Dari Anak Desa Menjadi Alat Pencitraan: Sisi Gelap Kepedulian

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Alfarabi Bima Cahyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada alasan mengapa Angkong Merah terasa lebih menyakitkan daripada sekadar cerita tentang kemiskinan. Cerpen karya Muhammad Zaid Suhendra yang dimuat di Kompas ini tidak hanya memperlihatkan kehidupan seorang anak desa yang hidup dalam keterbatasan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat berubah menjadi panggung yang dipenuhi kamera, janji, dan kepentingan politik. Di tengah hiruk pikuk perhatian yang datang secara tiba-tiba, ada seorang anak bernama Locong Putrak yang perlahan kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Locong bukanlah tokoh yang luar biasa. Ia tidak digambarkan sebagai anak jenius atau sosok yang memiliki keberuntungan istimewa. Ia hanyalah anak desa yang setiap hari membantu keluarganya dengan mendorong angkong merah untuk mencari rumput. Kehidupan keluarganya sederhana, bahkan cenderung memprihatinkan. Untuk menikmati segelas teh manis pun mereka harus berhemat karena gula bukan lagi kebutuhan yang mudah dipenuhi.
Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan cerpen ini. Menurut Robert Stanton, tokoh dan peristiwa dalam karya fiksi saling berkaitan untuk membentuk makna tertentu. Tokoh bukan sekadar pelaku cerita, melainkan sarana pengarang untuk menyampaikan persoalan kehidupan yang lebih luas. Dalam Angkong Merah, Locong tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi juga menjadi representasi masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan dan sering kali berada di pinggir perhatian sosial.
Kehidupan Locong mulai berubah ketika kisahnya menarik perhatian publik. Rumahnya yang sederhana tiba-tiba ramai dikunjungi berbagai pihak. Wartawan berdatangan. Bantuan mulai mengalir. Para pejabat dan calon kepala daerah ikut hadir. Dalam waktu singkat, Locong menjadi wajah yang akrab di berbagai media.
Namun, pengarang seolah ingin mengingatkan bahwa perhatian yang datang secara mendadak belum tentu lahir dari ketulusan.
Hal itu tergambar melalui kalimat:
“Hilang viralnya maka kehidupan keluarga Locong Putrak kembali pada kehidupan nyata yang menyedihkan.”
Kalimat tersebut menjadi semacam tamparan bagi pembaca. Ada ironi yang sangat terasa. Ketika kisah Locong menjadi bahan pembicaraan, banyak orang berlomba menunjukkan kepedulian. Namun ketika perhatian masyarakat mulai berkurang, kehidupan keluarganya tetap berjalan dalam kesulitan yang sama.
Burhan Nurgiyantoro menjelaskan bahwa tema merupakan gagasan dasar yang menopang keseluruhan cerita dan mengikat seluruh unsur di dalamnya. Dalam Angkong Merah, seluruh rangkaian peristiwa mengarah pada satu tema utama, yaitu bagaimana kemiskinan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan di luar kepentingan orang miskin itu sendiri.
Kritik sosial itu semakin terasa ketika seorang calon pemimpin berkata:
“Ini adalah anak bangsa. Pada hari ini saya berkesempatan membantunya. Semoga adik Locong mendapatkan pendidikan yang bagus dan masa depan yang cerah.”
Sepintas, ucapan itu terdengar penuh kasih dan perhatian. Akan tetapi, pengarang sengaja menghadirkan adegan yang dipenuhi kamera, dokumentasi, dan sesi foto bersama. Pembaca pun mulai mempertanyakan, apakah perhatian itu benar-benar untuk Locong, atau justru untuk membangun citra politik?
Yang menarik, Angkong Merah tidak menempatkan kritik hanya pada para politisi. Cerpen ini juga mengajak pembaca melihat bagaimana masyarakat sering kali lebih mudah tersentuh oleh tampilan daripada substansi.
Dalam cerita disebutkan:
“Banyak sekali masyarakat yang terbuai tampilan lugu, manis, dan kata-kata bijak sang politikus.”
Kalimat tersebut terasa sangat dekat dengan kehidupan saat ini. Di era media sosial, potret membagikan bantuan bisa lebih cepat menyebar dibandingkan pembahasan mengenai akar persoalan kemiskinan. Yang menjadi perhatian adalah gambar yang menyentuh hati, bukan penyelesaian yang berkelanjutan.
Menurut Abrams, karya sastra merupakan cermin kehidupan yang tidak hanya menyajikan kenyataan, tetapi juga memberikan penilaian terhadap kenyataan tersebut. Karena itu, cerpen tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai media kritik terhadap kondisi sosial masyarakat. Melalui Angkong Merah, Muhammad Zaid Suhendra tampaknya sedang mengingatkan bahwa kepedulian yang dipertontonkan tidak selalu identik dengan kepedulian yang sesungguhnya.
Persoalan dalam cerpen ini ternyata tidak berhenti setelah Locong memperoleh kesempatan bersekolah. Harapan pembaca bahwa kehidupannya akan menjadi lebih baik justru dibalas dengan kenyataan yang menyedihkan. Di sekolah, Locong menjadi sasaran perundungan. Teman-temannya mengejek keadaan fisiknya, mengolok-oloknya, bahkan melakukan tindakan yang menyakitkan.
Di titik inilah kritik pengarang menjadi semakin tajam. Bantuan materi ternyata tidak otomatis menghadirkan penghormatan dan penerimaan sosial. Locong memang memperoleh kesempatan belajar, tetapi ia belum mendapatkan sesuatu yang lebih penting, yaitu penghargaan sebagai manusia.
Menurut Wellek dan Warren, sastra selalu berhubungan dengan kehidupan masyarakat karena karya sastra lahir dari pengalaman sosial manusia. Oleh sebab itu, masalah-masalah yang hadir dalam karya sastra pada hakikatnya merupakan gambaran dari persoalan yang hidup di tengah masyarakat. Pandangan tersebut terasa sangat sesuai dengan Angkong Merah. Kisah Locong mungkin hanya cerita, tetapi kenyataan serupa masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Angkong merah yang terus didorong Locong sepanjang cerita juga dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan hidupnya. Ia terus berjalan meskipun jalan yang dilaluinya penuh tanjakan. Bantuan datang dan pergi. Orang-orang silih berganti menunjukkan perhatian. Namun satu hal yang tidak berubah adalah perjuangan Locong untuk tetap bertahan hidup.
Pada akhirnya, Angkong Merah bukan hanya cerita tentang seorang anak miskin di desa. Cerpen ini merupakan kritik terhadap budaya menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Muhammad Zaid Suhendra seolah mengingatkan bahwa orang kecil tidak membutuhkan simpati yang muncul ketika kamera menyala. Mereka membutuhkan kepedulian yang tetap ada bahkan ketika lampu sorotan telah padam.
Dan mungkin, itulah bagian yang paling menyakitkan dari cerita ini. Bahwa masih banyak Locong Putrak lain di sekitar kita yang hanya dicari ketika kisah mereka mampu mendatangkan simpati, lalu perlahan dilupakan ketika perhatian publik berpindah ke cerita yang lain.
Daftar Pustaka
Abrams, M. H. A Glossary of Literary Terms. Boston: Heinle & Heinle, 1999.
Nurgiyantoro, Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2015.
Stanton, Robert. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.
Suhendra, Muhammad Zaid. “Angkong Merah.” Kompas, 2025.
Wellek, Rene dan Austin Warren. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2014.
