Realitas Literasi Pelajar Indonesia: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Campus Ambassador PopSurvey, Mahasiswa MNC University, Graphics Design, Video Editor
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Aleem Ahmad Ibnu Syams tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum membahas mengenai kondisi realitas literasi pelajar di Indonesia, penting untuk memahami apa itu literasi?
Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam membaca, menulis, memahami, dan mengolah informasi untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di era perkembangan teknologi, literasi bukan lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, menganalisis informasi, serta membedakan fakta dan opini. Masih banyak jenis literasi, seperti literasi numerasi, digital, sains, dan media, yang menjadi bekal penting bagi pelajar untuk memahami lingkungan dan menghadapi tantangan zaman.
Kemudian ada istilah dalam bahasa latin "literatus" yang artinya terdidik atau melek huruf. Pada awalnya, literasi berkaitan dengan kemampuan membaca, menulis, dan memahami pengetahuan yang dimiliki seseorang. Namun, seiring perkembangan zaman, literasi memiliki makna yang luas, seperti mengembangkan wawasan dan menerapkan informasi secara kritis.
Oleh karena itu literasi dapat membantu kita dalam berpikir kritis dan membangun kemampuan menulis, membaca, dan lain sebagainya.
Literasi memiliki peran penting untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan berpikir kritis seseorang. Unesco menjelaskan bahwa literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca, menulis, atau berhitung, tetapi kemampuan memahami, menafsirkan, serta mengomunikasikan informasi dalam kehidupan sehari-hari (UNESCO, diperbarui, 20 Agustus 2026).
Bagaimana Realitas Literasi pada Pelajar di Indonesia?
Kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih menghadapi tantangan. Berdasarkan laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diterbitkan oleh OECD, sekitar 25% siswa Indonesia berusia 15 tahun mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam membaca. Angka ini berada di bawah rata-rata negara anggota OECD yang mencapai 74%.
Temuan ini menunjukkan bahwa banyak pelajar yang mengikuti penilaian belum mencapai tingkat kompetensi dasar membaca menurut standar PISA. Tantangannya bukan hanya terletak pada kemampuan membaca teks, tetapi juga memahami informasi, menemukan gagasan utama, dan mengevaluasi isi bacaan.
Kondisi ini memperlihatkan pentingnya dukungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun kemampuan literasi sejak dini. Akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas, pendampingan guru, dan pembelajaran yang melatih penalaran dalam upaya peningkatan literasi pelajar.
Literasi Pelajar Indonesia Menjadi Tantangan: Apa Solusinya?
Masalah ini dapat diselesaikan dengan mengubah kebiasaan membaca menjadi kemampuan memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis. Ada 5 solusi utama yang bisa diterapkan, di antaranya sekolah menerapkan program membaca yang disertai pemahaman, berpikir kritis melalui berita atau artikel, memperkuat kemampuan guru dalam membimbing literasi, membangun budaya literasi di rumah dan masyarakat, dan manfaatkan teknologi untuk memperluas akses baca.
Mengatasi rendahnya kemampuan literasi pelajar Indonesia membutuhkan upaya yang berkelanjutan, tidak hanya melalui peningkatan kebiasaan membaca, tetapi juga penguatan kemampuan memahami dan mengevaluasi informasi secara bersama-sama.
Menurut saya, pada akhirnya literasi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meningkatkan pengetahuan dan tidak hanya membentuk generasi yang gemar membaca, tetapi kritis dalam menerima informasi.
