Mapala Identik dengan Kekerasan? Omong Kosong!

Bukan seberapa jauh kamu pergi, namun seberapa dalam kamu mencari
Tulisan dari Alfons Hartanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan dan latihan dasar (Diklatsar) atau pendidikan dasar (Diksar) pecinta alam tampaknya akan menjadi kata tabu. Dalam sekian rentang waktu yang tak terlampau jauh jaraknya, kegiatan tersebut kerap memakan korban jiwa.
Pada Desember 2016 lalu, misalnya, kegiatan yang kala itu dilangsungkan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango oleh sekelompok mahasiswa universitas swasta di Jakarta memakan satu korban jiwa.
Belum genap dua bulan dari kejadian tersebut, muncul lagi korban. Kali ini dari kegiatan diksar sebuah universitas di Yogyakarta yang dilangsungkan di Gunung Lawu. Bahkan lebih mengenaskan, tiga korban jiwa melayan dalam kegiatan tersebut.
Menurut pemberitaan, pihak kepolisian juga sedang menelususri kegiatan diksar ini. Pihak kampus terkait, Universitas Islam Indonesia, juga telah membentuk tim crisis center untuk segera menyesaikan permasalahan tersebut.
Dampak dari kejadian naas berturut-turut ini, kegiatan mahasiswa pecinta alam mendapat kesan buruk, cibiran, hingga omongan pedas, dari segenap masyarakat. Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) langsung mendapat stempel yang tak main-main: gemar kekerasan.
Satu hal yang belum diketahui bersama. Benarkah kegiatan diksar ini berbahaya (mengancam nyawa) dan penuh dengan kekerasan?
Mari kita telaah terlebih dahulu apa maksud kegiatan diksar.
Kegiatan dik(lat)sar sesuai dengan namanya, pendidikan (dan latihan) dasar mahasiswa pecinta alam, bertujuan untuk mendidik dan membiasakan mahasiswanya berkegiatan di alam bebas yang liar dan penuh bahaya.
Mengapa perlu pendidikan dan latihan?
Seorang anggota Mapala memang diharuskan untuk memiliki kemampuan untuk bertahan diri dalam kondisi terburuk di alam. Tuntutan ini mengingat aktivitas anggota Mapala yang mayoritas dilakukan di alam terbuka yang liar. Ini juga menurut artikel lain yang saya baca di sini ya.
Intinya kegiatan ini diperlukan agar para calon Mapala ini nantinya bisa dan biasa beraktifitas di alam bebas.
Sebuah program yang membawa judul pendidikan dan latihan haruslah didasarkan pada materi. Dan sejauh yang saya pahami, ada lima hal dasar yang perlu dipelajari dalam pendidikan dan latihan dasar tersebut.
Pertama, navigasi darat
Materi ini diperlukan agar dalam berkegiatan seorang pecinta alam tahu lokasi dia berada, tujuan, serta cara menuju ke sana. Karena di alam bebas tidak ada marka penunjuk jalan maka kemampuan navigasi darat yaitu membaca peta dan menggunakan kompas harus dikuasai.
Kedua, pertolongan pertama
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya berkegiatan di alam bebas yang liar penuh dengan ketidakpastian. Salah satu ketidakpastian yang sebaiknya bisa ditanggulangi adalah cidera. Minimal dengan memahami pertolongan pertama, maka cidera yang dialami akibat kecelakaan tidak semakin menjadi parah.
Ketiga, tali temali
Dalam kegiatan alam bebas, kemampuan tali temali sangat banyak manfaatnya. Dari mulai membangun tenda saat melakukan camping sampai memasang pengaman ketika melakukan climbing, semua kegiatan ini memerlukan ilmu tali temali.
Keempat, survival
Ketidakpastian lain yang harus dihadapi di alam bebas adalah tersesat atau hilang. Dalam keadaan tersebut seorang pecinta alam harus tahu bagaimana cara bertahan hidup dan menemukan rekan-rekan lainnya.
Dalam materi ini pengetahuan mengenai tanaman dan hewan liar, meninggalkan jejak, dan mencari pertolongan adalah sedikit dari pengetahuan yang harus dipelajari.
Kelima, materi campcraft atau membuat kemah
Tidak sekadar membangun tenda, seorang pecinta alam juga harus tahu cara membuat api, memasak dan memilih tempat yang nyaman untuk membangun kemah.
* * *
Merujuk pada KBBI, kekerasan dapat diartikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
Dari pengertian tersebut, kekerasan baru dianggap seperti itu ketika ada yang berbuat. Jika cIdera yang dialami adalah akibat kecelakaan saat bermain di alam bebas, ya, hal tersebut tidak dapat dikategorikan dalam kekerasan.
Mungkin keteleodoran atau kurangnya ilmu si pelaku dapat menjadi penyebab hal-hal mengapa kegiatan Mapala identik dengan kekerasan.
Terlebih jika memang benar menurut kesaksian di lapangan bahwa dalam kegiatan diksar UII tersebut ada senior yang melakukan kekerasan, maka wajib untuk mempertanyakan makna pendidikan dasar yang dimaksud dari organisasi ini.
Sebagaimana telaah singkat di atas, kita bisa simpulkan bahwa memang tidak perlu ada kekerasan apapun dalam kegiatan pendidikan ini. Jika ada anggota Mapala atau siapapun yang berkata sebaliknya, omong kosong dengan mereka.
