Entertainment
·
20 Januari 2021 18:10

Kisah Inspiratif Seorang Panutan Umat Islam

Konten ini diproduksi oleh Alfida Rahma
Kisah Inspiratif Seorang Panutan Umat Islam (238752)
Sampul Buku
Identitas Buku
Judul : Buya Hamka Berkisah Tentang Nabi Muhammad Saw
ADVERTISEMENT
Penulis : Mohammad Saribi
Penerbit : Alif Republika, Jakarta
Cetakan : Pertama, Februari 2020
Tebal : vi + 282 halaman
ISBN : 978-602-51829-4-5
Buku yang ditulis oleh Mohammad Saribi ini merupakan buku kedua setelah kisah nabi dan rasul yang menceritakan kisah Nabi Adam hingga Nabi Isa. Sama halnya dengan buku pertama, pada kisah Nabi Muhammad ini juga dikisahkan oleh Alm. Buya Hamka kepada penulis.
Buku ini bukan semata-mata buku kedua yang ditulis oleh Mohammad Saribi. Sudah banyak cerpen, puisi, dan cerita anak-anak yang telah ditulis. Beliau juga pernah menjadi redaktur surat kabar dan majalah. Salah satunya adalah majalah anak-anak Si Kuncung.
ADVERTISEMENT
Pengalaman penulis di dunia sastra dan budaya di Indonesia telah berjalan lama. Karya-karyanya banyak dimuat di media massa sejak tahun 1950-an. Kurang lebih sudah 70 tahun penulis berkecimpung pada dunia sastra di Indonesia. Bahkan, hingga saat ini penulis masih aktif menulis.
Penulis membawakan cerita dengan kesederhanaan bahasa, tanpa mengurangi kemurnian cerita aslinya. Tema yang diambil dari kebanyakan buku yang ditulisnya mengusung tema Islam. Seperti halnya buku ini, meriwayatkan kisah seorang Nabi Muhammad Saw. Tidak hanya mengisahkan persoalan Nabi Muhammad dalam menyebarkan agama Islam, tetapi juga sebelum Nabi Muhammad Saw menjadi seorang nabi. Sebelum Nabi Muhammad lahir
ADVERTISEMENT
Peristiwa-peristiwa sebelum Nabi Muhammad lahir diceritakan pada buku ini. Seperti asal muasal dinamakan tahun gajah. Sedikit cerita, Abraha yang saat itu menjabat sebagai gubernur negeri Habsyi berusaha untuk menghancurkan Kakbah. Usaha untuk menghancurkan Kakbah disebabkan banyak orang yang berziarah ke Makkah daripada ke Habsyi, negerinya. Namun, usahanya gagal. Ketika Abraha, pasukan gajah, dan prajurit memasuki kota Mekkah, tiba-tiba angin bertiup kencang. Angin pun berubah menjadi badai. Topan menggila. (hal. 8) Dari langit, datang ribuan burung kecil menutupi langit, burung-burung mengacaukan pasukan Abraha hingga pada akhirnya semua mati tak terkecuali.
Peristiwa musnahnya Abraha dan pasukan gajahnya melahirkan sebuah penamaan tahun. Tahun Gajah, itu lah namanya. Menariknya, penulis memberi suatu gambaran pasukan gajah yang sedang diserang oleh burung-burung. Sehingga ketika pembaca membaca bagian ini, dapat melihat gambaran kejadiaan pada saat itu.
ADVERTISEMENT
Sangat bersyukur bila kedua orang tua masih menemani hingga usia dewasa ini. Namun, tidak dengan Nabi Muhammad Saw. Ketika Aminah mengandung Nabi Muhammad Saw pada usia dua bulan, suaminya yaitu Abdullah meninggal dunia di perjalanan pulang dari Yatsrib menuju Makkah. Duka yang dalam meliputi keluarga Abdul Muthalib. (hal.13) Sejak ayah Nabi Muhammad Saw meninggal dunia, Aminah tinggal bersama-sama Abdul Muthalib.
Nabi Muhammad Saw lahir dengan tidak didampingi sosok ayah. Sangat pilu jika dibayangkan. Diusianya yang baru saja lahir, Nabi Muhammad Saw sudah dibawa ke Thaif. Untuk disusui oleh Halimah. Di sana lah Nabi Muhammad Saw melewati masa kecilnya. Nabi Muhammad Saw memang berbeda dengan anak-anak desa lainnya. Baik bicaranya maupun tingkah lakunya. Wajahnya selalu membayangkan kecerahan dan keramahan. (hal.19)
ADVERTISEMENT
Hanya selama empat tahun Nabi Muhammad Saw tinggal di desa Thaif. Halimah mengantarkan Nabi Muhammad Saw kembali kepada kakeknya yaitu Abdul Muthalib dan Aminah, ibundanya. Mengapa Halimah mengembalikan Nabi Muhammad Saw kembali pada keluarganya? Hal ini disebabkan oleh peristiwa yang membuat Halimah merasa terkejut. Pada suatu ketika, Nabi Muhammad bercerita bahwa ada seseorang yang membelah dadanya mengeluarkan suatu benda yang ada di tubuhnya.
Menarik sekali bukan? Penulis membawakan cerita dengan runtun. Walaupun tidak terlalu spesifik, tetapi inti dari cerita pada saat kejadian tersebut membuat pembaca paham. Pada intinya, Nabi Muhammad Saw sejak kecil sudah jauh dari ibu kandungnya. Nabi Muhammad Saw tumbuh menjadi anak yang baik hati, tidak merepotkan Halimah. Selalu membantu Halimah, tidak pernah membantah.
ADVERTISEMENT
Ada suatu kejadian yang pasti membuat pembaca merasa pilu dan sedih. Kejadian tersebut saat Nabi Muhammad Saw menjadi yatim piatu. Diusianya yang masih dini yaitu enam tahun, Nabi Muhammad harus mengalami penderitaan batin. Aminah meninggal saat bersama dengan Nabi Muhammad Saw di perjalanan dari Madinah. Aminah, ibunda Nabi Muhammad tersebut jatuh sakit saat ditengah-tengah perjalanan.
Sudah dapat terbayang bukan? Betapa pedih dan pilunya Nabi Muhammad Saw pada saat itu. Baru saja beliau mendatangai makam ayahnya, mendengarkan cerita-cerita dari Aminah tentang ayahnya. Kini, ibu yang disayangi meninggalkan pula seperti ayahnya.
Penderitaan batin yang dialami Nabi Muhammad tidak berhenti begitu saja. Tidak lama sejak kematian ibunya, beberapa tahun kemudian, Abdul Muthalib juga meninggal pada usia 80 tahun. Kini, Nabi Muhammad Saw menjadi sebatang kara. Tiada ayah yang dikaguminya, tempat ia bersandar. Tiada ibu yang dikasihinya, tempat ia mengadukan sedih. Tiada kakek yang dirindukan, tempat ia dimanjakan. (hal.31)
ADVERTISEMENT
Nabi Muhammad Saw sangat kuat mengahadapi cobaan dan penderitaan batin yang dialami. Diusia yang masih dini, Nabi Muhammad Saw sudah kehilangan orang-orang yang sangat disayangi, sangat dirindukan. Betapa kuat dan sabarnya hati Nabi Muhammad Saw menghadapi berbagai cobaan.
Kisah Nabi Muhammad Saw ini, diceritakan oleh penulis dengan detail, namun singkat dan jelas. Seperti saat Nabi Muhammad usia 25 tahun yang berniaga, dan menjadi orang kepercayaan Khadijah. Khadijah pada masa itu merupakan seorang pedagang yang sukses, orang yang dihormati oleh masyarakat Makkah maupun kalangan bangsawan. Kedudukan Khadijah di mata masyarakat tinggi nilainya. (hal.52)
Nabi Muhammad Saw dan Khadijah akhirnya menikah dan dikaruniai 7 anak laki-laki dan perempuan. Namun, semua anak laki-lakinya meninggal sebelum mereka tumbuh dewasa. Walaupun menikah dengan wanita kaya, Nabi Muhammad Saw tidak pernah menunjukkan bahwa dia sudah kaya. Tidak pernah sekalipun bersikap sombong, bahkan bertambah rendah hati. Nabi Muhammad Saw masih tetap ingat dan sering membantu pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib yang sangat menyayangi dan merawat Nabi Muhammad Saw seperti anak sendiri.
ADVERTISEMENT
Dari sikap tauladan yang ada pada diri Nabi Muhammad yaitu rendah hati. Penulis bermaksud agar pembaca berkaca dan berharap mencontoh perilaku tauladan Nabi Muhammad. Senantiasa rendah hati dan tidak menyombongkan diri.
Sejauh cerita yang dibahas, pasti pembaca bertanya-tanya. Siapakah Buya Hamka dan mengapa pada judul tetulis Buya Hamka yang berkisah? Penulis tidak mendeskripsikan dengan jelas siapa Buya Hamka sebenarnya. Hal tersebut, menjadi salah satu kekurangan pada buku ini.
Peresensi : Alfida Rahma Nurfirdaus/2021/S1 Farmasi/ Universitas Muhammadiyah Malang
Kisah Inspiratif Seorang Panutan Umat Islam (238753)