Meninjau Persiapan SMA di Bandung Sambut PTMT

Alexander Johan, kelahiran Yogyakarta 1989. Pengajar bahasa, sastra, dan jurnalistik SMA Trinitas Bandung. Alumni Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Penulis aktif di media massa online. Menulis untuk proses kreatif dan menebar informasi.
Tulisan dari Alexander Johan Wahyudi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua sekolah di Bandung dapat menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). Untuk mendapatkan perizinan, sekolah-sekolah harus melewati tahap monitoring dan evaluasi dari dinas pendidikan, puskesmas, dan kelurahan setempat. Di lansir dari info Dinas Pendidikan Kota Bandung tercatat baru 330 sekolah yang dinyatakan lolos di verivikasi tahap peratama dan diizinkan menggelar PTMT.
Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung, Bambang Ariyanto menjelaskan proses verivikasi berikutnya akan diselenggarakan pada minggu ketiga September untuk 1.692 sekolah. Menghadapi hal ini banyak sekolah mulai sibuk menyiapkan keperluan kegiatan PTMT, mulai dari ruang belajar hingga perlengkapan yang berkaitan dengan protokol kesehatan. Salah satunya adalah SMA Trinitas bandung, meski belum mendapatkan rekomendasi untuk menggelar PTMT, sekolah yang berlokasi di Jalan Kebon Jati 209 Bandung ini sudah melakukan banyak persiapan.
Prinsip Pembelajaran di Masa Pandemi
Hasil rapat seluruh tim setiap unit (SD, SMP, SMA) bersama tim yayasan dan juga tim Satgas COVID-19 diperoleh keputusan-keputusan prinsip pembelajaran, pertama kesehatan dan keselamatan menjadi prioritas utama, kedua memberikan pengalaman belajar yang bermakna tanpa membebani peserta didik, ketiga mengedukasi kecakapan hidup terutama mengenai pandemi COVID-19.
Menjalankan Empat Fase Pembelajaran
1. Masa Uji Coba
Masa uji coba berlangsung 1-4 minggu sejak dimulainya PTMT. Pada masa uji coba dipastikan seluruh tenaga kerja, mulai kepala sekolah, guru, staf kerja, dan karyawan sudah divaksin dosis kedua. Untuk jumlah siswa yang mengikuti PTMT sekitar 10-25% dan direkomendasikan bagi siswa yang sudah mendapatkan izin dari orang tua/wali siswa. Jumlah mata pelajaran yang akan diberikan per hari maksimal hanya dua dengan waktu pembelajaran 60 menit per satu mata pelajaran. Pada masa uji coba ini pun tidak ada istirahat di luar kelas yang dapat menimbulkan kerumunan. Maka, dalam hal ini siswa diharapkan dapat membawa bekal sendiri.
2. Masa Transisi
Berlangsung 2 bulan sejak dimulainya PTMT. Peneraparan masa transisi umumnya masih sama dengan penerapan masa uji coba, baik soal jumlah siswa hingga peraturan jam belajar tidak ada perbedaan. Pada masa transisi ini, Satgas COVID SMA Trinitas wajib membuat laporan berita acara setiap hari untuk dilaporkan pada Dinas Kota Bandung dan kelurahan setempat. Dengan adanya laporan dapat mempermudah pihak-pihak tersebut dalam meninjau perkembangan PTMT di sekolah terkait.
3. Masa Adaptasi Kebiasaan Baru
Setelah masa transisi selesai, apabila pemerintah daerah tidak mencabut izin PTMT, maka sekolah masuk dalam masa adaptasi kebiasaan baru. Untuk jumlah siswa yang mengikuti PTMT sekitar 75-100% dan direkomendasikan bagi siswa yang sudah mendapatkan izin dari orang tua/wali siswa. Dalam masa adaptasi kebiasan baru pun Satgas COVID SMA Trinitas wajib membuat laporan berita acara.
4. Masa New Normal
Apabila pemerintah daerah tidak mencabut penyelenggaraan PTMT, maka sekolah masuk pada masa new normal. Jumlah siswa yang mengikuti PTMT sudah mencapai 100%. Pada masa ini sekolah perlu memberikan kualitas pendidikan yang baik dan terus mengedukasi tentang pentingnya protokol kesehatan.
Lima Protokol Kesehatan ala SMA Trinitas
Menggunakan masker 3 lapis. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh World Health Organization (WHO ) tentang perturan baru dalam menggunakan masker.
Sebelum masuk area sekolah cek suhu tubuh. Suhu tubuh di bawah 37,3 derajat. Apabila suhu tubuh sama dengan atau lebih dari 37,3 derajat maka tenaga pendidik atau siswa yang bersangkutan akan ditempatkan pada ruang isolasi yang sudah disediakan.
Selalu menjaga jarak minimal 1,5 meter.
Di ruang kelas, duduk pada kursi yang sudah ditentukan dan dilarang meminjam barang apapun pada teman.
Mencuci tangan dan cek suhu tubuh sebelum meninggalkan sekolah. Lalu segera pulang dan tidak berkunjung ke tempat-tempat umum lain.
Kesiapan Sekolah Menghadapi PTMT
Membentuk Satgas COVID-19 sekolah.
Membentuk kerjasama dengan puskesmas dan klinik terdekat.
Mendata guru dan siswa yang memiliki penyakit bawaan
Menyediakan sarana cuci tangan di beberapa titik. Misalnya pintu masuk, kantin, ruang guru, kelas-kelas, area fasilitas olahraga, area lab sekolah, dll.
Penyediaan disinfektan dan hand sanitizer
Penyedian masker dan sarung tangan karet
Penyediaan alat pengecek suhu tubuh
Menyiapkan ruang kelas sesuai protokol kesehatan
Menyiapkan ruang isolasi
Menyiapkan ruang toilet yang bersih
Membuat spanduk dan voice audio yang berisi himbauan
Membuat simbol-simbol jaga jarak
Menurut Aloysius yang merupakan guru sekaligus Satgas COVID-19, tenaga pendidik dan karyawan SMA Trinitas sudah 100% menerima vaksin hingga dosis kedua dan sudah siap jika nanti mendapatkan rekomendasi atau izin menyelenggarakan PTMT.
“Untuk sekolah kita 100% guru dan karyawan sudah vaksin hingga dosis dua,” ucapnya dalam rapat virtual persiapan PTMT (11/9/2021).
Pendidikan perlahan mulai kembali bersinar. PTMT ini menjadi suatu penggugah yang baik bagi dunia pendidikan di Indoneisa. Untuk itu, dalam proses ini dukungan pemerintah, elemen-elemen pendidikan, bahkan orang tua sangat dibutuhkan. Inilah saatnya kita hidup, bekerja, bersekolah, dan berkarya dengan berdampingan dengan virus COVID-19.
Alexander Johan Wahyudi, kelahiran Cirebon 1989. Pengajar bahasa, sastra, dan jurnalistik SMA Trinitas Bandung. Alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis aktif di media massa online.
