Tantangan Bahasa Jawa dari Masa ke Masa: Peran Gen Z dalam Menjaga Bahasa Lokal

Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan Universitas Airlangga
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Alfin Riyan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi saya, bahasa Jawa bukan sekadar kosakata atau aturan unggah-ungguh yang wajib dihafal. Bahasa ini adalah bagian dari keseharian, identitas, sekaligus cara orang Jawa dalam menunjukkan rasa hormat kepada sesama maupun yang lebih tua. Meski begitu, laju teknologi dan pergeseran cara berkomunikasi membawa tantangan tersendiri bagi kelangsungan kelestarian bahasa Jawa, khususnya pada anak-anak yang lahir dan besar di tengah dunia digital saat ini.
Saat ini, generasi Alpha sangat dekat dengan teknologi sejak dini. Mereka gesit menyerap istilah-istilah baru dari dunia luar, tetapi belum tentu terbiasa membaca, menulis, atau memakai bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Dari pengalaman mengajar saya masih menjumpai anak yang kesulitan memahami kosakata, membedakan ragam bahasa ngoko dan bahasa krama, serta membaca dan menulis aksara Jawa dengan lancar.
Saya melihat persoalan ini bukan semata soal minat anak. Ketika bahasa Jawa hanya disajikan lewat hafalan, tugas tertulis, dan aturan kebahasaan yang terasa berbelit, anak cenderung memandangnya sebagai pelajaran yang berat. Sebaliknya pembelajaran akan terasa lebih akrab bila dikemas lewat kegiatan yang komunikatif, kontekstual, interaktif, dan menyenangkan di era ini.
Dari titik itulah saya meyakini bahwa pelestarian bahasa Jawa tidak bisa hanya digantungkan pada sekolah. Generasi saya, Generasi Z, mempunyai peluang menjadi jembatan antara warisan budaya dari generasi sebelumnya dan gaya belajar generasi sesudahnya. Peran ini sederhana, tetapi bila dijalani secara konsisten, langkah kecil bisa tumbuh menjadi kebiasaan yang berarti bagi keberlangsungan bahasa daerah.
Berangkat dari keyakinan itu, saya mengisi waktu luang saya Ketika akhir pekan untuk mendampingi anak-anak belajar bahasa Jawa dengan cara yang lebih hangat dan dekat. Harapan saya, mereka tidak sekadar bisa menjawab soal yang ada di LKS tersebut. Tetapi juga memahami nilai kesopanan, identitas, dan kekayaan budaya yang terkandung di dalamnya. Dalam praktiknya, saya memakai pendekatan yang adaptif dan menarik. Materi tidak selalu disampaikan lewat penjelasan panjang lebar. Saya mengajak anak membaca bersama, mengulang kosakata, melontarkan tanya jawab secara spontan, serta mengaitkan materi dengan percakapan sederhana yang mungkin mereka temui di rumah.
Saat membahas kosakata, saya tidak sekadar meminta anak menghafal arti kata. Saya memberi contoh kalimat, mengajak mereka mengucapkannya, lalu mengecek pemahaman lewat pertanyaan dadakan. Bagi anak yang lupa membawa buku, saya memberi tugas menuliskan sepuluh kosakata beserta bentuk krama alusnya, lalu mengajak mereka mengingat dan mengucapkannya kembali. Dengan cara ini, kemampuan membaca, menulis, memahami makna, dan berbicara berkembang secara bersamaan.
Mengajar Generasi Alpha juga menjadi proses belajar tersendiri bagi saya. Setiap anak punya karakter dan kecepatan menangkap materi yang berbeda-beda. Ada yang lebih cepat paham lewat percakapan, ada yang butuh contoh tertulis, sementara yang lain justru lebih bersemangat saat pembelajaran dikemas seperti permainan. Karena itu, saya berusaha menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan masing-masing anak, agar proses belajar terasa manusiawi dan tidak membebani.
Tantangan yang sebenarnya bukan hanya membuat anak mampu berbahasa Jawa, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa ini masih relevan dan dekat dengan kehidupan mereka. Ketika anak mulai terbiasa memakai kosakata sederhana, memahami perbedaan ngoko dan krama, serta berani membaca dan menulis, rasa percaya diri pun perlahan tumbuh. Bagi saya, rasa nyaman dan senang inilah pintu awal terbentuknya kebiasaan berbahasa.
Pelestarian bahasa tidak selalu menuntut kegiatan besar. Mengenalkan satu kosakata baru, membiasakan satu kalimat krama, atau menemani seorang anak belajar membaca dan menulis bahasa Jawa, sudah merupakan langkah nyata menjaga warisan budaya. Langkah-langkah kecil semacam ini memang tidak langsung mengubah keadaan, tetapi lambat laun bisa membangun kebiasaan di rumah, sekolah, maupun lingkungan pergaulan anak
Bahasa Jawa akan terus mengalami perubahan seiring waktu. Namun, perubahan tidak selalu berarti kehilangan. Bahasa bisa tetap hidup selama cara penyampaiannya mampu mengikuti perkembangan zaman generasi penggunanya, tanpa mengorbankan nilai budaya yang menjadi akarnya.
Di sinilah Generasi Z dapat mengambil peran dengan bukan menggantikan tradisi, melainkan menghadirkan konteks baru agar tradisi lebih mudah dipahami dan diterima generasi masa kini. Saya tidak ingin anak-anak belajar bahasa Jawa semata karena tercantum dalam jadwal pelajaran. Saya ingin mereka mengenalnya sebagai bagian dari kehidupan, identitas, dan kebanggaan. Kontribusi saya mungkin masih kecil, tetapi saya percaya bahwa pelestarian bahasa selalu berawal dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
