Konten dari Pengguna

Clash Of Culture dalam Novel Salah Asuhan Karya Abdoel Moeis

ALFIANA FIRAZMA

ALFIANA FIRAZMA

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Asal Provinsi Riau, Kab. Rokan Hulu, Pasir Pengaraian.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ALFIANA FIRAZMA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

COVER NOVEL SALAH ASUHAN, Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
COVER NOVEL SALAH ASUHAN, Dokumen Pribadi

Judul Buku: Salah Asuhan

Penulis: Abdoel Moeis

Penerbit: PT Balai Pustaka(Persero) Jalan Gunung Sahari Raya, No.4 Jakarta

Cetakan: 39

Halaman: 273

Genre: Fiksi

ISBN: 978-979-407-064-2

Novel ini mengulas tentang persoalan adat dan perkawinan campur antarbangsa. Penelitian ini akan menganalisis dan mendeskripsikan tradisi dan budaya yang ada pada Hanafi sebagai tokoh utama dalam Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Unsur instrinsik dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis memiliki tema yang luas mengenai pertentangan antara budaya Timur dan budaya Barat, sehingga bermunculan konflik yang berkaitan dengan nilai-nilai tradisi dan modern. Penulis dalam artikel bacaan ini mengangkat perihal Clash of Culture atau benturan budaya yang mendominasi dalam novel Salah Asuhan. Benturan antara kebudayaan Timur dan kebudayaan Barat diperlihatkan dengan cukup jelas, dan benturan kebudayaan ini bisa dianalisis dari keseharian antar tokoh dalam Salah Asuhan.

Ada tujuh unsur kebudayaan di dunia yang dikenal dengan istilah cultural universals, yakni sistem bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi dan kesenian. Unsur-unsur kebudayaan tersebut bisa dianalisis dalam novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis dan bisa dianalisis pula bagaimana benturan-benturan antara kebudayaan Barat dan kebudayaan Timur terjadi.

Abdoel Moeis dan Salah Asuhan

Abdoel Moeis adalah salah satu sastrawan angkatan Balai Pusaka. Novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan Balai Pustaka ini adalah “novel Sumatera”, dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya. Hal ini tergambar dengan jelas dalam Salah Asuhan yang mengangkat perihal Minang. Dimulai dari kebudayaan minang, adat istiadat minang, dan juga salah satu latar tempat dalam novel ini adalah di Sumatera Barat. Salah Asuhan menceritakan tentang Hanafi selaku tokoh utama, seorang bumiputera yang kebarat-baratan karena lama menempuh pendidikan di Betawi dan tinggal dengan bangsa Eropa.

Selain itu, tokoh Hanafi juga diceritakan mencintai wanita bangsa Barat, menjunjung tinggi budaya Barat serta tidak mau mengakui diri sebagai bumiputera. Bahkan tokoh Hanafi ini sempat meminta persamaan kedudukan bangsa Eropa. Akibat lama mendapat pengajaran dan tinggal dengan bangsa Barat, Hanafi menjunjung tinggi adat Eropa atau adat Barat, sehingga Hanafi kerap berselisih paham dengan sang Ibunda yang merupakan orang melayu totok. Benturan kebudayaan dalam cerita ini akan penulis jadikan pokok bahasan utama laporan yang penulis susun. Ibunda Hanafi merupakan representasi dari pemegang kebudayaan Timur, sedangkan Hanafi merupakan representasi dari pemegang kebudayaan barat .