Kisah Penjual Kue Leker di Alun-alun Kidul, Yogyakarta saat Pandemi: Sangat Sepi

Saya Mahasiswa dari Perguruan Tinggi Swasta AKRB yang sedang belajar menjadi Jurnalis.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ale Prasetya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

30 Januari 2023 lalu, di Alun-alun Kidul, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, saya melihat sebuah gerobak penjual kue leker dengan tulisan yang cukup menarik.
“LEKKERicious ALKID mulai dari Rp 1.000," tulisan yang terpampang di sana. Melihat nama dan tulisannya yang menarik, saya jadi penasaran dan memutuskan untuk mampir. Apalagi harga yang ditawarkan sangat murah.
Sebelum membeli, saya melihat-lihat menu yang sudah disediakan. Kue leker yang dijual itu ada dua ukuran, yaitu kecil dan jumbo. Harga leker di sana mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 12 ribu.
Karena uang yang saya bawa tidak banyak, akhirnya leker kecil rasa cokelat susu jadi pilihan.
Ketika membeli leker tersebut, warung itu dalam kondisi sepi. Karena saya penasaran, akhirnya saya mengajak sang pemilik untuk berbicara.
Nama pemilik leker itu Pak Arno. Beliau sudah tujuh tahun berjualan kue leker di area sekitar Alun-alun Kidul. Ya, tujuh tahun itu bukan merupakan waktu yang sebentar.
Tentu saja, dalam perjalanan waktu panjang dalam berdagang di sana pastinya punya cerita-cerita yang menarik selama berjualan di Area sekitar Alun-alun Kidul.
"Pak, bagaimana penjualan leker selama pandemi COVID-19 kemarin?" tanya saya kepada Pak Arno.
"Masa pandemi sungguh mempengaruhi penjualan kue leker. Dagangan sepi dan suasana sekitar Alun-alun Kidul yang biasanya ramai juga jadi sangat sepi," kata Pak Arno.
Pak Arno biasanya berjualan sampai tengah malam, tapi saat pandemi COVID-19 dibatasi sampai jam 10 malam saja. Beliau tidak punya pilihan lain selain bertahan karena tidak memiliki pekerjaan tetap lainnya.
Situasi lebih parah saat dirinya terkena COVID-19. Sungguh berat jika mengingat masa-masa saat pandemi. Tapi, biarpun sudah berumur dia tetap rela berjualan demi menghidupi keluarganya.
Lagi asyik mengobrol, tiba-tiba pembeli mulai ramai berdatangan. Pembeli yang datang cukup beragam. Tetapi, mayoritas pembeli yang datang adalah ibu-ibu dan mahasiswi, karena beliau sedang sibuk melayani pembeli, saya mengambil kesempatan untuk mengambil foto.
Tetapi ,saya tidak lupa untuk meminta izin Pak Arno. Beliau mengizinkan saya untuk mengambil foto saat beliau melayani pelanggan, dengan syarat wajah beliau tidak tertangkap di kamera karena alasan privasi. Saya pun menghargai permintaan beliau.
Setelah melayani pelanggan, akhirnya kami melanjutkan obrolan yang tentunya panjang dan sangat menyenangkan. Namun sayang, semua harus terhenti karena saya memutuskan untuk pulang.
Tak lupa, saya berterima kasih pada beliau bisa berbincang santai dengan beliau. Saya juga memberi semangat pada beliau untuk tetap bersyukur dalam menjalani kehidupan setelah berhasil bertahan setelah Pandemi.
