Tidak Semua yang Terlihat Baik-Baik Saja, Benar-Benar Baik

Saya adalah mahasiswa universitas Pamulang, dan saya suka menulis artikel dan jurnal.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ali Fattah Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada orang-orang yang setiap hari terlihat baik-baik saja.
Mereka masih datang ke kampus, bekerja, bercanda bersama teman, mengunggah foto di media sosial, membalas pesan dengan emoji tertawa, bahkan sesekali mengatakan, “Aku aman kok.”
Tapi setelah semua keramaian itu selesai, ada malam-malam yang mereka lewati sendirian. Menatap langit-langit kamar, memikirkan masa depan yang terasa semakin dekat, sementara arah yang dituju masih belum jelas.
Mungkin kita pernah menjadi orang itu.
Atau mungkin, tanpa kita sadari, orang yang duduk di sebelah kita sedang mengalaminya.
Tentang Hidup yang Tidak Selalu Sesuai Rencana
Semakin bertambah usia, kita mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang pernah kita bayangkan.
Dulu kita berpikir bahwa setelah lulus sekolah, semuanya akan menjadi lebih mudah. Kuliah akan membawa kita pada pekerjaan impian. Pekerjaan akan membawa kita pada kehidupan yang mapan. Setelah itu, semuanya tinggal menikmati hasil.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Ada rencana yang gagal. Ada kesempatan yang tidak datang. Ada seseorang yang kita kira akan tinggal, tetapi justru pergi. Ada impian yang perlahan berubah karena keadaan.
Dan yang paling melelahkan bukan selalu masalahnya.
Terkadang, yang paling melelahkan adalah melihat orang lain seolah-olah sudah jauh lebih dulu sampai.
Di media sosial, kita melihat teman yang sudah bekerja. Ada yang mulai membangun bisnis. Ada yang bisa membeli kendaraan sendiri. Ada yang pergi ke berbagai tempat. Ada yang menikah. Ada pula yang tampaknya sudah menemukan tujuan hidupnya.
Sementara kita masih bertanya dalam hati:
“Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Kita Sering Membandingkan Babak Pertama dengan Babak Orang Lain
Media sosial membuat kehidupan orang lain terlihat begitu lengkap.
Kita hanya melihat keberhasilan mereka, bukan malam-malam ketika mereka menangis. Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat proses panjang yang mereka jalani. Kita melihat foto bahagia, tetapi tidak tahu apa yang terjadi sebelum kamera dinyalakan.
Itulah sebabnya membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain sering kali terasa tidak adil.
Kita sedang membaca satu halaman dari hidup sendiri, tetapi membandingkannya dengan halaman terbaik dari kehidupan orang lain.
Padahal setiap orang mempunyai waktunya masing-masing.
Ada yang menemukan jalannya di usia dua puluhan. Ada yang baru menemukan keberanian untuk memulai kembali di usia tiga puluhan. Ada yang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya tahu apa yang benar-benar mereka inginkan.
Tidak ada satu jadwal yang berlaku untuk semua orang.
Tidak Apa-Apa Kalau Hari Ini Belum Hebat
Kita hidup di zaman yang seolah-olah menuntut seseorang untuk selalu berkembang.
Harus produktif. Harus sukses. Harus punya pencapaian. Harus menghasilkan sesuatu. Harus terlihat bahagia.
Padahal manusia bukan mesin.
Ada hari ketika kita mampu melakukan banyak hal. Ada pula hari ketika bangun dari tempat tidur saja terasa seperti sebuah pencapaian.
Dan itu tidak membuat kita gagal.
Beristirahat bukan berarti menyerah. Berjalan perlahan bukan berarti tertinggal. Mengubah tujuan bukan berarti tidak punya prinsip.
Terkadang, bertahan sampai hari ini saja sudah membutuhkan keberanian yang tidak sedikit.
Mungkin tidak ada yang memberikan tepuk tangan.
Tidak ada yang membuat unggahan tentang perjuangan kita.
Tetapi kita tahu sendiri berapa banyak hal yang sudah berhasil kita lewati.
Pada Akhirnya, Kita Tidak Harus Menjadi Seperti Orang Lain
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar kehidupan yang terlihat sempurna sampai lupa bertanya:
“Apa sebenarnya yang membuat aku bahagia?”
Bukan apa yang membuat orang lain kagum.
Bukan apa yang membuat kita terlihat sukses.
Bukan pula apa yang sedang menjadi standar lingkungan.
Tetapi apa yang benar-benar kita inginkan.
Sebab hidup bukan perlombaan dengan garis finish yang sama.
Ada orang yang berlari. Ada yang berjalan. Ada yang berhenti sebentar untuk mengatur napas. Ada yang bahkan harus kembali ke belakang sebelum menemukan jalan yang benar.
Semuanya tetap bagian dari perjalanan.
Jadi, jika hari ini hidupmu belum seperti yang kamu harapkan, jangan buru-buru menganggap dirimu gagal.
Mungkin kamu hanya sedang berada di bagian cerita yang belum selesai.
Dan cerita yang belum selesai bukan berarti cerita yang buruk.
Masih ada halaman yang belum ditulis.
Masih ada kesempatan yang belum datang.
Masih ada versi dirimu yang belum kamu temui.
Jadi, tidak apa-apa jika hari ini kamu belum sampai.
Pelan-pelan saja.
Selama kamu masih berjalan, sekecil apa pun langkahnya, kamu masih sedang menuju sesuatu.
Dan suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, mungkin kamu akan tersenyum dan berkata:
“Ternyata, selama ini aku tidak benar-benar tertinggal. Aku hanya punya perjalanan yang berbeda.”
