Seni Melamun: Menjaga Pikiran Tetap Waras

Pegiat Broadcasting dan Jurnalisme. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alfan Nurjamil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baru-baru ini, saya duduk di sebuah kedai kopi, menatap kosong ke arah jalan raya yang basah sisa hujan. Tidak ada gawai di tangan, tidak ada buku yang terbuka. Hanya saya, secangkir kopi yang mulai dingin, dan pikiran yang melayang entah ke mana.
Tiba-tiba, seorang teman menepuk bahu saya dengan wajah khawatir. "Lu lagi ada masalah? Kok bengong aja dari tadi?"
Pertanyaan itu menghantam saya lebih keras dari yang seharusnya. Sejak kapan "diam" menjadi sinonim dari "sedang bermasalah"? Sejak kapan momen hening dianggap sebagai sinyal bahaya, sementara menunduk menatap layar dianggap sebagai tanda kewarasan sosial?
Standar Ganda di Era Digital
Ironis, bukan? Jika saya menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar, menggulirkan ibu jari tanpa henti di Instagram atau "mantengin" Reels yang durasinya tak lebih dari satu menit, orang-orang akan menganggap itu wajar. Itu adalah aktivitas normal.
Namun, ketika saya memilih untuk meletakkan semua itu dan membiarkan mata saya beristirahat—sekadar bengong—saya dianggap aneh. Di zaman ini, bengong seolah menjadi aktivitas purba yang sudah kita lupakan cara menikmatinya. Kita telah menormalisasi kebisingan digital dan memandang curiga pada keheningan.
Menjadi Robot dengan "Default Setting"
Tanpa sadar, kita telah mengubah diri kita menjadi mesin yang anti-jeda. Cobalah perhatikan saat kita berada di antrean kasir, menunggu lift, atau duduk di ruang tunggu dokter. Apa yang pertama kali kita lakukan saat ada celah waktu kosong, meski hanya 10 detik?
Tangan kita secara otomatis merogoh saku, mengambil ponsel, dan layar pun menyala.
Mengecek ponsel telah menjadi default setting (pengaturan bawaan) tubuh kita. Padahal, seringkali tidak ada notifikasi penting. Tidak ada email darurat. Kita hanya membuka kunci layar, menggeser menu, menutupnya lagi, lalu membukanya kembali. Itu bukan kebutuhan; itu adalah ritual kecemasan. Kita takut pada celah kosong di antara rutinitas. Kita takut ditinggal sendirian bersama pikiran kita sendiri.
Otak yang Tak Pernah Tidur
Kita memperlakukan otak kita seperti kuda pacuan yang dipaksa berlari tanpa garis finis. Setiap hari, otak kita disesaki oleh ribuan informasi yang berseliweran: berita politik, drama selebriti, diskon toko online, hingga video lucu.
Kita tidak lagi memberi ruang bagi otak untuk bernapas. Seolah-olah, membiarkan otak beristirahat—sekadar melamun—adalah sebuah dosa besar. Kita merasa bersalah jika tidak produktif atau tidak update. Padahal, justru di momen-momen "bengong" itulah kreativitas seringkali muncul. Di sanalah letak problem solving yang sebenarnya terjadi, ketika otak bawah sadar kita menyusun kepingan puzzle tanpa gangguan notifikasi.
Mengambil Kembali Hak untuk Jeda
Mungkin sudah saatnya kita mendefinisikan ulang arti Melamun.
Melamun atau bengong bukanlah tanda kemalasan, bukan pula sinyal depresi. Bengong adalah sebuah perlawanan kecil terhadap dunia yang bergerak terlalu cepat.
Bengong adalah jeda yang krusial. Ia adalah tombol refresh alami bagi jiwa yang lelah. Momen kita bisa menarik nafas lega di tengah lautan informasi yang menyesakkan.
Jadi, di kesempatan selanjutnya saat kamu mendapati diri sedang menatap langit-langit, melihat rintik hujan, atau sekadar melamun di tengah keramaian, jangan buru-buru merasa bersalah. Jangan buru-buru meraih ponsel untuk membunuh rasa bosan itu.
Nikmatilah. Biarkan pikiran Anda mengembara. Di dunia yang menuntut kita untuk selalu terhubung, mungkin hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan adalah berani untuk diam, bengong, dan sejenak tidak melakukan apa-apa.
