Di Balik Istilah "Hopeless Romantic" yang Ramai di Media Sosial

mahasiswa ilmu komunikasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari firda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, istilah hopeless romantic semakin sering muncul di media sosial. Banyak orang menggunakannya untuk menggambarkan seseorang yang masih percaya pada cinta, menyukai hal-hal romantis, dan berharap memiliki hubungan yang hangat serta penuh perhatian. Tak sedikit pula yang mengaku sebagai hopeless romantic karena merasa relate dengan karakter di film, novel, atau lagu bertema percintaan. Secara sederhana, hopeless romantic merujuk pada seseorang yang memiliki pandangan idealis terhadap cinta. Mereka cenderung menghargai gestur romantis, seperti memberikan bunga, menulis surat, merencanakan kencan sederhana, atau mengingat hal-hal kecil tentang pasangan. Bagi mereka, romantisme bukan hanya tentang hadiah besar, tetapi juga perhatian dan usaha yang diberikan dengan tulus. Di media sosial, istilah ini semakin populer karena banyak konten yang menampilkan momen romantis pasangan, mulai dari kejutan ulang tahun hingga kisah cinta yang berakhir bahagia. Konten-konten tersebut membuat banyak orang merasa ingin memiliki hubungan yang serupa, sehingga istilah hopeless romantic pun semakin sering digunakan untuk menggambarkan diri sendiri.
Meski begitu, menjadi hopeless romantic bukan berarti hidup dalam khayalan. Memiliki harapan terhadap hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang adalah hal yang wajar. Namun, penting untuk memahami bahwa setiap hubungan memiliki dinamika yang berbeda. Hubungan yang baik tidak hanya dibangun dari momen romantis, tetapi juga komunikasi, rasa saling menghargai, dan komitmen. Tak jarang, istilah hopeless romantic juga disalahartikan sebagai seseorang yang mudah jatuh cinta. Padahal, keduanya tidak selalu sama. Seseorang bisa saja sangat romantis dan percaya pada cinta, tetapi tetap selektif dalam memilih pasangan dan membangun hubungan. Pada akhirnya, hopeless romantic bukan sekadar istilah yang sedang viral. Di balik tren tersebut, ada gambaran tentang orang-orang yang masih percaya bahwa perhatian kecil, ketulusan, dan kasih sayang tetap memiliki tempat di tengah hubungan yang serba cepat di era digital.
