Konten dari Pengguna

Berkepribadian Generalis di Era Teknologi Informasi yang Menuntut Ekspertis

Alfan Nurjamil

Alfan Nurjamil

Pegiat Broadcasting dan Jurnalisme. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alfan Nurjamil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akselerasi di era teknologi informasi terasa tak kenal ampun. Ada sebuah tekanan tak tertulis yang mendorong kita untuk terus bergerak maju, di mana produktivitas dan kecepatan menjadi tolok ukur utama sekaligus menuntut seorang ekspertis. Narasi yang digaungkan di mana-mana, mulai dari seminar karir hingga nasihat keluarga, selalu sama: pilihlah satu jalan, dalami hingga ke akar, dan jadilah seorang ahli. Otak kita seolah diprogram untuk menyaring apa yang dianggap penting untuk tujuan itu, sementara rasa penasaran pada hal-hal lain kerap dipandang sebagai sebuah distraksi yang sia-sia, seakan itu sebuah kemewahan yang tidak bisa dimiliki oleh mereka yang ingin "sukses".

Pria tanggung kebingungan karena jalan sekelilingnya dipenuhi kabut (Foto dibuat dengan AI)
zoom-in-whitePerbesar
Pria tanggung kebingungan karena jalan sekelilingnya dipenuhi kabut (Foto dibuat dengan AI)

Namun, bagi sebagian jiwa tuntutan menjadi ahli di satu bidang ini justru terasa seperti sebuah labirin. Etalase industri yang memajang profesi-profesi seperti UI/UX designer, data analyst, atau content creator memang terlihat menjanjikan. Semua pintu seakan terbuka, tetapi entah kenapa terasa menyesakkan. Hasrat untuk mendalami satu bidang seringkali buyar begitu saja ketika mata melirik pesona bidang lain. Saat mulai belajar desain, dunia penulisan tiba-tiba memanggil. Ketika mencoba merangkai kata, misteri algoritma media sosial terasa lebih menggoda untuk dipecahkan. Siklus ini terus berulang, membuat setiap proses pendalaman kehilangan esensinya. Kita hanya singgah sebentar hingga merasa "cukup tahu," lalu bergegas pergi, seolah-olah terus mengejar sesuatu yang tak pernah pasti.

Perlahan, kondisi ini menjerumuskan kita pada sebuah ruang hampa yang penuh keraguan diri. Perasaan tak memiliki keahlian apa pun mulai merayap; kemampuan mengedit foto terasa dangkal, dan keahlian merangkai video tak lebih dari sekadar tempelan. Dilema ini terus bergulat di dalam batin. Satu suara menyarankan untuk berhenti dan menuntaskan satu hal, tetapi suara lain berbisik bahwa jiwa pengelana ini tak bisa diam. Ada semacam kebahagiaan tersendiri saat bisa mengetahui banyak hal, mulai dari taktik sepak bola, alunan musik lintas genre, hingga ritme komedi dalam stand-up. Ini seperti membangun sebuah rumah dengan banyak kamar; selalu ada ruang untuk dijelajahi, disesuaikan dengan suasana hati.

Keraguan ini bukan hanya soal perasaan, tapi juga menjelma menjadi tantangan nyata. Bagaimana kita merangkai portofolio atau CV ketika keahlian kita tersebar tipis di banyak bidang? Saat wawancara kerja, sulit sekali menjawab pertanyaan sederhana seperti, "Apa keahlian utamamu?" Kita tergagap, mencoba merangkai benang dari potongan-potongan kain yang berbeda warna, berharap perekrut bisa melihat sebuah pola yang bahkan kita sendiri ragukan. Di dunia yang terobsesi dengan label dan jabatan, menjadi seorang generalis seringkali berarti menjadi seseorang tanpa identitas profesional yang jelas, mengambang di antara kategori-kategori kaku yang diciptakan oleh industri.

Mungkin, kecenderungan ini bukanlah murni pilihan, melainkan juga produk zaman. Arus informasi tanpa henti dari internet telah mengubah cara kita belajar dan memproses dunia. Setiap hari, kita dibombardir dengan hal-hal baru yang menarik yang semuanya bisa dengan mudah diakses hanya dengan satu klik. Batasan antar disiplin ilmu semakin kabur, semua menu yang algoritma sediakan dilahap mentah-mentah. Bisa jadi, menjadi generalis adalah respons alami terhadap lingkungan yang begitu kaya akan stimulus; sebuah adaptasi di mana keluasan pengetahuan menjadi strategi bertahan hidup yang lebih relevan daripada kedalaman yang cenderung terasa monoton.

Fase Penerimaan

Syukurlah, di tengah kegelisahan itu, sebuah pencerahan datang dari buku karya David Epstein, Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World. Epstein secara brilian membedah bahwa dunia ini terbagi menjadi dua lingkungan belajar: "kind" (ramah) dan "wicked" (kejam). Lingkungan "kind" memiliki aturan yang jelas dan pola berulang, tempat di mana spesialisasi mendalam sangat efektif. Namun, sebagian besar masalah yang ada di dunia nyata—bisnis, inovasi, kebijakan publik—bersifat "wicked", di mana aturan mainnya terus berubah mengikuti perkembangan zaman serta dipengaruhi bermacam-macam variabel. Di sinilah para generalis bersinar. Kemampuan mereka menerapkan pelajaran dari satu bidang ke bidang lain adalah aset yang luar biasa untuk memecahkan masalah yang kompleks.

Pada akhirnya, kita bisa berdamai dengan karakter ini. Jika seorang spesialis adalah penggali sumur yang fokus mencari satu sumber air, maka seorang generalis adalah pengelana yang tugasnya memetakan lanskap. Keahliannya bukanlah kedalaman, melainkan keluasan. Kekuatannya adalah menafsirkan pesan dari multidimensi yang beragam; melihat benang merah antara strategi pelatih sepak bola dengan narasi seorang politisi, atau merasakan bagaimana ritme musik dapat memperkuat pesan visual. Kemampuan untuk menghubungkan titik-titik yang bagi orang lain tak berpola, namun bagi kepribadian generalis, ia dapat melihat suatu keterhubungan. Di dunia masa depan di mana banyak tugas teknis dan terspesialisasi akan diambil alih oleh kecerdasan buatan, kemampuan manusia yang paling berharga justru adalah kreativitas, adaptabilitas, dan kemampuan untuk melihat gambaran besar. Di dunia yang semakin terkotak-kotak, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah hanya para ahli, melainkan para penerjemah yang mampu berkelana di antara menara-menara keahlian, sehingga dapat menciptakan makna baru dari setiap perjalanan yang dilewatinya.