Mengapa Kita Makin Sulit Memilih di Era yang Serba Ada?

Pegiat Broadcasting dan Jurnalisme. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alfan Nurjamil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah Anda menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk memilih menu makan siang di aplikasi ojek online? Anda sibuk membandingkan menu, mengecek ulasan, sampai berburu voucer diskon, namun pada akhirnya justru memesan ayam geprek yang sama seperti minggu lalu.
Situasi ini sebenarnya menggelikan, tetapi juga menyedihkan. Kita sering mengeluh saat terdesak di sudut sempit dengan pilihan terbatas. Kita kerap berdalih, "Andai saja saya punya lebih banyak opsi, pasti hidup saya lebih bahagia." Kita menjadikan keterbatasan sebagai alasan paling mudah untuk memaklumi ketidakpuasan kita.
Namun ironisnya, saat hidup menyodorkan ribuan opsi di depan mata, kita justru lumpuh. Bukannya merasa bebas, kita malah terserang kecemasan. Barry Schwartz menyebut fenomena psikologis ini sebagai The Paradox of Choice. Semakin banyak pilihan yang berserakan, semakin tinggi ekspektasi kita, dan semakin besar pula ketakutan kita untuk salah melangkah.
Masalah ini nampaknya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita di era digital. Kita terbiasa disodorkan dengan begitu banyak pilihan di etalase media sosial, dan dampaknya paling terasa saat kita berbicara soal pasangan.
Mari kita mundur sejenak ke era sebelum smartphone menjajah tangan kita. Bayangkan Anda sedang duduk di kelas atau kantin kampus. Di sana, mungkin ada satu sosok yang menarik perhatian. Dia terlihat "bersinar" di mata Anda. Karena lingkup pandang Anda terbatas pada siapa yang hadir secara fisik di sana, hati Anda mudah luluh. Fokus Anda terkunci, dan dorongan untuk menjalin hubungan yang nyata tumbuh secara organik. Pilihan Anda memang terbatas, tetapi rasanya cukup.
Sekarang? Ceritanya berubah total.
Ketika kita tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang menarik di lorong kampus atau kantor, atensi itu tidak bertahan lama. Lima menit kemudian, saat layar smartphone menyala, terpampang deretan manusia "sempurna" yang interaktif. Mereka terlihat dua kali lipat lebih menarik. Algoritma menyajikan kesempurnaan visual ini terus-menerus, seolah memberikan janji manis bahwa selalu ada "yang lebih baik" di luar sana.
Tiba-tiba, sosok nyata di lorong tadi terasa biasa saja, bahkan terasa kurang.
Tanpa sadar, era digital mengubah kolam jodoh kita menjadi samudra tanpa tepi. Kita terbiasa disodorkan etalase manusia yang tak ada habisnya. Sayangnya, ini menciptakan mentalitas belanja: kita terus mencari spesifikasi terbaik, seolah sedang mencari gadget baru.
Kita menjadi ragu untuk berkomitmen. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang menghantui: "Jangan-jangan ada yang lebih baik di swipe selanjutnya?" atau "Jangan-jangan kalau saya pilih dia, saya rugi?"
Keragu-raguan ini adalah racun. Alih-alih menikmati hubungan yang ada, kita sibuk membandingkan pasangan—atau calon pasangan—kita dengan fantasi digital yang kita lihat di Instagram atau TikTok. Kita takut mengambil keputusan karena takut kehilangan potensi "yang lebih baik" di luar sana.
Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa berani memilih adalah sebuah kekuatan. Kebebasan tanpa batas ini bukanlah anugerah, melainkan beban pikiran. Terlalu lama menimbang, entah itu soal makanan atau pasangan, hanya akan menguras energi dan membunuh kebahagiaan.
Mungkin sudah saatnya kita belajar seni membatasi diri. Bukan karena kita tidak mampu mendapatkan yang lain, tetapi karena kita sadar bahwa kebahagiaan tidak datang dari banyaknya pilihan, melainkan dari kedalaman komitmen pada apa yang sudah kita pilih. Terkadang, mematikan layar dan mensyukuri "menu" atau "orang" yang ada di depan mata adalah satu-satunya cara untuk benar-benar merasa kenyang, baik secara perut maupun perasaan.
