Sulung Bertanggung Jawab, Bungsu Manja: Fakta atau Sekadar Label Keluarga?

Saya seorang mahasiswi S1 Psikologi Universitas Negeri Surabaya yang memiliki minat pada menulis.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Aulia Fadillah Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teori Alfred Adler, tokoh neo-Freudian, masih sering dikutip sebagai fakta soal watak anak sulung, tengah, dan bungsu. Riset berskala besar, termasuk data ribuan orang Indonesia, menemukan pengaruhnya jauh lebih kecil daripada yang dipercaya orang.
Di Bali, nama saja sudah memberi tahu urutan lahir seseorang: Wayan untuk anak pertama, Made untuk anak kedua, dan seterusnya. Nyatanya, terdapat tempat yang membuat posisi di antara saudara terasa penting. Sejumlah teori bahkan memprediksi pengaruh urutan lahir akan tampak lebih kuat di negara yang lebih miskin dan berkeluarga besar seperti Indonesia (Botzet dkk., 2021).
Gagasan bahwa anak sulung si paling bertanggung jawab dan anak bungsu si paling manja memang sudah terlalu akrab untuk dipertanyakan. Sejumlah media daring menuliskan bahwa bungsu paling manja dan sulung paling bertanggung jawab, menyebut ambisius sebagai ciri sulung, lalu menilai kesan itu kemungkinan besar ada benarnya (Kurniawan, 2025). Media lain juga mencatat stereotip serupa: sulung cocok memimpin, anak kedua jadi penengah, bungsu manja tetapi ceria dan kreatif (Sudiongko, 2024).
Gambaran itu berpangkal pada Alfred Adler, dokter Austria yang sering digolongkan sebagai tokoh neo-Freudian. Satu abad kemudian, data yang tersedia jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan Adler. Tulisan ini menimbang teorinya dengan riset modern, dengan studi atas keluarga Indonesia sebagai studi kasus.
Adler (1870–1937) sempat menjadi murid dan rekan Sigmund Freud pada 1902–1911, lalu berpisah karena berbeda pandangan soal peran konflik seksual masa kecil dalam gangguan jiwa. Ia kemudian mengembangkan psikologi individual, yang menyoroti perasaan inferior dan upaya mengatasinya, serta memandang seseorang dalam hubungannya dengan lingkungannya
Urutan lahir hanya salah satu gagasannya, tetapi yang paling terkenal. Menurut rangkuman Scientific American, Adler melihat anak sulung terlengser dari posisi istimewanya begitu adik lahir. Ia menilai mereka patuh, kadang konservatif, dan cenderung neurotik, sedangkan anak tengah relatif stabil secara emosi dan anak bungsu ambisius. Rangkuman Psych Central menambahkan sisi manjanya: bungsu bisa dimanja orang tua dan kakak-kakaknya, tetapi keinginan untuk tidak selamanya jadi si kecil membuat mereka menyusun rencana-rencana besar di kehidupan mereka. Adler sendiri menekankan posisi yang dirasakan anak, bukan sekadar nomor urut. Anak tengah, misalnya, bisa memikul peran sulung kalau kakak tertuanya penyandang disabilitas.
Pengujian yang paling dekat dengan kita dilakukan tim peneliti dari Jerman. Mereka memakai Indonesian Family Life Survey (IFLS), survei panel milik RAND yang berjalan sejak 1993 dan mencakup lebih dari 50 ribu orang. Sampel rumah tangga pada gelombang pertamanya mewakili sekitar 83 persen penduduk Indonesia. Urutan lahir disusun dari riwayat kehamilan dan pernikahan para ibu, lalu diuji pada hingga 11.188 orang berusia 15 tahun ke atas yang mengikuti gelombang kelima pada 2014 (Botzet dkk., 2021).
Yang diukur ada empat hal: kecerdasan lewat gabungan lima tes, termasuk matriks Raven versi singkat dan soal matematika; lama pendidikan; lima sifat kepribadian lewat kuesioner 15 butir; dan keengganan mengambil risiko lewat pilihan undian hipotetis. Para peneliti membandingkan saudara kandung dalam keluarga yang sama sambil memperhitungkan jumlah saudara, jenis kelamin, dan usia. Cara ini penting karena ukuran keluarga berkaitan dengan banyak hal lain, mulai dari peluang menjadi anak sulung sampai kelas sosial.
Hasil dari penelitian tersebut tidak berpihak pada teori itu. Urutan lahir tidak terbukti memengaruhi kecerdasan, kelima sifat kepribadian, maupun keengganan mengambil risiko, baik dihitung sebagai urutan angka, sebagai kategori, maupun bersama jumlah saudara. Satu-satunya jejak muncul pada lama pendidikan, berupa pola kecil yang hilang begitu data yang kosong diisi lewat imputasi. Para peneliti menyimpulkan temuan ini tidak sejalan dengan prediksi teori sumber daya terbagi, yang menganggap makin banyak anak berarti makin tipis jatah orang tua untuk tiap anak. (Botzet dkk., 2021).
Pola serupa muncul di tempatlain. Rohrer dkk. (2015) menganalisis tiga panel nasional dengan total 20.186 orang dewasa dari Amerika Serikat (5.240), Inggris (4.489), dan Jerman (10.457). Mereka tidak menemukan pengaruh urutan lahir pada ekstraversi, stabilitas emosi, keramahan, ketelitian, maupun imajinasi, dan menyimpulkan bahwa urutan lahir tidak punya pengaruh yang bertahan pada sifat kepribadian luas di luar ranah intelektual. Yang terkonfirmasi hanya penurunan kecil skor kecerdasan dari sulung ke adik-adiknya. Salah satu penulisnya, Stefan Schmukle, menilai selisih itu nyaris tak berarti pada tingkat individu: dalam empat dari sepuluh kasus, adik justru lebih cerdas daripada kakaknya (Johannes Gutenberg University Mainz, 2015).
Studi lain memakai sampel yang jauh lebih besar, 377.000 siswa SMA di Amerika Serikat. Korelasi rata-rata antara urutan lahir dan sifat kepribadian hanya 0,02, sedangkan dengan kecerdasan 0,04. Anak sulung unggul sekitar satu poin IQ dan cenderung sedikit lebih teliti, tetapi selisihnya, menurut para penelitinya, sangat kecil. Salah satu peneliti, Rodica Damian, menyatakan urutan lahir sebaiknya tidak memengaruhi cara orang tua mengasuh karena tidak berkaitan secara bermakna dengan kepribadian atau IQ anak (Damian & Roberts, 2015; University of Illinois News Bureau, 2015).
Riset terbesar belakangan ini menambah catatan. Ashton dan Lee (2025) menganalisis lebih dari 700.000 orang dewasa yang mengisi survei kepribadian daring, kebanyakan dari negara berbahasa Inggris. Mereka menemukan perbedaan kecil pada dua sifat, kejujuran-kerendahan hati dan keramahan, dengan skor tertinggi pada anak tengah, disusul bungsu, sulung, lalu anak tunggal. Namun sebagian besar perbedaan itu berkaitan dengan jumlah saudara. Setelah ukuran keluarga disamakan, selisih antarurutan menyusut: anak sulung paling banyak sekitar 0,10 simpangan baku lebih rendah daripada anak tengah dan bungsu, selisih yang sangat kecil (Ashton & Lee, 2025).
Perlu dicatat, ambisius dan manja bukan ukuran baku dalam studi-studi ini. Yang paling dekat dengan ambisius adalah ketelitian (conscientiousness), dan hasilnya tidak seragam: sedikit lebih tinggi pada sulung di data Amerika, tidak ada pengaruh di tiga panel Rohrer dkk., dan tidak ada di Indonesia. Untuk manja, tidak ada padanan yang jelas. Rekonstruksi atas meta-analisis Frank Sulloway dalam bukunya Born to Rebel (1996), rujukan utama pendukung teori niche, juga tidak berhasil mereplikasi polanya (Townsend, 2000, dikutip dalam Botzet dkk., 2021).
Mengapa mitos ini masih awet di sekitar kita?
Satu penjelasan adalah umur. Membandingkan kakak dan adik dalam satu keluarga berarti membandingkan orang yang usianya berbeda, dan kakak cenderung tampak lebih teliti karena lebih matang, bukan karena posisinya. Survei lama juga sering meminta anggota keluarga menilai diri sendiri dan saudaranya pada satu waktu, sehingga klise tentang kakak yang bertanggung jawab bisa ikut terbawa ke jawaban. Penjelasan lain datang dari cara orang tua memperlakukan anak. Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, Tutut Chusniyah, mengakui ada penelitian yang mengkonfirmasi pengaruh urutan lahir dan “ada juga yang tidak mengkonfirmasi.” Menurutnya, anak pertama sangat diharapkan sehingga orang tua cenderung lebih disiplin, sedangkan anak kedua dan ketiga diperlakukan lebih longgar. Kalau orang tua konsisten memakai pola yang sama sejak anak pertama, misalnya membagi pekerjaan rumah dengan porsi yang sama, karakter anak berpotensi serupa. Kepribadian, katanya, muncul dari genetik dan lingkungan sosial yang lebih luas, seperti sekolah, teman, dan masyarakat.
Ada pula soal harapan keluarga. Para penulis studi IFLS menduga, di sebagian negara, urutan lahir bisa memengaruhi harapan orang tua dan masyarakat terhadap anak pertama, misalnya diharapkan meneruskan usaha keluarga, dan harapan itu lalu membentuk pilihan pendidikan dan pekerjaannya. Efek tidak langsung seperti ini cocok dengan pengaruh kecil yang rata-rata ditemukan, juga dengan hilangnya pengaruh itu di budaya yang berbeda. Beban yang dirasakan banyak anak sulung mungkin lebih berkaitan dengan peran dan harapan daripada watak bawaan.
Terakhir, intuisi kita sendiri. Botzet dkk. menduga orang awam, bahkan peneliti, cenderung melebih-lebihkan peran ciri kasar lingkungan masa kecil, seperti punya atau tidak punya saudara dan posisi di antara mereka, dalam membentuk kepribadian jangka panjang. Stereotip bisa bertahan karena efek kecil di masa kanak-kanak, ingatan budaya, atau liputan media tentang temuan ilmiah
Jadi, Adler salah?
Tidak sepenuhnya. Untuk kecerdasan, efek urutan lahir kecil tetapi konsisten di sampel besar negara Barat. Scientific American mencatat bahwa gagasan Adler tentang perhatian orang tua yang belum terbagi pada anak pertama mungkin ada benarnya. Majalah itu menyinggung riset di Norwegia: anak yang kakaknya meninggal lebih dulu mendapat skor tes kecerdasan lebih baik daripada adik lain, seolah mereka mengambil peran sulung. Itu mengarah pada peran di dalam keluarga, bukan faktor biologis.
Di sisi yang lebih mendukung, sebuah tinjauan atas 200 studi di The Journal of Individual Psychology menemukan karakteristik seperti pencapaian tinggi pada anak sulung, kebutuhan berprestasi yang tinggi pada anak tunggal, dan minat sosial yang tinggi pada anak bungsu (Eckstein dkk., 2010). Tinjauan itu hanya memasukkan artikel dengan temuan yang signifikan secara statistik, sehingga gambarannya cenderung condong ke satu arah (Des Marais, 2022). Psikolog Frank Spinath dari Saarland University menilai posisi di antara saudara mungkin membentuk kepribadian, tetapi tidak dengan cara yang sama di setiap keluarga, dan pengaruh lain, termasuk gen dan lingkungan masing-masing anak seperti lingkaran pertemanan.
Pada akhirnya, label sulung, anak tengah, dan bungsu mungkin akan selalu menjadi bagian menarik dari obrolan keluarga. Namun, urutan kelahiran tidak seharusnya menjadi patokan untuk menilai kepribadian atau memperlakukan seorang anak. Sebab, setiap anak tumbuh dengan pengalaman dan karakter yang berbeda, bahkan di dalam keluarga yang sama.
