Konten dari Pengguna

Urgensi Literasi Keuangan

Muhammad Salman Alfarizi

Muhammad Salman Alfarizi

Mahasiswa Akuntansi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ketertarikan pada ekonomi, sains, serta pengembangan pengetahuan dan pembelajaran akuntansi. saya tertarik menyederhanakan konsep-konsep akuntansi agar lebih mudah dipahami oleh pembaca.

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Salman Alfarizi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi FoMO (Sumber: https://pixabay.com/id/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi FoMO (Sumber: https://pixabay.com/id/)

Gaya hidup FoMO atau Fear of Missing Out makin marak terjadi dalam kehidupan masyarakat terutama pada kalangan anak muda. [1]FoMO adalah rasa takut merasa “tertinggal” karena tidak mengikuti aktivitas tertentu yang sedang tren. [2]Penyebab FoMO sangat beragam di antaranya karena penggunaan gadget yang berlebih dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Barang barang unik yang lucu dan juga tempat tempat nongkrong yang unik sering kali membuat pengguna media sosial merasa harus ikut serta agar mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Sikap ini dapat berdampak negatif dalam kehidupan, salah satunya adalah memengaruhi kondisi finansial atau boros. [3]Dampak dari kehidupan yang boros sangat banyak seperti terjadi krisis keuangan, tidak bisa menabung, hutang dan tagihan menumpuk, tidak memilik dana darurat, dll. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mencegah perilaku boros? Salah satu hal yang paling mudah dalam mencegah perilaku boros adalah dengan mempelajari Literasi Keuangan.

Apa Itu Literasi Keuangan?

Ilustrasi Literasi Keuangan (Sumber:https://pixabay.com/id/)

Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 Tahun 2023 tentang Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Di Sektor Jasa Keuangan Bagi Konsumen dan Masyarakat pada pasal 1 ayat 6 disebutkan bahwa Literasi Keuangan adalah pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), keyakinan (confidence) yang memengaruhi sikap (attitude) dan perilaku keuangan (behavior) seseorang untuk meningkatkan kualitas pengambilan Keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.

Pentingnya Edukasi Literasi Keuangan

Ilustrasi Edukasi Keuangan (Sumber:https://pixabay.com/id/)

[4]Berdasarkan siaran pers bersama yang dilakukan oleh OJK dan BPS menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan penduduk Indonesia tahun 2024 sebesar 65,43%. Angka tersebut memang cukup tinggi, namun apabila dibandingkan dengan banyaknya jumlah penduduk yang ada di Indonesia angka tersebut bisa dibilang masih rendah. Baik orang dewasa maupun anak-anak semuanya harus mempelajari literasi keuangan, [5]Berikut alasannya:

1. Pembentukan karakter seseorang dalam mengatur keuangan;

2. Dapat membantu pengelolaan keuangan dengan bijak;

3. Terhindar dari penipuan yang menggiurkan;

4. Upaya mengasah strategi keuangan agar lebih maksimal;

5. Menjadi pedoman untuk menjaga stabilitas keuangan.

Manfaat Literasi Keuangan

Ilustrasi Manfaat Literasi Keuangan (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/)

[6]Bagi Masyarakat, literasi keuangan memiliki beberapa manfaat di antaranya:

1. Mampu memilih dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai kebutuhan;

2. Memiliki kemampuan dalam melakukan perencanaan keuangan yang lebih baik;

3. Mampu bertanggung jawab pada Keputusan keuangan yang diambil;

4. Terhindar dari aktivitas investasi pada instrumen keuangan yang tidak jelas;

5. Memiliki Tabungan simpanan untuk berbagai pendanaan[7];

6. Terhindar dari utang.

Tips Pengelolaan Uang Untuk Anak Muda

Ilustrasi Tips Kelola Uang (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/)

Baik anak muda maupun orang dewasa semuanya harus bisa mengelola keuangan, [8]Berikut tipsnya:

1. Identifikasi Kebutuhan atau Keinginan

Kebutuhan adalah sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita seperti buku Pelajaran, makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Sedangkan keinginan adalah sesuatu yang kita inginkan tetapi tidak selalu kita butuhkan seperti makan di cafe populer, beli hp baru, atau liburan ke Bali. Maka dari itu kita harus pertimbangkan Kembali apakah itu kebutuhan atau keinginan, jika hanya keinginan maka kita harus pertimbangkan kembali apakah kita membutuhkannya dan apakah memiliki cukup uang.

2. Anggaran

Membuat anggaran sangat penting untuk memastikan uang yang digunakan sesuai kebutuhan. Untuk membuat anggaran bisa memulai dengan mencatat pengeluaran yang dilakukan dalam sebulan kemudian tentukan jumlah uang yang dialokasikan untuk setiap kategori pengeluaran.

3. Menabung

Menabung adalah menyimpan uang saat ini untuk keperluan yang lebih penting di masa depan. Mulailah menabung sedari dini, sederhana saja dengan cara menyisihkan uang yang kita punya walaupun jumlahnya sedikit.

4. Investasi

Investasi itu seperti menanam pohon, kita menanam benih dan merawatnya sehingga pada akhirnya kita memanen buah yang banyak. Investasi dapat dimulai pada saat remaja, dengan kita berinvestasi maka dapat membangun kekayaan jangka panjang dan mencapai tujuan keuangan.

5. Hindari Hutang

Hutang itu ibarat tikus, jika dibiarkan beranak pinak dapat mengacaukan rumah. Hindari berhutang apalagi untuk hal hal yang tidak dibutuhkan.

Jadi kita sebagai anak muda harus menghindari yang namanya sikap FoMo, karena dapat mengganggu stabilitas ekonomi pribadi kita atau boros. Maka dari itu edukasi literasi keuangan menjadi satu buah urgensi yang dihadapi pemerintah untuk masyarakat khususnya anak anak muda agar lebih bijak dalam berpikir dan bertidak sebelum menggunakan uangnya untuk hal hal FoMO yang tidak penting.

Muhammad Salman Alfarizi, Mahasiswa (S1) Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.