Goa Jegles, Wisata Tersembunyi di Timur Kediri

Mahasiswa aktif Universitas Airlangga
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Alfin Lutfia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Keling, di sisi timur Kabupaten Kediri menyimpan potensi wisata yang sangat eksotis. Salah satunya adalah Goa Jegles. Goa eksotis yang dulunya dikenal angker serta menjadi tempat pembuangan sampah. Goa yang terletak di Jalan Jegles, Desa Keling, Kecamatan Kepung ini mulai dibuka tahun 2019, seiring upaya pemerintah Desa Keling dan para pemuda untuk mengembangkan perekonomian melalui desa wisata. Setelah menghadirkan wisata susur sungai di Kali Kembangan, mereka lantas mencoba membuka akses goa yang berada di sisi sungai dan tertutup rerimbunan. Juga dipenuhi sampah-sampah rumah tangga.
beberapa warga saat pertama kali mencoba masuk ke Goa Jegles, warga menemukan banyak sekali sampah, seperti baju bekas, pecahan kaca dan berbagai macam sampah rumah tangga. Sebelum tahun 80-an, Goa Jegles juga dikenal angker sebagai tempat semedi atau pertapaan. Juga dikenal sebagai lokasi perburuan oleh mereka para pencari pusaka, sebelum akhirnya terbengkelai dan menjadi tempat sampah.
Sejak saat itu, pemerintah desa bersama warga bergotong-royong membersihkan goa. Sehingga kini tampak lebih menarik untuk dikunjungi dari goa yang terbentuk akibat aktivitas gunung api tersebut. Goa Jegles terbentuk secara alami dari aktivitas vulkanik gunung api. Lokasinya yang instagramable, menarik perhatian pengunjung. Apalagi suasana asri dan sejuk saat berada di dalam goa semakin memikat pengunjung dari berbagai daerah. Hal ini karena adanya sumber mata air asli dari tanah yang memenuhi goa. Saat keluar goa, pengunjung bisa bersantai di gazebo-gazebo sambil menikmati udara segar dan kuliner khas pedesaan. Tidak diketahui pasti kapan terbentuknya Goa Jegles ini. Hanya saja pakar arkeologi menduga goa ini terbentuk dari batuan beku akibat aktivitas vulkanik. Ini diperkuat dengan lokasinya yang tak jauh dari Gunung Kelud
Tidak hanya goa utama, di kawasan ini ada arung kuno atau terowongan bawah tanah yang panjangnya belum terhingga. Saat ini pihaknya mendata masih sepanjang 150 meter. Di zaman kerajaan, arung kuno ini merupakan instalasi keairan untuk mengalirkan air ke permukiman, untuk saat ini arung kuno belum dibuka untuk umum. Tapi ke depan ini akan dikembangkan sebagai wisata edukasi susur goa. Pihaknya akan menyiapkan story telling untuk pengunjung bisa memahami sejarah di kawasan tersebut. Saat ini pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir dan masuk wisata secara sukarela. Pihak Desa Keling belum memberikan tarif khusus terhadap wisata yang terus dikembangkan ini.
