Harga Naik: Bagaimana Keluarga Menghadapi Tekanan Ekonomi Global?

Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Mahasantri Pesantren Luhur Sabilussalam
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ali Farhan Munawar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika harga naik dari makanan pokok, transportasi, dan bahkan gaya hidup. Sering muncul adanya tekanan yang mengganggu anggaran keluarga, tekanan itulah yang membuat anak jadi tidak melanjutkan sekolahnya, hingga hubungan suami-istri pun menjadi pertengkaran yang tidak pernah reda.
Inilah yang selalu disembunyikan oleh angka-angka statistik: krisis ekonomi global bukan hanya tentang berapa persen inflasi naik, melainkan tentang keputusan orang tua untuk memilih antara membeli obat atau membayar sekolah anak.
Data Kemiskinan dan Kerentanan yang Tersembunyi
Pada September 2025, persentase penduduk miskin Indonesia turun menjadi 8,25 persen, dengan jumlah penduduk miskin sebesar 23,36 juta orang. Angka ini memang menurun dari tahun-tahun sebelumnya, merupakan pencapaian yang layak diapresiasi.
Akan tetapi, angka resmi kemiskinan dari Badan Pusat Statistik hanya menangkap sebagian kecil dari cerita lengkap. Terdapat lapisan besar masyarakat yang tidak termasuk kategori "miskin" menurut definisi pemerintah, namun hidupnya terombang-ambing. Mereka adalah kelas menengah yang rapuh guru honorer, supir ojek online, pedagang kecil, dan pekerja informal lainnya yang pendapatannya lebih dari garis kemiskinan namun jauh dari aman. Kelompok ini didefinisikan sebagai penduduk dengan pengeluaran per kapita bulanan berada pada kisaran 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan nasional, yang pada September 2025 tercatat sebesar Rp595.242 per bulan, artinya pengeluaran kelas menengah berada pada rentang sekitar Rp2,08 juta hingga Rp10,12 juta per kapita per bulan.
Ketika harga pangan melompat, mereka adalah yang paling terpukul karena tidak punya tabungan untuk mengatasinya dan tidak memenuhi syarat untuk mendapat bantuan pemerintah. Sebuah penelitian psikologi menunjukkan bahwa ketidakstabilan finansial kronis lebih merusak kesehatan mental daripada kemiskinan yang sudah diterima dan terencana.
Pendidikan Anak Menjadi Taruhan
Momentum pilihan tersulit datang ketika anak memasuki usia sekolah. Inflasi tahunan di sektor pendidikan pada Desember 2025 tercatat 1,22 persen, dengan kenaikan tertinggi pada pendidikan dasar dan anak usia dini mencapai 3,12 persen, dengan biaya tahunan pendidikan di sekolah dasar berada di kisaran Rp4,5 juta, sementara sekolah menengah atas sekitar Rp10-11 juta.
Namun, Dampak jangka panjang pada anak-anak yang putus sekolah karena tekanan ekonomi jarang bisa mengejar ketertinggalan mereka. Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih rentan terhadap pengangguran dan kemiskinan, menciptakan siklus yang sulit diputus. Peluang sosial mereka telah ditutup sebelum mereka tahu apa maksud dari peluang itu sendiri.
Ruang Keluarga yang Menyempit
Tekanan ekonomi tidak hanya meninggalkan jejak di kasbon dan penghitungan anggaran. Tekanan itu memasuki kamar tidur, dapur, dan percakapan keluarga dalam bentuk stres yang tidak terucapkan. Kasus perceraian meningkat dari 408.340 pada 2023 menjadi 466.359 kasus pada 2024, dengan faktor ekonomi menempati posisi kedua setelah pertengkaran terus-menerus, konsisten berada di kisaran 20-24 persen dalam lima tahun terakhir, artinya satu dari empat perceraian terjadi karena masalah ekonomi.
Dari pandangan psikologi, tekanan ekonomi merupakan sumber stres berkepanjangan yang secara perlahan menggerus ketahanan psikologis pasangan. Ini bukan sekadar tidak ada uang. Ini adalah perasaan gagal, ketidakberdayaan, dan rasa bersalah yang menumpuk setiap hari. Ketika rumah tangga akhirnya hancur, dampaknya melebarkan lagi. Ibu menjadi satu-satunya pencari nafkah untuk anak-anak, meningkatkan kemungkinan jatuh ke dalam kemiskinan. Anak-anak mengalami trauma emosional yang akan membentuk pandangan mereka tentang pernikahan dan keuangan seumur hidup.
Mengapa Harga Terus Naik di Indonesia?
1. Indonesia adalah negara agraris yang paradoks
Meski menghasilkan pangan, negara ini masih mengimpor banyak komoditas atau bahan baku. Ketika nilai rupiah melemah yang terjadi hampir setiap kali ada guncangan global harga pangan impor langsung naik. Ternak ayam kita diberi pakan impor, perahu nelayan memakai solar impor, bahkan benih tanaman sering datang dari luar. Setiap depresiasi rupiah adalah pukulan langsung ke kantong keluarga yang tidak punya kendali atas variabel mata uang.
2. Mekanisme pasar yang belum sempurna
Dampaknya membuat transmisi harga dari produsen ke konsumen sangat tidak efisien. Ketika petani dapat harga yang bagus, konsumen tidak selalu merasakan penurunan harga. Namun, ketika harga naik di tingkat grosir, kenaikan itu langsung terasa di pasar tradisional dengan margin yang tidak wajar. Sistem distribusi yang tertutup, dominasi oleh perantara, dan lemahnya kontrol harga di tingkat ritel membuat harga pangan bisa naik tanpa alasan yang jelas.
3. Ketergantungan keluarga pada bantuan pemerintah
Menunjukkan bahwa pasar sendiri tidak mampu menyediakan keamanan pangan. Program Bantuan Pangan Beras, Gerakan Pangan Murah, dan berbagai skema subsidi lainnya bukan sekadar kebijakan ini adalah pengakuan bahwa daya beli rakyat telah tereduksi sedemikian rupa sehingga diperlukan intervensi untuk mencegah kelaparan.
Langkah-Langkah dan Upaya Menghadapi Tekanan
1. Transparansi finansial dalam rumah tangga
Banyak perselisihan finansial dimulai dari ketidaktahuan atau ketidakjujuran mengenai kondisi keuangan sebenarnya. Pasangan yang saling percaya tentang angka-angka akan lebih mampu membuat keputusan bersama.
2. Pertahanan terbaik dalam diversifikasi sumber pendapatan adalah pertahanan terbaik
Tidak mengandalkan satu gaji saja, tetapi mencari cara lain untuk menghasilkan uang, meskipun dalam skala kecil. investasi dalam pendidikan anak sebaiknya dipikirkan kembali bukan dalam hal institusi mahal tetapi dalam hal konten pembelajaran buku dari perpustakaan, kursus online gratis, dan mentor dari lingkungan.
Namun, dalam kesederhanaan pilihan-pilihan itu juga terdapat sebuah catatan tentang daya tahan. Sebagian besar keluarga Indonesia tidak runtuh meski menghadapi tekanan yang luar biasa. Mereka menyesuaikan diri dengan kreatif, saling membantu, dan menemukan cara untuk tetap bersatu.
Pada Akhirnya, jika kita ingin mengurangi perceraian, putus sekolah, dan penderitaan keluarga, kita harus mulai dari sini: dengan mengakui bahwa statistik inflasi 2,42 persen itu sebenarnya adalah 23,36 juta orang yang harus belajar cara hidup lebih hemat, ribuan anak yang harus putus sekolah, dan satu dari empat pernikahan yang akan berakhir di pengadilan.
