Konten dari Pengguna

Penguatan Ekonomi Syariah Hingga Daerah Terdalam: ISEF 2026

aleynakeysha

aleynakeysha

mahasiswi Universitas Pamulang, Prodi Ekonomi Syariah

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari aleynakeysha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di acara Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, Bapak Ma'ruf Amin menyampaikan pesan yang penuh makna. Beliau menyampaikan bahwa dahulu ekonomi syariah sering dianggap kecil dan dampaknya belum terlalu dirasakan masyarakat. Lalu beliau bertanya:

"bagaimana caranya supaya ekonomi syariah ini tidak hanya "tinggal" di gedung-gedung Jakarta saja? Bagaimana ia bisa benar-benar hadir di pasar tradisional, di lingkungan pesantren, di ladang para petani, dan di tengah para pelaku UMKM di kabupaten maupun kota?"

Menurut beliau, agar hal itu terwujud, ekonomi syariah butuh "rumah" yang jelas, lembaga yang kuat, aturan yang mendukung, dan ekosistem yang hidup.

ISEF 2026. Dok.Pribadi

Empat Penguat Ekonomi Syariah

Dengan jawaban dari tantangan yang ada, Indonesia sebenarnya telah meletakkan penguat yang penting pada beberapa tahun:

  • Pertama, soal "rumah" Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah diperluas perannya, sehingga arah kebijakan menjadi lebih jelas dan terpadu.

  • Kedua, soal kekuatannya pada tahun 2021, tiga bank syariah milik BUMN resmi bergabung menjadi satu, yaitu Bank Syariah Indonesia.

  • Ketiga, dari sisi keuangan sosial syariah pada Januari 2021, Bapak Presiden Joko Widodo meluncurkan Ziswaf sebagai instrumen untuk membantu mengentaskan kemiskinan.

  • Terakhir, di bidang ekonomi halal sertifikasi halal harus dibuat semakin mudah, jangan sampai justru menjadi beban bagi usaha-usaha kecil.

Indonesia Turun Peringkat Ekonomi Syariah di 2026

Perjuangan ini memang telah membawa Indonesia masuk ke dalam jajaran tiga besar ekonomi syariah dunia pada tahun 2020-an. Namun di tahun 2026, ada hal yang perlu kita perhatikan posisi Indonesia kini berada di peringkat keempat dunia. Penurunan ini salah satunya karena Uni Emirat Arab melesat naik sangat cepat dan menyalip kita, begitu juga dengan Arab Saudi. Selain itu, beberapa sektor kita juga belum tumbuh cukup maksimal, seperti keuangan syariah, pariwisata ramah muslim, dan industri farmasi halal yang justru mengalami penurunan peringkat. Jadi meskipun produk halal dan busana muslim kita tetap kuat, kita tetap harus terus berbenah supaya bisa kembali naik ke posisi yang lebih tinggi.

Kondisi ini menjadi pr besar karena Indonesia tidak boleh meraca cukup karena hanya jadi pasar, tetapi harus terpacu untuk terus berbenah.

Aksi Daerah Untuk Kembangkan Ekonomi Syariah

Langkah maju telah diambil dan dituangkan dalam RPJMN 2025–2029. Artinya, ekonomi syariah bukan lagi program titipan, melainkan sudah menjadi mandataris perencanaan nasional yang dibawa dari pusat hingga ke daerah. Komitmen ini pun makin terlihat nyata, di mana sebanyak 27 provinsi di Indonesia telah memuat pengembangan ekonomi syariah ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD).

Langkah ini membuktikan bahwa ekonomi syariah kini benar-benar telah tumbuh berakar di tengah masyarakat bukan sekadar wacana semata, tapi juga jalan pembangunan yang dipilih untuk masa depan yang lebih adil, sejahtera, dan berkah. Dengan perencanaan yang matang dan ekosistem yang terus diperkuat, besar harapan ekonomi syariah Indonesia tak hanya tumbuh di angka, tetapi juga membawa kebaikan nyata bagi seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke.

Dari ISEF 2026 jelas harapan untuk Ekonomi Syariah agar perencanaan yang makin matang dan ekosistem yang terus diperkuat, ekonomi syariah Indonesia tidak hanya berkembang di atas kertas dan angka statistik, tapi juga membawa kebaikan serta kesejahteraan nyata bagi seluruh rakyat hingga ke pedalaman seluruh daerah.