Seikatsu Kaizen: Kunci Sukses Di Balik Reformasi Pola Hidup Jepang

Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Alfia Sani Fatikhunni'mah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jepang merupakan negara yang terkenal dengan kehidupannya yang teratur, teknologinya yang canggih dan kaya akan warisan budayanya. Di balik kesuksesannya, pemerintah Jepang menerapkan Seikatsu Kaizen untuk mereformasi pola hidup masyarakatnya. Seikatsu Kaizen adalah sebuah filosofi yang telah menjadi landasan bagi reformasi pola hidup masyarakat Jepang. Secara harfiah, Seikatsu Kaizen berarti “perbaikan kehidupan sehari-hari”. Seikatsu kaizen bukan hanya sekedar metode sementara tetapi juga menciptakan landasan kuat dan transformasi yang kokoh bagi pola hidup masyarakat Jepang yang telah diterapkan sejak zaman Meiji dan terus berlanjut hingga saat ini.
Pengertian Seikatsu Kaizen
Seikatsu kaizen merupakan konsep yang sangat penting dalam budaya Jepang, yang menekankan pada pentingnya melakukan perbaikan terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa Jepang, kata “Seikatsu” sendiri berarti “kehidupan", sedangkan “Kaizen” adalah istilah yang merujuk pada konsep perbaikan berkelanjutan atau perbaikan terus-menerus. Konsep ini bukan hanya sekedar mencapai kesempurnaan dalam satu langkah besar, tetapi lebih fokus pada perubahan kecil yang berkelanjutan untuk mencapai perbaikan yang signifikan dalam jangka panjang. Jepang telah berhasil menerapkan konsep Seikatsu Kaizen dengan mereformasi pola hidup masyarakatnya.
Dalam menerapkan konsep Seikatsu Kaizen, negara Jepang melalui proses yang panjang selama berabad-abad untuk terus memperbaiki pola hidup masyarakatnya. Jepang telah berhasil membuktikan bahwa dengan reformasi pola hidup dapat membuat suatu negara menjadi maju. Seikatsu Kaizen mulai diterapkan di Jepang sejak tahun 1860-an. Berikut adalah beberapa proses jangka panjang yang dilakukan oleh pemerintah Jepang untuk menerapkan konsep Seikatsu Kaizen guna mereformasi pola hidup masyarakat Jepang.
1. Reformasi Tradisi yang Tidak Sesuai dengan Standar Modern
Pada tahun 1868, pemerintah Jepang dibawah kepemimpinan Kekaisaran Meiji mengumumkan filosofi negara baru. Filosofi ini berisi tentang seluruh masyarakat terlibat dalam pengambilan keputusan, seluruh masyarakat berpartisipasi secara aktif dalam tugas kenegaraan dan mengejar cita-citanya sendiri, membuang tradisi lama yang sudah ketinggalan zaman dan mengejar ilmu pengetahuan untuk kepentingan negara. Secara bertahap pemerintah Jepang menerapkan filososi negara yang baru dikeluarkan. Langkah pertama yang dilakukan oleh pemerintah Jepang adalah mereformasi tradisi kuno yang yang tidak sesuai dengan standar modern seperti larangan telanjang di depan umum dan himbauan untuk tidak mabuk-mabukan.
Dalam upaya melarang telanjang di depan umum, pemerintah Jepang mengeluarkan dua UU pada tahun 1871 dan tahun 1872, yang melarang pria dan wanita mandi bersama di pemandian umum dan melarang telanjang di depan umum. Masyarakat Jepang memiliki kebiasaan minum sake saat festival dan upacara keagamaan. Banyak misionaris Eropa yang datang pada tahun 1880 dengan membawa ajaran moral Kristen dan Puritanisme. Upaya ini didukung oleh pemerintah karena mengonsumsi alkohol menyebabkan pemborosan, penurunan produktivitas, dan menimbulkan konflik sosial.
2. Memeperbaiki Pola Asupan Gizi
Pemerintah Jepang menyadari bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia adalah karena kurangnya asupan gizi, untuk mengatasinya pemerintah Jepang mulai melakukan perbaikan pola asupan gizi. Sejak masuknya agama Buddha pada abad ke-6, ajaran Ahimsa (dilarang membunuh) menyebar di kalangan penguasa dan bangswan, yang membuat masyarakat tidak berani memakan daging hewan. Pada pertengahan abad ke-19 ketika orang Barat datang ke Jepang pada saat itu masyarakat Jepang belum ada yang memakan daging sapi ataupun daging babi karena ajaran Ahimsa tersebut. Pemerintah Jepang menyadari bahwa dengan mengonsumsi daging bisa memperbaiki pola asupan gizi, maka mereka menghimbau rakyat agar mengonsumsi daging untuk memperbaiki pola asupan gizi. Untuk meyakinkan rakyat agar mau memakan daging sapi seperti orang Barat, Kaisar Meiji memberi contoh dengan mengonsumsi daging sapi. Kemudian, rakyat dan masyarakat kelas menengah atas mulai mengonsumsi daging. Masyarakat kelas menengah atas menganggap bahwa makan daging sapi sebagai simbol kesopanan dan memiliki adab. Menu makan daging dan minum susu mulai diterapkan sejak tahun 1870. Kemudian, pada masa pasca perang, yaitu tahun 1948, pemerintah Jepang mengeluarkan UU Puskemas, yang mengatur bahwa setiap Puskesmas menempatkan seorang ahli gizi. Ahli gizi bertugas memberikan penyuluhan tentang perbaikan gizi. Pada tahun 1955, kementerian kesehatan membentuk Asosiasi untuk Meningkatkan Kualitas Konsumsi. Organisasi ini masih aktif hingga sekarang.
3. Reformasi Pola Hidup Melalui Pendidikan
Pemerintah Jepang memberlakukan peraturan pendidikan moral, disiplin, dan ketepatan waktu pada anak-anak sekolah dasar sebagai bagian dari undang-undang reformasi pola hidup. Hal inilah yang menjadi cikal bakal negara Jepang dikenal sebagai negara yang disiplin dan tepat waktu. Setelah kekalahan Jepang dalam perang, pemerintah Jepang menerapkan 'Educational Policy for the Construction of a New Japan' (Kebijakan Pendidikan untuk Rekonstruksi Nasional) yang menekankan bahwa pentingnya pendidikan untuk generasi muda dengan keterampilan berpikir kritis, bahwa program pelatihan bagi guru sangat penting untuk tercapainya misi pendidikan guna mencapai tujuan dalam rekonstruki Jepang pasca perang. Pada tahun 1947 pemerintah Jepang merevisi UU disahkan Undang-undang Pendidikan (Fundamental Law of Education) yang menyantumkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membina warga negara yang mampu berpikir rasional, rajin, bertanggung jawab dan mencangkup UU Pendidikan Luar Sekolah. Kemudian pada tahun 1950 disahkan Undang-undang Perpustakaan, dan pada tahun 1951 disahkan Undang-undang Museum.
4. Kampanye Pola Hidup Modern
Ketika perang sedang berkecamuk di Eropa pada tahun 1910, Jepang dan Amerika memanfaakan kesempatan ini untuk mengambil alih pasar produk di Asia. Sebelum perang berakhir pada tahun 1918, produksi industri melebihi produksi pertanian. Hal inilah yang membuat Jepang beralih dari negara agraria menjadi negara industri. Industrialisasi di Jepang sendiri membawa dampak dan perubahan gaya hidup. Karena ketidakmampuan daerah perkotaan untuk beroprasi sendiri, pembelian semua barang yang diperlukan telah menjadi sebua kebutuhan, sehingga menyebabkan peningkatan pendapatan berbasis uang tunai. Pada saat yang sama, hanya sedikit pekerja yang berpendidikan sekolah menengah atas di ektor industri yang mendapatkan pekerjaan dengan upah layah karena produktivitas yang rendah. Namun karena sebagian besar penduduk kota terdiri dari karyawan dan buruh atau PNS, kehidupannya semakin sulit karena laju inflasi yang jauh melampaui presentase kenaikan gaji.
5. Kampanye Menabung dan Hidup Hemat
Setelah kekalahan Jepang dalam perang menyebabkan sistem produksi dan distribusi tidak teratur, sehingga menyebabkan hiperinflansi di Jepang. Rakyat-rakyat berbelanja dan menimbun barang kebutuhan pokok sehingga menyebabkan inflansi. Untuk menekan laju inflasi, pemerintah Jepang menghimbau kepada rakyat agar rajin bekerja, hidup hemat dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk menabung. Gubernur Ichida Hisato dari Bank Sentral Jepang menggunakan tabungan sebagai sarana untuk mencegah inflasi yang terjadi di Jepang saat pasca perang. Sejak tahun 1949, perekonomian Jepang mulai mengalami pertumbuhan. Pada tahun 1952, Kementerian Keuangan Jepang menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Jepang mengalami masa kebangkitan ekonomi pada akhir tahun 1950-an. Pertumbuhan ekonomi Jepang menjadi semakin bergantung pada ekspor. Pemerintah terus berupaya menghimbau rakyat agar tetap hidup hemat dan menabung untuk memberikan suntikan modal guna meningkatkan produktivitas dan daya saing di pasar internaional. Pemerintah memanfaatkan media cetak maupun media elektronik untuk mempromosikan pola hidup hemat dan pentingnya menabung.
Seikatsu Kaizen telah menjadi salah satu rahasia di balik suksesnya reformasi pola hidup Jepang. Dengan melakukan beberapa perubahan kecil yang berkelanjutan, masyarakat Jepang telah mampu menghadapi tantangan dengan sikap yang terbuka dan fleksibel. Hal ini terbukti dengan negara Jepang yang telah menerapkan konsep Seikatsu Kaizen sejak ratusan tahun lalu, memakan waktu yang cukup lama dan terus mengalami perubahan sedikit demi sedikit hingga berhasil menjadi negara maju. Konsep ini tidak hanya relevan bagi masyarakat Jepang tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi bagi individu di seluruh dunia yang berupaya meningkatkan kualitas hidup melalui perbaikan terus-menerus.
