Mengajar untuk Surga, Bertahan untuk Dunia

Saat ini sebagai praktisi pendidikan dan Kabid Humas dan Usaha Yayasan Ar Raudloh di Desa Pakis Kec. Tayu Kab. Pati Jateng. Saya juga sebagai staff pengajar di Madrasah Raudlatut Tholibin Pakis Kab. Pati. Saya lulusan S1 Teknik Industri
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari ali achmadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalimat itu bukan lagi sekadar seloroh pinggir jalan. Ia keluar resmi dari seorang Menteri Agama: "Banggalah menjadi seorang guru, jangan minder. Menjadi guru itu mulia sekali, halalan thoyyiban. Rezekinya Insyaallah, makanya jangan ikut-ikutan kayak pedagang yang memang tujuannya mencari uang. Kalau niatnya cari uang, jangan jadi guru, tapi jadi pedagang," “Guru upahnya amal jariyah. Kalau cari uang, jadi pedagang.” Kalimat yang enak didengar di podium. Tepuk tangan biasanya datang. Tapi tidak pernah ikut sampai ke dapur rumah guru.
Kita ini memang bangsa yang gemar memuliakan kata-kata. Apalagi kalau dibungkus dengan istilah agama. “Amal jariyah.” Dua kata yang sakral. Tinggi. Nyaris tak tersentuh kritik. Begitu diucapkan, seolah semua persoalan selesai. Padahal, justru di situlah masalahnya dimulai.
Guru, -terutama guru swasta dan honorer-sejak dulu, memang didorong untuk ikhlas. Ikhlas mengajar. Ikhlas mendidik. Ikhlas membentuk karakter. Ikhlas bahkan ketika gaji telat. Ikhlas ketika honornya kalah jauh dari tukang cuci ompreng MBG. Ikhlas ketika diminta sabar—terus-menerus—tanpa batas waktu. Ikhlas jadi semacam kewajiban tambahan. Seolah itu bagian dari job desk yang tak tertulis. Padahal, ikhlas itu urusan hati. Bukan plester murah untuk menutupi borok sistem yang sudah lama dibiarkan bernanah.
Lucunya, negara ini sangat pandai membuat guru menjadi simbol. Pahlawan tanpa tanda jasa, katanya. Kalimat itu terdengar heroik. Sampai kita sadar: “tanpa tanda jasa” ternyata bukan metafora. Itu benar-benar tanpa tanda. Tanpa jasa yang layak dihargai.
Kita ingin guru mencetak generasi unggul. Cerdas. Berkarakter. Berdaya saing global. Tapi kita lupa satu hal sederhana: yang mencetak itu juga manusia. Dia juga harus bayar listrik. Dia juga harus beli beras. Anaknya juga butuh sekolah—yang ironisnya, sering kali mahal. Amal jariyah tidak bisa ditukar di pasar dan minimarket.
Ada paradoks yang terus kita pelihara. Di satu sisi, kita bilang: “Guru itu mulia. Pengabdian. Ladang pahala.” Di sisi lain, ketika guru bicara kesejahteraan, kita buru-buru mengingatkan: “Jangan materialistis. Niatkan ibadah.” Seolah-olah memperjuangkan hidup layak itu dosa. Seolah-olah lapar itu prestasi moral, sementara kenyang dianggap penyimpangan.
Bandingkan dengan profesi lain. Dokter boleh mahal—karena tanggung jawabnya besar. Pengacara boleh tarif tinggi—karena keahliannya langka. Pengusaha boleh untung besar—karena risikonya tinggi. Lalu guru? Diberi tanggung jawab membentuk masa depan bangsa, tapi diminta tidak terlalu memikirkan uang. Ini bukan ironi lagi. Ini sudah semacam ritual dan tradisi pembodohan.
Padahal, tidak ada yang salah dari guru yang ingin sejahtera. Tidak ada yang salah dari guru yang ingin hidup layak. Tidak ada yang salah dari guru yang ingin menabung masa depan. Karena mengabdi tidak harus identik dengan menderita.
Justru, guru yang sejahtera punya ruang lebih luas untuk berpikir. Lebih tenang untuk mendidik. Lebih utuh untuk hadir di kelas—bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Kita terlalu lama memelihara narasi bahwa kemiskinan itu romantis. Bahwa semakin sulit hidupnya, semakin sufi dan tinggi nilai pengabdiannya. Padahal kenyataannya sederhana: orang yang kelelahan bertahan hidup, sulit fokus membangun kehidupan orang lain.
Guru memang menanam. Ilmu, nilai, karakter. Dan benar—itu bisa menjadi amal jariyah. Tapi jangan lupa: petani yang menanam padi pun tetap butuh makan dari hasil panennya. Tidak ada yang menyuruh petani hidup dari “pahala menanam”.
Jadi mungkin yang perlu kita luruskan bukan niat para guru, terutama guru-guru swasta/honorer dan guru madrasah. Mereka sudah terlalu sering diminta meluruskan niat. Yang perlu diluruskan adalah cara kita memandang profesi ini. Bahwa menjadi guru itu pengabdian—betul. Tapi juga pekerjaan—yang layak dihargai secara adil.
Bahwa mencari pahala tidak harus berarti menolak kesejahteraan. Dan memperjuangkan kesejahteraan bukan berarti kehilangan keikhlasan. Kalau semua profesi boleh hidup layak dari pekerjaannya, kenapa guru harus memilih antara surga dan dapur? Bukankah seharusnya keduanya bisa berjalan beriringan?
