang diajarkan oleh gurunya, Pak Thomas. Dalam kajian fiksi, tokoh seperti ini disebut sebagai tokoh utama, yaitu tokoh yang paling banyak diceritakan dan yang paling banyak mengalami peristiwa dalam cerita (Nurgiyantoro, 2013, Bab Penokohan). Kegelisahan intelektual Anton terhadap materi ajar yang dianggapnya kuno dan tidak istimewa menjadi jendela bagi pembaca untuk memahami cara berpikirnya yang jauh lebih dewasa dibandingkan usianya.

Gambar sebagai Jangkar Harapan

Kekuatan cerpen ini terletak pada penggunaan motif menggambar yang berulang sebagai penanda perkembangan batin tokoh. Di awal cerita, Anton menggambar wajah seseorang yang tampak lusuh dan garang—sosok yang oleh Anton disebut "pahlawan". Namun, gambar tersebut perlahan-lahan mengalami pergeseran: dari sosok bersenjata parang menjadi sosok berjas dokter, hingga akhirnya menjadi makhluk tak berwujud jelas di bawah pohon beringin yang hampir mencelakainya. Pergeseran objek gambar ini berfungsi sebagai teknik penggambaran karakter yang dilakukan bukan melalui penjelasan langsung, melainkan lewat tindakan dan pilihan tokoh itu sendiri (Nurgiyantoro, 2013, Bab Penokohan: Teknik Dramatik).

Kalimat pengantar "Ini Budi. Ini ibu Budi. Ini bapak Budi. " diulang sebagai simbol keseragaman yang dipertanyakan oleh Anton, yang berlawanan dengan latar belakang nama-nama leluhurnya yang menurutnya jauh lebih bermakna. Di sinilah muncul konflik batin cerita ini: bukan konflik fisik antar tokoh, melainkan pertentangan hati dan pikiran seorang tokoh akibat perbedaan sikap dan keyakinan yang harus dihadapinya (Nurgiyantoro, 2013, Bab Penokohan)—antara keinginan besar untuk bermimpi dan kenyataan sempit keluarganya.

Ladang dan Kelas sebagai Latar yang Berjarak

Penulis menggunakan latar tempat secara efektif untuk membangun jarak sosial dalam cerita. Ruang kelas tempat Pak Thomas mengajar dan rumah mewah tempat Mirna, ketua kelas, pulang berkendara mobil, ditempatkan berseberangan dengan ladang kemiri, kopra, dan sulur labu milik keluarga Anton. Latar seperti ini memberikan pijakan konkret bagi cerita, sehingga pembaca dapat merasakan langsung kesenjangan yang dialami tokoh (Nurgiyantoro, 2013, Bab Pelataran).

Latar malam di kamar Anton—ketika ia menatap bulan di atas pohon kersen sembari menggambar dalam sunyi—berfungsi sebagai ruang kontemplasi, tempat kegelisahan tentang biaya sekolah dan masa depan bercampur dengan mimpi-mimpi kecilnya. Di ruangan ini, pembaca menyaksikan betapa rapuhnya batas antara harapan dan keputusasaan seorang anak.

Tema: Mimpi yang Berhadapan dengan Keterbatasan

Tema utama cerpen ini dapat dirumuskan sebagai pergulatan antara cita-cita seorang anak dan keterbatasan ekonomi keluarganya. Menurut Nurgiyantoro, tema adalah gagasan dasar yang menjadi landasan pengembangan cerita, yang kemudian diikuti secara konsisten oleh unsur-unsur intrinsik seperti penokohan, alur, dan latar (Nurgiyantoro, 2013, Bab Tema). Kegelisahan ibu Anton yang membayangkan anaknya menjadi dokter, kemudian ragu karena "makan saja susah", secara jelas menggambarkan tema ini: mimpi anak-anak petani sering kali harus berkompromi dengan kenyataan pahit rumah tangga mereka.

Menariknya, penulis tidak menjadikan kemiskinan sebagai akhir yang menyedihkan semata. Cerita ditutup dengan gambaran Anton yang, setelah hampir kehilangan harapan dalam mencari makhluk misterius di bawah pohon beringin, tetap meraih kembali buku dan pena untuk menggambar. Akhir cerita ini memberi ruang bagi pembaca untuk memaknai bahwa harapan, sekecil apa pun sumber dayanya, harus tetap dipertahankan selama ada pena yang belum kering tintanya.

Penutup

Melalui "Menggambar Seseorang", Beatrix Polen Aran berhasil menghadirkan potret kehidupan anak desa yang bermimpi besar di tengah keterbatasan, tanpa terjebak dalam nada menggurui. Gambar-gambar yang terus digurat Anton, dari sosok pahlawan hingga sosok dokter, menjadi metafora bahwa cita-cita anak manusia selalu mencari bentuknya sendiri, meskipun dunia di sekelilingnya belum tentu siap mewujudkannya.

Daftar Pustaka

  • Aran, B. P. (2024). Menggambar Seseorang.

  • Nurgiyantoro, B. (2013). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.