Timnas Garuda Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Malaysia Masih Kesal Soal Injury Time

Mahasiswa Universitas Pamulang Ilmu Komunikasi ingin melatih dan mengasah keterampilan menulis opini, agar terbiasa berpikir logis, kritis, dan rasionalis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhammad Fahri Al Hakim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada Senin (05/10/2026) pukul 20.00 di GBK (Gelora Bung Karno). Laga Final Indonesia vs Thailand FIFA ASEAN Cup 2026 dimulai, warga berbondong-bondong mencari tempat yang menyiarkan nonton bareng menggunakan proyektor. Sorakan dan sahutan memberi semangat kepada timnas Indonesia dari berbagai penjuru.
Indonesia berakhir menang atas adu penalti, kiper Emil Audero bakalan disebut-sebut menjadi pahlawan, karena menepis tendangan penalti ke-4 pemain Thailand, Nattapong Sayriya. Walaupun babak sebelumnya mengalami ketertinggalan skors yang membuat Indonesia akan menjadi Runner Up, namun takdir berkata lain. Egy Maulana Vikri masuk lapangan hingga suasana drama semakin seru di babak Injury time.
Perubahan serangan Timnas Garuda semakin memanas, tempo nya semakin cepat, untuk merubah keadaan, menyeimbangkan skors. Setelah Injury time, adu penalti dilakukan lalu dimenangkan dengan skors 4-2.
Malaysia. Laga sebelum nya sempat cekcok mengenai pengaturan waktu tambahan, pada laga Indonesia vs Bangladesh pada Senin (28/9/2026) lalu. Malaysia merasa dirinya lah yang akan melaju ke babak Final melawan Thailand, namun ternyata Indonesia membabat habis pertahanan Bangladesh hingga skors 9-2.
Selisih Point Gol masuk yang merubah keadaan. Poin Gol yang dimiliki Malaysia hanya 9, sedangkan Indonesia 11. Itulah yang dipermasalahkan nya, pemain Indonesia mencetak 2 Gol tambahan dari pelebihan waktu. Malaysia menganggap bahwa wasit pada laga tersebut mencuranginya, yang seharusnya +2, kini malah menjadi +7.
Kekecewaan Malaysia memuncak hingga memboikot brand milik Indonesia yang berada di negaranya. Tidak hanya itu, Malaysia juga mengejek Sebagian keluarga pemain Timnas Indonesia dengan mengedit nya menjadi hewan, menyamai pahlawan di pecahan mata uang 10.000 Ribu (Frans Kaisiepo) dengan Kera, atau bahkan mengejek penduduk Indonesia dengan kalimat sarkas.
Buntut dari permasalahan ini, warga Indonesia menganggap bahwa pihak Malaysia sudah melebihi batas wajar, dan hal tersebut tidak dapat dibiarkan dan di normalisasikan.
