Tradisi Sedekah Bumi di Pati: Wujud Syukur dan Kebersamaan Masyarakat

Profesi : Mahasiswa Sarjana Matematika Institusi : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Alfito Nibras Aflah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kabupaten Pati, yang terletak di pesisir Utara Jawa Tengah, dikenal sebagai daerah agraris dengan kekayaan budaya yang beragam.Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah Sedekah Bumi, sebuah ritual tahunan yang mencerminkan rasa syukur masyarakat atas hasil panen dan berkah alam yang melimpah. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol spiritualitas, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan penguatan ikatan sosial antarwarga.
Sedekah Bumi merupakan salah satu tradisi budaya keberagaman sih terus dilestarikan oleh masyarakat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Tradisi ini pada dasarnya adalah ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen yang mereka terima. Mereka percaya bahwa rezeki dari bumi adalah pemberian Tuhan melalui alam, sehingga perlu disyukuri secara bersama-sama. Ini sesuai sila pertama Pancasila, dimana mereka mengakui adanya Tuhan dan bersyukur atas karunia-Nya.
Biasanya, Sedekah Bumi dilakukan setiap tahun, setelah musim panen besar, sekitar bulan Juni atau Juli. Tanggal pastinya tergantung pada kalender Jawa dan kondisi masing-masing desa. Tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat, dari kepala desa, tokoh adat dan agama, hingga warga biasa. Acara dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, untuk memohon keselamatan, berkah, dan sebagai bentuk terima kasih atas rezeki yang diterima.
Ciri khas Sedekah Bumi di Pati adalah kirab atau arak-arakan hasil bumi yang disusun dalam bentuk gunungan—yakni tumpukan hasil tani seperti padi, jagung, sayur, dan buah-buahan. Gunungan ini diarak keliling desa lalu ditempatkan di lokasi tertentu. Setelah itu, warga akan berebut isinya. Mereka percaya siapa pun yang mendapat bagian dari gunungan tersebut akan mendapat keberkahan dan nasib baik. Bukan hanya kirab saja, Sedekah Bumi juga dirayakan dengan berbagai pertunjukkan tradisional seperti wayang kulit, ketoprak, dsb.
Selain itu, Sedekah Bumi memiliki makna filosofis yang dalam. Dalam budaya Jawa, bumi adalah sumber kehidupan yang wajib dihormati. Memberi sesaji atau “sedekah” kepada bumi adalah cara simbolik manusia untuk berterima kasih dan menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Ini sejalan dengan nilai keseimbangan yang sangat dijunjung dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Menurut pendapat saya di era modern ini, perlu menjaga tradisi ini tetap hidup dan juga disesuaikan perkembangan zaman.Apalagi anak muda cenderung kurang suka pada tradisi tersebut yang sudah dianggap tradisi kuno. Karena itu, untuk menjaga tradisi ini tetap hidup penting bagi pemerintah, lembaga budaya, dan tokoh masyarakat untuk terus memperkenalkan dan melibatkan generasi muda dalam tradisi ini. Salah satu caranya adalah dengan mengemasnya menjadi festival budaya yang menarik dan kekinian sesuai zamannya.
Kesimpulannya adalah Sedekah Bumi bukan hanya sekadar acara tahunan, tapi juga bentuk rasa syukur, ajang mempererat hubungan antarwarga, dan media pembelajaran tentang pentingnya menjaga warisan budaya. Melestarikannya adalah tugas bersama agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan waktu. Selain itu tradisi ini juga mengandung implementasi dari nilai sila-sila Pancasila.
Daftar Pustaka
Astuti, R. (2017). Tradisi Sedekah Bumi: Wujud Syukur dan Identitas Budaya Masyarakat Jawa. Yogyakarta: Ombak.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pati. (2022). Profil Budaya dan Tradisi Masyarakat Pati. Pati: Disbudpar.
Susanto, A. (2015). “Makna Filosofis Sedekah Bumi dalam Tradisi Jawa.” Jurnal Kebudayaan Nusantara, 10(2), 123-136.
Iswanto, D. (2018). “Sedekah Bumi sebagai Media Pelestarian Budaya Lokal”. Jurnal Kebudayaan Nusantara, 3(1), 45–58.
