Habis Gelap, Terang Tak Kunjung Datang

Saat ini sebagai praktisi pendidikan dan Kabid Humas dan Usaha Yayasan Ar Raudloh di Desa Pakis Kec. Tayu Kab. Pati Jateng. Saya juga sebagai staff pengajar di Madrasah Raudlatut Tholibin Pakis Kab. Pati. Saya lulusan S1 Teknik Industri
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari ali achmadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tanggal 21 April selalu punya suasana yang sama. Rapi. Seragam. Penuh warna. Dan—anehnya—dangkal. Nama Raden Ajeng Kartini kembali disebut. Seperti nama jalan: sering dilewati, jarang dipahami.
Kebaya dipakai. Sanggul dipasang. Lalu foto. Selfi. Lalu unggah. Lalu selesai. Padahal Kartini tidak memperjuangkan kebaya. Ia melawan gelap—yang jauh lebih tebal dari sekadar kain. Kartini tidak memperjuangkan seremoni. Ia melawan cara berpikir yang membatasi.
Setiap tahun, kita merayakan hari Kartini dengan cara yang sama: simbol, seremoni, dan minim refleksi. Kita hafal kebayanya, tapi lupa pikirannya. Kita ingat tanggalnya, tapi mengabaikan pesannya. Kita lebih nyaman meniru penampilannya daripada melanjutkan perjuangannya.
Kartini dulu menulis dari ruang sempit, dari dunia yang membatasi geraknya. Ia tidak punya panggung, tidak punya mikrofon, tidak punya algoritma. Tapi ia punya sesuatu yang sekarang terasa langka: kegelisahan yang jujur, dan keberanian untuk melawan. Sekarang? Kita punya segalanya—kecuali keberanian itu.
Yang menarik, dulu pembatas itu sering dibungkus adat. Sekarang—kadang—dibungkus agama. Bukan agamanya yang salah. Tapi tafsirnya yang sering dipersempit. Masalahnya bukan pada agamanya. Tapi pada siapa yang memegang tafsirnya.
Dalam Islam, perempuan tidak pernah dilarang berpikir, belajar, atau berperan. Nabi Muhammad justru membuka ruang itu. Perempuan seperti Aisyah binti Abu Bakar menjadi rujukan ilmu. Ada juga Khadijah binti Khuwailid—pengusaha sukses, penopang dakwah. Dan Fatimah binti Muhammad—simbol keteguhan dan kecerdasan. Artinya: terang itu sudah ada sejak awal. Tapi entah kenapa, di tangan kita, ia berubah jadi redup.
Masih ada yang bilang: perempuan tak perlu sekolah tinggi, nanti mereka susah diatur. Masih ada yang khawatir perempuan terlalu mandiri. Masih ada yang lebih sibuk “mengatur” daripada “memberdayakan”. Semua terasa sah—karena dibungkus dalil. Padahal sering kali, itu lebih dekat ke budaya lama yang enggan mati.
Kita bilang Islam memuliakan perempuan. Itu benar. Tapi kemuliaan itu tidak akan terasa kalau aksesnya tetap ditutup, kalau pikirannya tetap dibatasi, kalau suaranya tetap dianggap ancaman.
Kartini dulu melawan gelap yang nyata. Hari ini, kita menghadapi gelap yang lebih halus: cara berpikir yang merasa sudah terang, padahal belum. Lebih berbahaya. Karena tidak terasa.
Selamat Hari Kartini. Kita masih menunggu terang itu benar-benar datang.
