Dampak yang Diperoleh Jika Kamu Bermain Game

Mahasiswa Fakultas dakwah dan Ilmu komunikasi UIN Jakarta
Tulisan dari Alessandro Valentino Mohammed tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Game tidak selalu membawa pengaruh buruk. Selama itu dimainkan dengan batas waktu yang tidak berlebihan, banyak dampak positif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut.
Kebanyakan orang-orang akan memilih bermain game ketika sedang merasa jenuh, karena game memang sengaja dibuat dengan tujuan untuk bersenang-senang. Dengan bermain game, orang-orang akan merasakan keseruan bersama teman. Selain itu, game dapat memberikan dampak baik bagi kesehatan mental selama dilakukan dengan tujuan yang baik dan tidak berlebihan.
Kecanduan game bukanlah hal baru dalam dunia teknologi. Kurangnya edukasi terhadap permainan ini menyebabkan timbulnya perspektif negatif yang menyerukan kepada para peminatnya untuk berhenti dan menjauhi game.
Game tidak selalu membawa pengaruh buruk. Selama itu dimainkan dengan batas waktu yang tidak berlebihan, banyak dampak positif yang ditimbulkan oleh kegiatan tersebut.
Mengutip dari artikel resmi milik Universitas Muhammadiyah Surabaya pada Senin (05/12/2022), Menurut Lukman Hakim selaku dosen Fakultas Teknik (FT) UM Surabaya memaparkan lima dampak positif dari bermain game jika dilakukan dalam batas waktu normal. Hal tersebut antara lain:
1. Rasa sportivitas dan saling menghargai
Rasa sportivitas tumbuh saat kita dapat bersikap dewasa, yaitu saat mendapati kemenangan atau kekalahan. Pemain tetap bisa menghargai lawan. Hal ini juga membuat seseorang dapat lebih percaya diri dan siap menerima kekalahan tanpa rasa putus asa dan menyikapi kemenangan dengan rendah hati.
2. Kaya akan taktik
Saat bermain game, tentu saja dibutuhkan taktik untuk mencapai kemenangan. Selain memberikan kepuasan dan kesenangan, juga mengasah konsentrasi untuk fokus dalam melakukan sesuatu.
3. Mengasah kemampuan bekerja sama
Selain taktik yang baik, kerja sama tim juga sangat dibutuhkan. Oleh karenanya, para pemain game diharuskan untuk dapat melatih kerja sama sebagai tim demi mencapai kemenangan. Komunikasi adalah salah satu hal terpenting dalam bermain game.
4. Membiasakan diri untuk multi-aktivitas
Saat seseorang dipertemukan dengan pekerjaan yang melelahkan dan membosankan, maka ia akan merasa tidak nyaman. Kebiasaan bermain game dapat membantu untuk mengembalikan semangat. Kebiasaan itu menghasilkan dampak positif apabila seseorang melakukan lebih dari satu hal secara bersamaan.
5. Melatih fokus pada tujuan
Fokus menjadi pemenang adalah tujuan utama dalam bermain game. Hal ini membutuhkan konsentrasi tinggi agar dapat mencapai poin tertinggi. Dengan demikian otak dipaksa bekerja agar dapat fokus dan mencari jalan keluar (Hakim, 2022).
Selain kelima hal di atas, bermain game juga dapat menghilangkan jenuh saat kita terlalu banyak melakukan aktivitas, contohnya bekerja seharian, belajar di sekolah, dan banyak lainnya. Bermain game dapat meringankan tekanan yang dialami tubuh serta otak saat dimainkan, terlebih ketika kegiatan itu dilakukan bersama teman.
Namun bermain game secara terus-menerus juga dapat menimbulkan efek negatif bagi tubuh. Apalagi disaat seseorang sudah menjadi candu memainkannya hingga tidak ingin berhenti. Dikutip dari The Conversation, penulis artikel “WHO tetapkan kecanduan bermain game sebagai gangguan mental, bagaimana ‘gamer’ Indonesia bisa sembuh?” Edo S. Jaya menyebutkan bahwa kecanduan bermain game bisa dilihat dari beberapa tanda-tanda berikut.
- Tidak bisa mengendalikan keinginan bermain game. - Lebih memilih bermain game dibanding melakukan hal-hal lain.
1. Sulit mengendalikan perilaku impulsif
Dampak buruk kecanduan bermain game salah satunya adalah sulit mengendalikan perilaku impulsif. Yang tanpa sadar hanya memikirkan game dan bermain game hingga lupa waktu.
2. Emosi yang tidak stabil
Beberapa pemain game kadang memiliki emosi yang tidak stabil. Ini disebabkan oleh berbagai macam hal seperti mengalami kekalahan, tujuan yang di inginkan di dalam game tidak tercapai, dan masih banyak penyebab yang lain.
3. Fear of missing out
Fear of missing out atau rasa takut tertinggal juga selalu dirasakan oleh pemain game bila telah kecanduan. Dampak ini menyebabkan rasa takut tertinggal oleh teman-temannya dalam mendapatkan equipment dalam game, seperti item dan gear terbaru. Menyebabkan pemain ingin terus aktif memainkan game agar tidak tertinggal event atau update terbaru dari game tersebut.
4. Suasana hati gampang berubah
Suasana hati gampang berubah, diawali rasa senang saat baru memulai game, kemudian secara tidak sadar menjadi kesal dan marah dikarenakan kesalahan atau sesuatu yang terjadi tidak sesuai keinginan pemain. Pemain bisa saja berkata kasar atau mengumpat secara tidak sadar.
5. Lelah mental
Ketika bermain game, otak dipaksa untuk bekerja secara terus-menerus. Pada saat yang sama, efek radiasi dari handphone juga masuk melalui mata. Akibatnya, mata gampang lelah dan kepala pusing. Ditambah emosi yang tidak stabil, menyebabkan kelelahan mental kepada pemain.
6. Depresi
Akibat terparah saat kecanduan bermain game adalah depresi. Di tahap ini, pemain biasanya merasa hopeless dan tidak punya harapan hidup. Depresi disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya cyberbullying di room chat, ketika performa pemain sedang buruk, biasanya pemain lain akan mem-bully pemain dengan performa buruk. Hal tersebut menyebabkan depresi yang bisa berdampak fatal pada pemain yang terkena bully (Jaya, 2022).
Maka dari itu pemain seharusnya bisa membatasi waktu bermain untuk menghindari rasa kecanduan pada game. Game seharusnya dimanfaatkan untuk mengurangi kejenuhan di sela aktivitas yang berulang setiap hari.
Menurut pandangan penulis, dampak-dampak diatas perlu dijadikan bahan pembelajaran bagi semua orang, terutama kepada pemain game itu sendiri agar tidak kecanduan serta dapat memanfaatkan game itu sebaik-baiknya. Hal ini ditujukan demi menjaga kesehatan tubuh serta mental.
Referensi:
Hakim, L. (2022). 5 Dampak Positif Bermain Game, Dosen UM Surabaya Beri Penjelasan. detikedu, 1-2.
Jaya, E. S. (2022). Dampak Negatif Kecanduan Game pada Kesehatan Mental. Kementrian Kesehatan, 1-2.
