Kita Terlalu Sibuk Menjadi Bahagia Sampai Lupa Menikmati Hidup

Saya adalah mahasiswa universitas Pamulang, dan saya suka menulis artikel dan jurnal.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ali Fattah Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada masa ketika kita hanya ingin hidup dengan tenang.
Bangun pagi tanpa terburu-buru. Menikmati secangkir kopi tanpa memikirkan pekerjaan. Pulang ke rumah tanpa membawa beban dari tempat kerja. Berkumpul dengan orang-orang yang kita sayangi tanpa sibuk memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya.
Dulu, rasanya sederhana sekali.
Namun entah sejak kapan, hidup berubah menjadi perlombaan.
Kita mulai melihat kehidupan orang lain melalui layar kecil di tangan. Ada teman yang sudah membeli rumah, seseorang yang baru saja mendapatkan pekerjaan impian, orang lain yang pergi berlibur ke tempat yang selama ini hanya kita lihat melalui internet. Ada yang menikah, punya anak, membuka bisnis, mendapatkan penghargaan, atau sekadar terlihat bahagia setiap hari.
Lalu kita melihat kehidupan sendiri.
Dan tiba-tiba, apa yang kita punya terasa tidak cukup.
Kita mulai bertanya, “Kenapa hidup gue belum seperti mereka?”
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di balik layar mereka.
Kita hanya melihat potongan terbaik dari kehidupan orang lain, kemudian membandingkannya dengan seluruh kehidupan kita.
Di situlah masalahnya.
Hidup bukan perlombaan
Kita sering merasa tertinggal hanya karena seseorang berjalan lebih cepat.
Padahal setiap orang mempunyai jalan yang berbeda.
Ada yang menemukan kesuksesan di usia dua puluhan. Ada yang baru menemukannya ketika memasuki usia tiga puluhan. Ada yang menikah muda, ada yang memilih sendiri lebih lama. Ada yang langsung mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, sementara yang lain harus berkali-kali gagal sebelum menemukan tempat yang tepat.
Tidak ada jadwal kehidupan yang benar-benar sama.
Namun media sosial terkadang membuat kita lupa akan hal itu.
Setiap hari kita disuguhi pencapaian orang lain. Tanpa sadar, kita menjadikan hidup mereka sebagai standar untuk mengukur hidup sendiri.
Akhirnya, kita bukan lagi mengejar apa yang benar-benar kita inginkan.
Kita hanya mengejar sesuatu agar tidak merasa tertinggal.
Kita terlalu sibuk terlihat bahagia
Ada sesuatu yang menarik dari zaman sekarang.
Kita bisa pergi ke tempat yang indah, tetapi sibuk mencari sudut terbaik untuk difoto.
Kita bisa makan makanan yang enak, tetapi lebih dulu memikirkan bagaimana membuatnya terlihat menarik di kamera.
Kita bisa berkumpul bersama teman-teman, tetapi sesekali masih sibuk melihat layar.
Bahkan terkadang kita mengalami sesuatu bukan untuk menikmatinya, melainkan untuk membagikannya.
Seolah-olah sebuah pengalaman baru terasa lengkap ketika orang lain mengetahuinya.
Padahal ada kebahagiaan yang tidak membutuhkan penonton.
Ada senyum yang cukup kita rasakan sendiri.
Ada perjalanan yang tidak perlu diunggah.
Ada keberhasilan yang tidak harus diumumkan.
Dan ada momen-momen sederhana yang justru menjadi paling berharga ketika tidak kita abadikan dengan kamera.
Tidak semua hal harus segera terjadi
Kita hidup di zaman yang serba cepat.
Pesan harus segera dibalas. Pesanan harus segera datang. Informasi harus segera diketahui. Kesuksesan pun seolah harus segera diraih.
Kita ingin lulus cepat.
Ingin bekerja cepat.
Ingin kaya cepat.
Ingin sukses cepat.
Ingin bahagia cepat.
Ketika semuanya belum terjadi sesuai keinginan, kita menganggap diri sendiri gagal.
Padahal mungkin kita hanya sedang berada dalam proses.
Sebuah pohon tidak tumbuh tinggi dalam satu malam. Begitu juga manusia.
Ada masa untuk berlari.
Ada masa untuk berjalan.
Dan ada masa ketika kita memang perlu berhenti sebentar.
Berhenti bukan berarti menyerah.
Terkadang, berhenti adalah cara kita mengingat kembali untuk apa sebenarnya kita berjalan.
Mungkin kita tidak kekurangan apa-apa
Mungkin selama ini kita hanya terlalu sering melihat apa yang belum kita miliki.
Kita melihat rumah orang lain sampai lupa bahwa kita punya tempat untuk pulang.
Kita melihat perjalanan orang lain sampai lupa bahwa kita masih punya kesempatan untuk menikmati perjalanan kita sendiri.
Kita melihat kesuksesan orang lain sampai lupa menghargai setiap langkah kecil yang sudah kita lewati.
Kita terlalu sibuk menghitung kekurangan sampai lupa menghitung hal-hal yang sebenarnya patut disyukuri.
Bukan berarti kita harus berhenti memiliki impian.
Tentu saja tidak.
Kita tetap boleh ingin hidup lebih baik. Tetap boleh mengejar karier, memiliki rumah, membeli sesuatu yang kita inginkan, bepergian ke tempat impian, atau mencapai berbagai tujuan.
Tetapi jangan sampai keinginan untuk memiliki lebih banyak membuat kita membenci kehidupan yang sedang kita jalani.
Karena bisa jadi, kehidupan yang sekarang kita anggap biasa saja adalah kehidupan yang dulu pernah kita doakan.
Jadi, kapan terakhir kali kita benar-benar menikmati hidup?
Mungkin malam ini.
Matikan sebentar layar ponsel.
Duduklah dengan tenang.
Dengarkan suara di sekitar.
Bicaralah dengan orang yang kita sayangi.
Minumlah kopi atau teh tanpa perlu memotretnya.
Tertawalah tanpa memikirkan apakah tawa itu pantas masuk ke dalam unggahan.
Dan untuk beberapa saat, jangan pikirkan kehidupan orang lain.
Kita tidak harus selalu menjadi lebih baik dari seseorang.
Kita hanya perlu menjadi sedikit lebih baik dari diri kita yang kemarin.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.
Hidup adalah tentang bagaimana kita menikmati perjalanan sebelum akhirnya sampai di tujuan.
Jadi, kalau hari ini hidupmu belum terlihat seperti kehidupan yang kamu impikan, tidak apa-apa.
Tarik napas.
Pelan-pelan saja.
Kamu tidak sedang terlambat.
Kamu hanya sedang menjalani jalanmu sendiri.
