Konten dari Pengguna

Love-Hate Relationship, Mengapa Dua Perasaan Muncul Bersamaan?

firda

firda

mahasiswa ilmu komunikasi

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari firda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Source:  pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Source: pribadi

Dalam sebuah hubungan, tidak semua perasaan berjalan dengan sederhana. Ada kalanya seseorang merasa sangat menyayangi pasangannya, tetapi di saat yang sama juga merasakan kecewa, marah, atau bahkan benci. Kondisi ini sering disebut sebagai love-hate relationship. Lantas, mengapa dua perasaan yang bertolak belakang bisa muncul secara bersamaan? Secara umum, love-hate relationship adalah kondisi ketika seseorang memiliki perasaan cinta dan benci terhadap orang yang sama. Perasaan tersebut dapat muncul secara bergantian atau bahkan dirasakan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini biasanya terjadi karena hubungan yang dijalani melibatkan ikatan emosional yang kuat. Sekilas, love-hate relationship mungkin terdengar tidak wajar. Namun, dalam hubungan yang dekat, munculnya emosi positif dan negatif secara bersamaan bukanlah hal yang mustahil. Seseorang tetap dapat menyayangi pasangannya, tetapi merasa marah akibat konflik, perbedaan pendapat, atau pengalaman yang menyakitkan. Meski demikian, love-hate relationship tidak selalu berarti hubungan tersebut tidak sehat. Perasaan kecewa atau marah merupakan bagian yang dapat muncul dalam setiap hubungan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kedua belah pihak menyelesaikan konflik dan membangun komunikasi yang baik, bukan membiarkan kebencian terus berlarut. Di media sosial, istilah love-hate relationship sering digunakan untuk menggambarkan hubungan yang penuh tarik ulur. Padahal, istilah ini lebih mengacu pada adanya dua emosi yang bertolak belakang terhadap orang yang sama. Karena itu, penting untuk memahami konteksnya dan tidak terburu-buru menyamakan love-hate relationship dengan hubungan yang toksik. Pada akhirnya, mencintai seseorang tidak berarti hubungan akan selalu dipenuhi perasaan bahagia. Sesekali merasa kesal atau marah merupakan hal yang wajar. Namun, jika konflik terus terjadi hingga menimbulkan tekanan emosional atau perilaku yang merugikan salah satu pihak, hubungan tersebut perlu dievaluasi agar tetap berjalan secara sehat.