Konten dari Pengguna

Fenomena Ustaz Online: Antara Dakwah dan Konten

alfarisi adlan

alfarisi adlan

Mahasiswa Syariah dan Hukum UIN Jakarta

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alfarisi adlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-online-tutor-illustration_94996043.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=5fa1a46f-81c6-42dc-983e-6104d1b7ddb3&query=perbedaan+mazhabDakwah+dan+Konten
zoom-in-whitePerbesar
https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-online-tutor-illustration_94996043.htm#fromView=search&page=1&position=0&uuid=5fa1a46f-81c6-42dc-983e-6104d1b7ddb3&query=perbedaan+mazhabDakwah+dan+Konten

Perkembangan media sosial telah mengubah wajah dakwah Islam secara signifikan. Jika sebelumnya dakwah identik dengan mimbar masjid atau majelis taklim, kini ceramah keislaman dapat dengan mudah diakses melalui YouTube, Instagram, hingga TikTok. Fenomena yang kemudian muncul adalah hadirnya apa yang populer disebut sebagai ustaz online—figur pendakwah yang dikenal luas bukan hanya karena keilmuan, tetapi juga karena popularitas digital.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah kehadiran ustaz online lebih banyak berfungsi sebagai sarana dakwah yang mencerahkan, atau justru terjebak dalam logika konten yang mengejar popularitas?

Dakwah di Era Digital

Secara prinsip, Islam tidak membatasi medium dakwah. Pesan keislaman dapat disampaikan melalui berbagai sarana selama substansinya tetap terjaga. Dalam konteks ini, media sosial menjadi ruang strategis untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada generasi muda yang lekat dengan dunia digital.

Menurut laporan We Are Social dan Hootsuite (2024), masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari di media sosial. Realitas ini menjadikan platform digital sebagai ladang dakwah yang potensial. Tidak sedikit ustaz online yang berhasil menjangkau jutaan pengikut dan menghadirkan pesan keislaman dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Antara Otoritas Keilmuan dan Popularitas

Namun, problem muncul ketika popularitas menjadi tolok ukur utama otoritas keagamaan. Dalam kajian yang dimuat dalam Journal of Religion, Media and Digital Culture, disebutkan bahwa era digital telah menggeser otoritas keagamaan dari basis keilmuan menuju basis visibilitas. Siapa yang paling sering muncul di linimasa, dialah yang dianggap paling berpengaruh.

Kondisi ini berpotensi melahirkan dakwah yang dangkal, parsial, dan sensasional. Demi kebutuhan algoritma, sebagian konten dakwah dikemas secara provokatif, memotong konteks, bahkan memicu polemik agar mendapatkan interaksi tinggi. Akibatnya, pesan agama kerap kehilangan kedalaman dan kehati-hatian ilmiah.

Dakwah atau Sekadar Konten?

https://www.freepik.com/free-vector/hand-drawn-black-teacher-clipart-illustration_94998309.htm

Dikutip dari Kompas.com; Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengingatkan pentingnya etika dakwah di media sosial agar tidak menimbulkan keresahan dan perpecahan di tengah umat. Dakwah, menurut MUI, harus mengedepankan hikmah, keteladanan, dan persatuan, bukan sekadar mengejar viralitas.

Ulama klasik telah memberi teladan bahwa dakwah tidak hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga soal adab, tanggung jawab, dan kejujuran ilmiah. Imam Malik bin Anas, misalnya, dikenal sangat berhati-hati dalam menyampaikan fatwa, bahkan enggan menjawab pertanyaan yang belum dikuasainya secara mendalam.

Tantangan bagi Umat Islam

Bagi umat Islam sebagai audiens, fenomena ustaz online menuntut sikap kritis. Tidak semua konten yang berlabel dakwah memiliki landasan keilmuan yang kuat. Literasi keagamaan digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terjebak pada narasi agama yang simplistis atau provokatif.

Di sisi lain, para pendakwah digital juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga substansi dakwah. Popularitas semestinya dijadikan sarana, bukan tujuan. Media sosial hanyalah alat; nilai dakwah tetap terletak pada keilmuan, keikhlasan, dan kemaslahatan umat.