Konten dari Pengguna

Persediaan (Inventories): Fondasi Penting dalam Pengantar Akuntansi 2

Muhammad Salman Alfarizi

Muhammad Salman Alfarizi

Mahasiswa Akuntansi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ketertarikan pada ekonomi, sains, serta pengembangan pengetahuan dan pembelajaran akuntansi. saya tertarik menyederhanakan konsep-konsep akuntansi agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Salman Alfarizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

1. Klasifikasi persediaan

Saat menjalankan bisnis apapun, tentu diperlukan sebuah persediaan agar operasional tetap berjalan. Dalam dunia akuntansi, sebuah persediaan dapat dibedakan berdasarkan jenis perusahaannya. Terdapat 3 jenis perusahaan yang umum dikenal yaitu merchandising (perusahaan dagang), manufacturing (perusahaan produksi/pabrik), dan service (perusahaan jasa/layanan). Dari masing masing perusahaan tersebut, persediaan yang dimiliki tentu berbeda beda, untuk lebih jelasnya mari kita bahas satu persatu:

  1. Merchandising (perusahaan dagang)

Ilustrasi aktivitas penjualan pada perusahaan dagang berupa supermarket PT Sigma Skibidi. (Sumber: Ilustrasi AI, diolah penulis)

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang menjual sebuah produk kepada pembelinya, namun produk yang dijual bukan merupakan buatan sendiri melainkan membeli dari pihak lain. Contoh perusahaan dagang yang paling sering kita lihat adalah supermarket/minimarket. Dalam supermarket banyak sekali produk yang dijual seperti produk kalengan, daging, snack, dsb. Barang barang yang dijual tersebut dan termasuk stok yang ada di gudang, bagi sebuah supermarket itu adalah persediaan. Karena tanpa adanya persediaan tersebut, mereka tidak dapat menjalankan bisnisnya. Oleh karena itu, perusahaan dagang hanya memiliki 1 jenis persediaan yaitu merchandise inventory (barang yang dijual termasuk stok yang ada di gudang).

  1. Manufacturing (perusahaan produksi)

Ilustrasi aktivitas produksi pada perusahaan manufaktur roti PT Sigma Skibidi. (Sumber: Ilustrasi AI, diolah penulis)

Perusahaan manufaktur adalah perusahaan yang memproduksi/mengolah bahan mentah menjadi barang/produk jadi yang siap dijual kepada pembeli. Dalam perusahaan manufaktur terdapat 3 jenis persediaan, yaitu:

  • Raw material (bahan mentah) adalah bahan dasar atau material mentah yang akan digunakan untuk proses produksi, tetapi bahan tersebut masih belum masuk ke proses produksi (masih di gudang atau tempat penyimpanan). Misalnya untuk membuat roti bahannya ada tepung, ragi, selai, dsb.

  • Work in process (produk dalam proses) adalah bahan mentah yang sudah masuk proses produksi dan sudah setengah jadi. Contohnya pada produksi roti adalah bahan bahan mentah tadi seperti tepung dan ragi sudah disatukan sehingga membentuk adonan, namun adonan tersebut belum dipanggang sehingga masih setengah jadi.

  • Finished goods (barang jadi) adalah barang yang telah melewati proses produksi dan sudah jadi/siap, sehingga dapat dijual kepada pembeli. Contohnya adalah roti yang sudah dipanggang atau siap saji dan siap untuk dijual kepada pembeli.

  1. Service (perusahaan jasa)

Ilustrasi aktivitas akuntansi pada perusahaan jasa PT Sigma Skibidi. (Sumber: Ilustrasi AI, diolah oleh penulis).

Perusahaan jasa adalah sebuah perusahaan yang menjual jasa atau layanan sebagai produknya, contohnya seperti konsultan, bengkel, salon, dsb. Karena perusahaan menjual jasa, maka pada umumnya syang memiliki inventory, contohnya salon yang menjual hair tonic, pomade, atau produk kesehatan rambut lainnya. Produk produk tersebut dikategorikan sebagai persediaan, tetapi fokus usahanya tetap berupa jasa, sehingga persediaan tersebut hanya sebagai usaha tambahan. Contoh lainnya adalah di kantor konsultan, ada beberapa kantor yang menganggap ATK seperti kertas, pulpen, pensil sebagai persediaan demi mencegah penyalahgunaan.

2. Menentukan kepemilikan barang

Dalam menentukan kepemilikan atas barang, maka perlu melihat beberapa kondisi berikut:

  1. Barang dalam pengiriman

Ilustrasi alur pengiriman barang pada FOB Shipping Point dan FOB Destination.(Sumber: Ilustrasi AI/Gemini, diolah penulis)

Ketika sebuah perusahaan membeli barang dan pada saat akhir periode akuntansi barang tersebut belum sampai barangnya, maka perusahaan perlu menentukan kepemilikan barang tersebut. terdapat 2 aturan yang dapat digunakan untuk menentukan kepemilikan barang, yaitu:

  • Free On Board (FOB) Shipping point. Sesuai dengan namanya yaitu shipping point, penjual barang melepaskan hak kepemilikan atas barang yang dijual tersebut kepada pembeli saat penjual membawa barangnya ke tempat jasa pengiriman, sehingga biaya pengiriman ditanggung oleh pembeli.

  • Free On Board (FOB) Destination. Sama halnya dengan shipping point, nama destination memiliki artinya sendiri. Penjual melepas hak kepemilikan atas barang yang dijualnya kepada pembeli pada saat barang tersebut sampai di tempat pembeli, sehingga biaya pengiriman ditanggung oleh penjual.

  1. Barang konsinyasi

Ilustrasi sistem konsinyasi antara pemilik barang dan penjual titipan.(Sumber: Ilustrasi AI/Gemini, diolah penulis)

Barang konsinyasi adalah barang yang dititipkan pemilik kepada pihak lain untuk dijual kepada pembeli dan pihak yang menjual akan mendapat upah sesuai dengan perjanjian yang berlaku, contohnya adalah ketika pembuat donat menitipkan donatnya ke warung warung kelontong. Penjual yang dititipkan barang tidak mengakui hak kepemilikan atas barang tersebut.

3. Menentukan HPP dan jumlah persediaan

Persediaan dicatat berdasarkan harga perolehannya. Harga perolehan adalah semua biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh persediaan tersebut sampai siap untuk dijual, atau mudahnya harga perolehan adalah harga belinya. Terdapat beberapa metode untuk menentukan HPP persediaan, yaitu:

  1. Identifikasi Spesifik

Ilustrasi metode Specific Identification pada persediaan showroom mobil.(Sumber: Ilustrasi AI/Gemini, diolah penulis)

Ketika perusahaan dapat mengidentifikasi persediaan yang terjual dan jumlah akhir dari persediaan, maka dapat menggunakan metode ini. Contoh mudah perusahaan yang dapat menggunakan metode ini adalah showroom mobil, misal pada awal periode pemilik membeli 3 mobil A, B, dan C dengan masing masing harga perolehannya adalah 100 juta, 200 juta, dan 300 juta. Pada akhir periode tercatat bahwa mobil A dan C terjual, maka dari itu pemilik dapat menentukan Cost Of Goods Sold (COGS) atau Harga Pokok Penjualan (HPP) dengan cara menjumlahkan harga perolehan dari mobil tersebut, yaitu 100 juta + 300 juta = 400 juta. Sehingga pada akhir periode memiliki persediaan akhir sebesar 200 juta dari mobil yang belum terjual tersebut.

  1. Asumsi Aliran Biaya

Ilustrasi asumsi aliran biaya persediaan FIFO dan Average Cost dalam akuntansi.(Sumber: Ilustrasi AI/Gemini, diolah penulis)

Karena tidak semua perusahaan dapat selalu mengidentifikasi persediaanya, maka terdapat metode lain yaitu asumsi aliran biaya. Metode ini berbeda dengan identifikasi spesifik karena mengasumsikan aliran biaya yang mungkin tidak terkait dengan aliran fisik barang. Asumsi ini biasanya lebih mudah jika perusahaan menggunakan sistem pencatatan periodik, namun perpetual juga dapat menggunakan asumsi ini. Ada dua metode aliran biaya yang diasumsikan:

  • First In-First Out (FIFO)

Metode ini mengasumsikan bahwa barang yang pertama kali dibeli adalah barang yang pertama kali dijual. Oleh karena itu, biaya barang yang dibeli paling awal adalah yang pertama kali diakui dalam menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP). Berikut contohnya:

Tabel data pembelian persediaan selama periode berjalan.(Sumber: Data diolah penulis)

Ketika ada penjualan maka barang pertama yang terjual adalah baramg dari 1 Januari. Asumsikan terjual 40 barang, maka alurnya adalah sebagai berikut:

 10 unit dari tanggal 1 Januari (10 x Rp 3.000)

 20 unit dari tanggal 4 Mei (20 x Rp 4.000)

 10 unit dari tanggal 28 Okt (10 x Rp 5.000)

Dari alur tersebut kita dapat menentukan HPP-nya, yaitu 30.000 + 80.000 + 50.000 = 160.000. Maka pada akhir periode perusahaan memiliki sisa persediaan sebanyak 60.

Tabel penghitungan persediaan akhir. (Sumber: Data diolah penulis)
Tabel pembuktian penghitungan HPP. (Sumber: Data diolah penulis)
  • Average Cost (Biaya rata rata)

Dalam metode ini diasumsikan bahwa barang-barang tersebut memiliki sifat yang serupa. Berikut contohnya:

Dengan data pembelian dan penjualan yang sama, maka perbedaan besar terdapat dalam menentukan persediaan akhir.

Tabel penghitungan biaya rata rata tertimbang, persediaan akhir, dan HPP. (Sumber: Data diolah penulis)

Daftar Pustaka & Referensi:

  • Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., & Kieso, D. E. (2019). Financial accounting with international financial reporting standards (4th ed.). John Wiley & Sons, Inc.

  • Penjelasan dosen pengampu mata kuliah.

Muhammad Salman Alfarizi

Mahasiswa (S1) Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta