Konten dari Pengguna

Mendalami Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil" Karya Chairil Anwar

Alexander Johan  Wahyudi

Alexander Johan Wahyudi

Alexander Johan, kelahiran Yogyakarta 1989. Pengajar bahasa, sastra, dan jurnalistik SMA Trinitas Bandung. Alumni Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis aktif di media massa online. Menulis untuk proses kreatif dan menebar informasi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alexander Johan Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chairil Anwar sosok pelopor puisi angkatan 45 yang khas dengan gaya bahasa tegas. Sumber Foto: sejarahjakarta.com
zoom-in-whitePerbesar
Chairil Anwar sosok pelopor puisi angkatan 45 yang khas dengan gaya bahasa tegas. Sumber Foto: sejarahjakarta.com

Karya sastra puisi sudah menggema sejak angkatan Pujangga Lama hingga angkatan 1990-an. Karya-karya puisi yang tercipta bukan hanya sekedar baris kalimat tanpa arti. Lewat puisi inilah banyak seruan-seruan yang sungguh berarti, mulai melawan penjajah, mengkritik ketidakadilan, hingga soal kisah kasih. Untuk menjaga agar karya sastra puisi ini tetap eksis dan terus berkembang di Indonesia, salah satu caranya adalah dengan apresiasi sastra.

Menurut Aminuddin dalam bukunya Pengantar Apresiasi Sastra, "Istilah apresiasi berasal dari bahsa Latin apreciatio yang berarti ―mengindahkan‖ atau menghargai." Dalam mengapresiasi karya puisi bukanlah suatu yang sulit, salah satu caranya dapat dengan mendalami struktur puisi. Berikut struktur batin yang terdapat dalam puisi Karya Chairil Anwar yang berjudul "Senja di Pelabuhan Kecil".

Mengenal Isi Puisi "Senja di Pelabuhan Kecil"

"Senja Di Pelabuhan Kecil"

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar,1946)

Mendalami Struktur Batin Puisi

1. Tema

Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran atau pokok persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair, sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” tema yang diangkat oleh penulis, yaitu “Cinta Kasih”. Tema ini dipilih oleh penyair karena adanya desakan hati terhadap persoalan cinta yang dihadapinya. Tema “Cinta kasih” di sini tidak selalu diasosiasikan dengan kisah cinta yang indah dan bahagia, seperti halnya pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” cinta kasih tersebut lebih mengarah pada kehilangan dan kerinduan.

Tema bersifat menjiwai seluruh isi puisi. Dalam puisi tersebut penyair mengusung tema “Cinta Kasih” yang mengarah pada pada kehilangan dan kerinduan.

Dalam bait pertama, penyair menggambarkan dilema cinta. Penyair dalam kondisi patah hati masih berharap bisa kembali pada kekasihnya. Hal ini tergambar pada kalimat berikut ini.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Dalam bait kedua, penyair menggambarkan suasana hati yang semaik hampa. Selain itu, penyair semakin menyadari bahwa harapan dan kerinduannya untuk kembali pada kekasihnya semakin mustahil. Hal ini tergambar pada kalimat berikut ini.

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Dalam bait ketiga, penyair menggambarkan situasi yang semakin jelas, dimana kehilangan itu semakin dirasakan oleh penyair. Selain itu juga, di bait ketiga pun menceritakan kehilangan dan kerinduan yang dialami penyair telah mengajarkan penyair untuk ikhlas walau perih dan sedih. Hal ini tergambar pada kalimat berikut ini.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

2. Perasaan

Perasaan adalah rasa yang ingin disampaikan penyair melalui puisinya (Waluyo, 1987: 134). Dalam menciptakan puisi, suasana perasaan penyair ikut diekspresikan dan harus dapat dihayati oleh pembaca. Berikut perasaan penyair yang terdapat pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”.

a. Sedih

Puisi tersebut memiliki perasaan sedih karena penyair merasakan bahwa dirinya ditinggalkan oleh kekasihnya. Perasaan tersebut ditunjukkan pada kalimat:

1) “Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang”

2) “Menyinggung muram, desir hari lari berenang”

3) “Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak”

b. Putus asa

Puisi tersebut memiliki perasaan putus asa yang ditunjukkan pada kalimat:

1) “Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut”

2) “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan”

3) “Menyisir semenanjung, masih pengap harap”

c. Berharap

Puisi tersebut memiliki perasaan berharap yang ditunjukkan pada kalimat:

1) “Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut”

2) “Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak”

3) “Menyisir semenanjung, masih pengap harap”

Dengan perasaan sedih, putus asa, dan berharap, puisi tersebut menggambarkan kondisi dan suasana hati sang penyair ketika melalui kisah cintanya hingga ditinggalkan oleh kekasihnya. Perasaan-perasaan di atas adalah sudut pandang dari pembaca ketika merasakan apa yang dirasakan penyair dalam puisi tersebut.

3. Nada dan Suasana

Nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca, sikap penyair terhadap pembaca pun bermacam-macam. Ada yang ingin menggurui, ada yang hanya sekedar sharing, menyindir, mengejek, menggurui, memberontak, serius, khusyuk, masa bodo, belas kasih dan sebagainya. Sedangkan suasana adalah keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi itu atau akibat psikologis yang ditimbulkan puisi itu terhadap pembaca. Nada dan suasana puisi saling berhubungan karena nada puisi menimbulkan suasana terhadap pembacanya (Waluyo, 1987: 125).

Dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” nada yang terkandung adalah nada bercerita (sharing). Di dalam puisi tersebut, sikap penyair terhadap membaca lebih ingin menceritakan kisah patah hati yang dialaminya. Chairil Anwar ingin mengutarakan serta mengungkapkan eligan dari kegagalan cintanya yang menyebabkan hatinya merasa amat sedih dan terekam. Kegagalan paduan kasihnya itu menyebabkan seolah kehilangan segala-galanya. Hal tersebut terbukti melalui baris-baris puisi di bawah ini.

Senja Di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

............................................................................

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

............................................................................

menyinggung muram, desir hari lari berenang

......................................................................

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

................................................................................

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar, 1946)

Dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” suasana yang terkandung adalah suasana sedih dan kesepian yang mendalam. Suasana sedih dalam puisi tersebut dapat dilihat pada baris-baris puisi berikut ini.

Senja Di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

...................................................................

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

....................................................................

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

.................................................................

......................................................................

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar, 1946)

Selain suasana sedih, suasana kesepian pun membalut isi puisi ini. Suasana kesepian dalam puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” dapat dirasakan pada baris-baris bait pertama dan bait ketiga berikut ini.

Senja Di Pelabuhan Kecil

.............................................................

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

.........................................................................

............................................................................

...........................................................................

........................................................................

.....................................................................

..................................................................

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

............................................................................

................................................................................

(Chairil Anwar, 1946)

4. Amanat

Amanat yang dapat kita petik dari puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” adalah belajar untuk bisa bangkit dari keterpurukan yang disebabkan oleh cinta. Kegagalan dalam sebuah hubungan cinta bukanlah akhir dari segalanya. Kegaglan tersebut perlu kita hayati dan renungkan secara baik untuk langkah baru yang perlu diperjuangkan. Dari kisah cinta yang padam dalam puisi tersebut, kita pun bisa belajar untuk ikhlas melepas orang yang kita sayang.

Lewat apresiasi puisi, karya-karya puisi penyair Indonesia dapat semakin dikenal. Karya puisi angkatan Pujangga Lama, Pujangga Baru, Balai Pustaka angkatan 45, dan angkatan-angkatan berikutnya merupakan bukti jika sastra bukan hanya sekedar karya. Karya sastra puisi merupakan seruan-suruan yang penuh arti yang sudah menjadi sejarah. Puisi dan sejarahnya perlu kita jaga dan kita apresiasi.

Alexander Johan Wahyudi, Pengajar Bahasa Indonesia, SMA Trinitas Bandung