Ketika Kemiskinan Menjadi Panggung Politik dalam Angkong Merah

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Alfarabi Bima Cahyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada sesuatu yang terasa mengganggu saat membaca cerpen Angkong Merah. Bukan karena kisahnya dipenuhi kemiskinan atau penderitaan, melainkan karena tokoh utamanya perlahan kehilangan dirinya sendiri ketika terlalu banyak orang datang mengaku peduli.
Locong Putrak adalah anak desa yang hidup dalam keterbatasan. Hari-harinya diisi dengan menyabit rumput dan mendorong angkong merah miliknya. Kehidupan keluarganya jauh dari kata layak. Bahkan untuk menikmati segelas teh manis pun mereka harus berpikir dua kali karena gula menjadi barang mewah. Pengarang menggambarkan kondisi itu dengan sangat sederhana tanpa berusaha mengundang belas kasihan berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang membuat penderitaan Locong terasa nyata.
Di awal cerita, pembaca diperlihatkan bagaimana kehidupan keluarga Locong berjalan di tengah kekurangan yang nyaris tidak pernah selesai. Bantuan datang sesekali, tetapi tidak pernah benar-benar mengubah keadaan.
“Hilang viralnya maka kehidupan keluarga Locong Putrak kembali pada kehidupan nyata yang menyedihkan.”
Kalimat tersebut sebenarnya menjadi kunci untuk memahami keseluruhan cerpen. Kemiskinan dalam Angkong Merah bukan persoalan yang diselesaikan, melainkan persoalan yang dipertontonkan. Selama masih menarik perhatian publik, bantuan akan terus berdatangan. Namun ketika sorotan menghilang, kehidupan kembali berjalan seperti semula.
Perubahan mulai terjadi ketika Locong menjadi perhatian banyak pihak. Rumahnya didatangi pejabat, calon kepala daerah, tim media, hingga berbagai rombongan yang membawa bantuan. Sekilas, semua itu tampak sebagai bentuk kepedulian. Namun semakin jauh cerita berjalan, semakin jelas bahwa yang sedang diperlihatkan bukanlah kepedulian, melainkan pencitraan.
Hal itu tampak dalam pernyataan seorang calon pemimpin yang berkata:
“Ini adalah anak bangsa. Pada hari ini saya berkesempatan membantunya. Semoga adik Locong mendapatkan pendidikan yang bagus dan masa depan yang cerah.”
Jika kalimat itu berdiri sendiri, tentu terdengar mulia. Namun pengarang sengaja menempatkannya di tengah suasana yang dipenuhi kamera, sesi foto, dan dokumentasi media sosial. Akibatnya, pembaca mulai mempertanyakan apakah bantuan tersebut benar-benar diberikan demi Locong atau demi citra orang yang memberikannya.
Kecurigaan itu semakin kuat ketika pengarang menggambarkan adegan setelah wawancara selesai. Locong dipeluk cukup lama agar kamera memperoleh gambar terbaik. Setelah itu dilakukan sesi foto bersama dengan bantuan yang memuat wajah dan identitas para politisi.
Dalam bagian ini, Locong tidak lagi hadir sebagai anak kecil yang membutuhkan pertolongan. Ia berubah menjadi latar belakang yang sempurna untuk membangun kesan dekat dengan rakyat kecil.
Yang menarik, pengarang tidak hanya mengkritik politisi. Ia juga menyoroti masyarakat yang sering kali mudah terpesona oleh tampilan luar.
“Banyak sekali masyarakat yang terbuai tampilan lugu, manis, dan kata-kata bijak sang politikus.”
Kutipan ini terasa relevan dengan kehidupan hari ini. Di era media sosial, foto membagikan bantuan sering kali lebih cepat menyebar daripada pembahasan mengenai akar masalah kemiskinan itu sendiri. Yang terlihat adalah pelukannya, bukan solusi jangka panjangnya. Yang viral adalah gambarnya, bukan perubahan hidup orang yang dibantu.
Melalui Locong Putrak, pengarang menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat berubah menjadi komoditas politik. Semakin menyentuh kisah seseorang, semakin besar peluang kisah itu dimanfaatkan untuk menarik simpati publik.
Namun kritik dalam cerpen ini tidak berhenti pada dunia politik. Setelah Locong akhirnya memperoleh kesempatan bersekolah, pembaca berharap hidupnya akan menjadi lebih baik. Ternyata kenyataan berkata lain.
Di sekolah, Locong justru menghadapi diskriminasi dan perundungan yang semakin parah. Anak-anak mengejek fisiknya, mengucapkan kata-kata kasar, bahkan melakukan kekerasan. Ironi inilah yang membuat cerpen terasa menyakitkan. Di luar sekolah, Locong diperlakukan seperti simbol kepedulian sosial. Namun di dalam kehidupan sehari-harinya, ia tetap menjadi korban penghinaan.
Pengarang seolah ingin mengatakan bahwa bantuan materi tidak selalu menyelesaikan masalah yang lebih mendasar. Locong memang mendapatkan akses pendidikan, tetapi ia belum mendapatkan penerimaan sebagai manusia yang setara.
Bagian inilah yang membuat Angkong Merah berbeda dari cerita-cerita bertema kemiskinan pada umumnya. Cerpen ini tidak menawarkan akhir yang mengharukan atau perubahan hidup yang ajaib. Sebaliknya, pembaca diajak melihat bahwa persoalan sosial sering kali jauh lebih rumit daripada sekadar memberikan bantuan.
Angkong merah yang didorong Locong sejak awal cerita akhirnya menjadi simbol perjalanan hidupnya sendiri. Ia terus bergerak maju, tetapi jalan yang dilaluinya penuh lubang dan tanjakan. Bantuan datang dan pergi. Perhatian publik muncul lalu menghilang. Sementara Locong tetap harus menjalani hidupnya.
Pada akhirnya, Angkong Merah bukan hanya cerita tentang seorang anak miskin di desa. Cerpen ini adalah kritik terhadap kebiasaan menjadikan kemiskinan sebagai tontonan. Locong Putrak mungkin menerima banyak bantuan, tetapi yang paling ia butuhkan sebenarnya bukan sorotan kamera atau janji politik. Ia membutuhkan lingkungan yang mampu melihatnya sebagai manusia, bukan sebagai alat untuk mendapatkan simpati lima tahun sekali.
Itulah sebabnya Angkong Merah terasa begitu relevan. Karena hingga hari ini, masih banyak Locong Putrak lain yang hidup di sekitar kita muncul ketika kamera menyala, lalu dilupakan ketika sorotan lampu mulai padam.
