Konten dari Pengguna

Membangun Lingkungan Anti-Bullying: Edukasi, Empati, dan Kebijakan Tegas

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fahri Al Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Seorang Anak Menjadi Korban Kasus Perundungan di Lorong Sekolah (Sumber Freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Seorang Anak Menjadi Korban Kasus Perundungan di Lorong Sekolah (Sumber Freepik.com)

Adapun sebuah perbuatan yang dapat merusak mental seseorang adalah terjadinya kasus bullying, yakni sebuah kasus yang tidak mengenal tempat dan waktu dapat dilakukan kapan-pun dan siapa pun oleh seseorang, seseorang yang kita anggap layaknya bercanda dapat memaknai sebuah ejekan tersendiri bagi individu, karena setiap orang tidak mengetahui apa yang dirasakan dan dipendam pada diri seorang.

Hal tersebut dapat dicegah dengan upaya adanya pendekatan sebuah rekan satu sama lain, dengan menjalin hubungan yang harmonis dapat menciptakan sebuah kepercayaan dan suasana yang baru pada hati diri seorang, maka dari itu kita dapat membedakan antara waktu dan tempat yang tepat untuk mengeluarkan kata-kata yang lebih enak didengar untuk orang lain.

Sebuah kepercayaan yang tertanam pada diri seorang sangatlah penting dalam menjalin sebuah hubungan pertemanan yang kuat, banyak sekali diluar sana yang tidak mengenali diri seorang rekannya tetapi sudah sangat berani mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh untuk didengar.

Mental illness biasanya merujuk pada berbagai kondisi kesehatan mental yang memengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perilaku seseorang. Dengan begitu banyak pula anak-anak di bawah usia yang mengalami depresi berat karena sebuah kasus bullying diluar sana. Tak hanya anak-anak di bawah usia, terkadang banyak pula kasus yang terjadi pada seorang remaja, mahasiswa, bahkan orang-orang yang bekerja mengalami hal tersebut.

Mengapa hal itu dapat terjadi? karena kurangnya sebuah pengenalan diri seorang terhadap individu lain, hal seperti itulah yang seharusnya dibangun pada diri individu seorang, termasuk pribadi.

Menurut data KPAI, jumlah kasus perundungan di Indonesia cenderung meningkat setiap tahunnya, kurang lebih 2.355 kasus yang telah terjadi pada tahun 2023 lalu, 87 di antaranya yaitu kasus bullying di lingkungan pendidikan. Jika seseorang mengalami depresi karena sebuah kasus perundungan, mental yang ia miliki akan turun secara drastis. Hal tersebut diperlukan sebuah teman dekat yang dapat mendengarkannya atau-pun memerlukan seorang psikiater untuk mengembalikan mental yang dimiliki seorang.

Kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan stress, adalah dampak negatif dari sebuah perundungan. Hal tersebut juga dapat menurunkan prestasi akademi, serta dapat menimbulkan kesulitan dalam bersosialisasi. Dilansir dari Bareskrim pusiknas, bahwa terdapat 142 kasus bunuh diri yang disebabkan oleh bullying.

Kasus bullying juga dianggap sebuah pelanggaran sila ke-2 Pancasila, karena hak dan martabat seseorang tidak dihargai, di mana seorang individu diperlakukan tidak setara karena individu lain menganggap dirinya lebih baik dalam segi tertentu.

Sebuah perundungan adalah sebuah perbuatan diskriminasi. Sering kali ditargetkan kepada individu yang dianggap lemah atau berbeda dari kelompok mayoritas, seperti berdasarkan ras, agama, jenis kelamin, atau disabilitas. Tindakan bullying yang didasari oleh ciri-ciri tersebut dapat dianggap sebagai bentuk diskriminasi karena menciptakan ketidaksetaraan dan perlakuan tidak adil terhadap individu.

Mencegah bullying memerlukan upaya bersama dan terpadu dari berbagai pihak, termasuk sekolah, guru, orang tua, dan siswa bahkan mahasiswa. Dengan memberikan edukasi empati terhadap sesama, serta menerapkan kebijakan yang tegas terhadap berperilaku.

Tercegahnya sebuah perundungan, tidak hanya dengan berperilaku yang baik, tetapi menjaga sebuah lisan juga sangat diperlukan dalam berkomunikasi kepada orang lain. Karena bullying tidak hanya sekadar kekerasan fisik, namun mencakup juga tindakan agresif lainnya seperti kekerasan non-verbal, sosial, ejekan, catcalling, atau bahkan mempermalukan orang lain di tempat umum.

Ketika teman kita menjadi korban bullying, penting untuk tidak diam dan memberikan dukungan serta membantu mengatasinya. Langkah yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan, memberikan rasa aman, melaporkan kejadian kepada pihak berwenang, dan membantu korban memulihkan diri.

Maka dari itu diperlukannya pendekatan diri terhadap sesama, tidak merasa diri paling hebat dengan segalanya dari orang lain, bahkan kita diharuskan rendah diri di hadapan teman, atasan, sekali pun bawahan. Karena tuhan menciptakan kita untuk saling membutuhkan satu sama lain, dan tidak ada bedanya sekalipun manusia di mata tuhan sang pencipta.

Dengan begitu terbentuklah sebuah kehidupan yang harmonis, saling ber interaksi, tidak mengejek satu sama lain, serta tidak memihak kepada siapa pun jikalau terjadi adanya konflik, internal maupun eksternal.