Konten dari Pengguna

Festival Film untuk Kota Tanpa Bioskop

Alfan Amiruddin

Alfan Amiruddin

Master of International Security, Sydney Uni

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfan Amiruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelum Covid-19 terjadi, menonton bioskop adalah hal yang biasa dilakukan di Indonesia atau seluruh bagian dunia lainnya. Namun privilese tersebut tidak berlaku bagi masyarakat di kota Luang Prabang yang berada di Laos.

Sampai saat ini, hanya terdapat tiga buah bioskop untuk negara yang memiliki sekitar 7 juta jiwa tersebut. Dua bioskop berada di Ibukota yaitu Vientiane sedangkan satu lagi ada di kota Pakse. Hal ini tentu sangat kontras apabila dibandingkan dengan Indonesia di mana sampai Desember 2018 terdapat sekitar 343 bioskop.

Luang Prabang Film Festival (LPFF) adalah event tahunan yang diselenggarakan setiap bulan Desember. Festival ini dilakukan di lapangan Kantor Pos Luang Prabang yang berada di jantung kota tersebut. Lambang kegiatan LPFF berupa kursi plastik berwarna biru yang mencerminkan filosofi bahwa kegiatan ini bersifat hiburan gratis yang dapat diakses oleh semua orang terutama masyarakat Luang Prabang. Dengan sistem bioskop layar terbuka, sayangnya kegiatan ini rawan dari misbar alias gerimis bubar.

Pembukaan Festival LPFF, Foto: Mike Phetcareun

Luang Prabang kota warisan dunia UNESCO

Kota ini berada di Utara Ibukota Vientiane yang bisa diakses baik melalui jalan darat (sekitar 6-8 jam) atau jalur udara (1 jam perjalanan). Luang Prabang sendiri adalah ibukota pusat kerajaan Lan Xang yang merupakan asal usul negara Laos. Sampai saat ini kita masih bisa melihat istana tersebut yang saat ini dipergunakan sebagai museum. Selain istana, banyak juga terdapat kuil-kuil yang bersejarah di Luang Prabang yang juga bisa dikunjungi.

Bulan November-Januari adalah waktu yang nyaman untuk mengunjungi Luang Prabang karena bertepatan dengan musim dingin di Laos. Suhu rata-rata di Luang Prabang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Jakarta, namun demikian suhu musim dingin di Luang Prabang berkisar di antara 9-18 derajat celcius.

Kuil Royal Palace Luang Prabang, Foto: Shutterstock

LPFF tidak hanya festival film

LPFF memiliki dua teater utama, yaitu teater terbuka yang berada di lapangan (dapat menampung sampai 1.500 orang) serta teater tertutup (sekitar 75-100 orang). Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2010, fokus dari kegiatan LPFF tidak hanya melulu seputar pemutaran film.

Pada event ini terdapat kegiatan lain seperti workshop pelatihan film, pengumpulan dana untuk sineas lokal di Laos, bahkan kompetisi film pendek amatir. Kurator dari kegiatan ini umumnya berasal dari negara-negara Asia Tenggara yang bertugas untuk mengusulkan film dan menyeleksi film-film yang diperlombakan.

Film Indonesia di LPFF

Festival ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperkenalkan karya sineas Indonesia di Laos dan kawasan Asia Tenggara. Film-film Indonesia jelas memiliki kekuatan tersendiri baik secara sinematografi, alur cerita, dan teknologi apabila dibandingkan dengan karya dari negara lain yang berada di region yang sama.

Sampai tahun 2020, terdapat 33 film Indonesia yang telah ditayangkan dengan subtitle bahasa Laos. Terdapat banyak film yang disutradarai oleh sineas Indonesia yang namanya tidak asing lagi di antaranya Joko Anwar (A Copy of My Mind, 2016), Riri Riza (Sekolah Rimba, 2014 dan Humba Dreams, 2020), Nia Dinata (Berbagi Suami, 2010), Teddy Soeriaatmadja (Lovely Man, 2013), dan Ravi L. Bharwani (27 Steps of May, 2020).

Poster A Copy of My Mind, Foto: IMDB

A movie in time of Corona

Dengan penyebaran virus Covid-19 yang sangat cepat dan sangat menular, kebanyakan bioskop di Indonesia terpaksa di tutup. Hal yang sama juga terjadi di Laos di mana pemerintah setempat tidak menganjurkan kegiatan yang dapat mengumpulkan orang banyak.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, panitia LPFF 2020 mengambil keputusan untuk menyiarkan film secara daring. Hal tersebut menyebabkan gaung dari LPFF yang sebelumnya hanya terbatas di Laos bahkan sampai ke Indonesia. Hal ini terlihat dari akun twitter @cinemuach yang menyampaikan bahwa LPFF bisa dinikmati secara daring dan gratis (cuitan ini mendapat 492 retweet, 79 quote tweet, dan 1704 likes).

Untuk tahun 2021, diperkirakan kegiatan LPFF akan diselenggarakan secara daring. Mari kita nantikan film apa saja dari Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang akan juga ditampilkan dalam festival ini.