Ketika AI Bisa Menjawab Segalanya, Apa yang Masih Harus Dipelajari Manusia?

Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya - Praktisi Pendidikan
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Ali Musthafa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membaca Kembali Integrated Twin Towers UINSA

Oleh: Ali Musthafa, M.Pd
Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel Surabaya | Praktisi Pendidikan
Bayangkan seorang mahasiswa mengerjakan tugas kuliah tanpa harus membuka banyak buku. Ia cukup memasukkan perintah ke aplikasi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI), lalu dalam hitungan detik muncul ringkasan teori, gagasan tulisan, bahkan rancangan penelitian. AI telah masuk ke ruang kelas dan mengubah cara mahasiswa memperoleh pengetahuan. Ia bukan lagi teknologi masa depan, melainkan bagian dari kehidupan akademik hari ini.
Perubahan tersebut membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar persoalan boleh atau tidaknya mahasiswa menggunakan AI. Kehadiran AI memaksa perguruan tinggi meninjau kembali makna belajar. Selama ini pendidikan tinggi sering dipahami sebagai proses memperoleh pengetahuan dan keterampilan untuk memasuki dunia kerja. Ketika pengetahuan semakin mudah diperoleh melalui mesin, orientasi tersebut tidak lagi cukup.
AI dapat membantu manusia menemukan informasi, mengolah data, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, bahkan menghasilkan gagasan. Namun kemampuan menghasilkan informasi tidak otomatis membuat seseorang mampu memahami kebenaran, menilai dampak, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkan pilihan. Di sinilah pendidikan memiliki pekerjaan yang tidak sederhana.
Ketika Pengetahuan Menjadi Berlimpah
Selama berabad-abad, universitas menjadi salah satu pusat produksi dan distribusi pengetahuan. Dosen memiliki otoritas keilmuan, buku menjadi sumber utama pembelajaran, sementara mahasiswa datang ke ruang kuliah untuk memperoleh pengetahuan yang belum mereka miliki. Pola tersebut perlahan berubah ketika internet menghadirkan akses informasi yang hampir tidak terbatas dan AI membuat proses memperoleh serta mengolah informasi menjadi semakin cepat.
Masalah pendidikan hari ini bukan lagi kelangkaan informasi. Justru sebaliknya, manusia hidup dalam kelimpahan informasi. Mahasiswa dapat menemukan ribuan artikel, video, pendapat, dan data hanya melalui perangkat yang berada di tangannya.
Tantangan utama pendidikan saat ini adalah kemampuan memilah informasi yang valid, memahami konteks, mengenali bias, dan menentukan pengetahuan yang relevan bagi persoalan nyata.
Dalam kondisi seperti itu, pendidikan tidak cukup berhenti pada kemampuan mengetahui. Pendidikan harus bergerak menuju kemampuan memahami. Pengetahuan perlu ditempatkan dalam konteks sosial, budaya, etika, spiritualitas, dan kemanusiaan. Manusia membutuhkan lebih dari sekadar jawaban yang cepat; manusia membutuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan jawaban tersebut.
AI dan Krisis Makna Pendidikan
Perkembangan AI juga memperlihatkan bahwa sebagian praktik pendidikan selama ini terlalu berorientasi pada produk. Mahasiswa dinilai berdasarkan tugas, makalah, presentasi, atau jawaban ujian. Ketika produk tersebut dapat dibuat dengan bantuan AI, perguruan tinggi perlu lebih serius melihat proses yang menghasilkan produk tersebut.
Sebuah makalah tidak semestinya hanya dinilai dari seberapa rapi tulisannya. Di balik tulisan tersebut terdapat proses membaca, berpikir, membandingkan gagasan, menguji argumentasi, dan membangun posisi intelektual. Proses itulah yang sesungguhnya mendidik manusia.
Jika pendidikan hanya mengejar hasil akhir, AI memang dapat menjadi ancaman. Namun jika pendidikan berorientasi pada pembentukan daya pikir, karakter, integritas, dan kemampuan membaca persoalan secara mendalam, AI justru dapat menjadi alat yang memperkaya proses pembelajaran.
Dengan demikian, tantangan pendidikan tinggi bukan menjauhkan mahasiswa dari AI. Tantangannya adalah membentuk mahasiswa yang mampu menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Dari Dikotomi Ilmu Menuju Dialog Keilmuan
Pada titik inilah gagasan "Integrated Twin Towers UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA)" menjadi menarik untuk dibaca kembali. Paradigma tersebut lahir dari kesadaran bahwa ilmu keislaman dan ilmu umum tidak seharusnya berjalan dalam ruang yang terpisah. Ilmu agama, ilmu sosial-humaniora, sains, dan teknologi dapat saling berdialog untuk memahami persoalan manusia secara lebih utuh.
Gagasan ini menjadi semakin relevan ketika persoalan kontemporer tidak lagi mengenal batas disiplin ilmu. Kemiskinan, misalnya, tidak hanya dapat dibaca melalui perspektif ekonomi. Di dalamnya terdapat persoalan pendidikan, kebijakan publik, budaya, psikologi, agama, dan ketimpangan sosial. Demikian pula persoalan lingkungan tidak cukup dijelaskan hanya melalui ilmu sains karena di dalamnya terdapat dimensi etika, ekonomi, politik, perilaku, dan pandangan manusia terhadap alam.
AI pun demikian. Ia bukan hanya persoalan teknologi. AI berkaitan dengan pendidikan, pekerjaan, ekonomi, hukum, etika, budaya, agama, psikologi, bahkan pemaknaan manusia terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu, memahami AI membutuhkan percakapan lintas disiplin.
Integrated Twin Towers dapat dibaca sebagai salah satu kerangka untuk membangun percakapan tersebut. Dua menara tidak dimaksudkan sebagai dua dunia yang saling berhadapan, melainkan dua rumpun keilmuan yang dapat dihubungkan melalui jembatan dialog dan integrasi.
Jembatan antar menara menjadi bagian paling penting. Jembatan tersebut dapat hadir melalui riset lintas disiplin, pembelajaran kolaboratif, dialog akademik, penguatan literasi digital, dan pendidikan etika. Di sanalah mahasiswa belajar bahwa sebuah persoalan tidak selalu memiliki satu jawaban dan sebuah jawaban tidak selalu dapat dipahami hanya melalui satu disiplin ilmu.
Ketika Teknologi Bertemu Etika
Kemajuan teknologi sering kali membuat manusia terpukau pada kemampuan baru yang sebelumnya dianggap mustahil. AI mampu menghasilkan teks, gambar, suara, dan berbagai bentuk informasi dalam waktu yang sangat singkat. Namun kecanggihan teknologi tidak otomatis menentukan bagaimana teknologi tersebut seharusnya digunakan.
Di sinilah ilmu keislaman memiliki ruang dialog yang penting dengan sains dan teknologi. Teknologi membutuhkan pertimbangan etis, sementara etika membutuhkan pemahaman terhadap perkembangan teknologi. Keduanya tidak perlu ditempatkan dalam hubungan yang saling mendominasi.
AI dapat membantu mahasiswa menyusun gagasan, tetapi integritas akademik tetap berada di tangan manusia. AI dapat membantu peneliti mengolah informasi, tetapi tanggung jawab terhadap kesimpulan penelitian tetap berada pada peneliti. AI dapat membantu manusia mengambil keputusan, tetapi konsekuensi moral dari keputusan tersebut tidak dapat dialihkan kepada mesin.
Semakin canggih teknologi, semakin besar kebutuhan terhadap manusia yang memiliki kemampuan moral. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga manusia yang memahami batas, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaannya.
Universitas sebagai Ruang Pembentukan Manusia
Perubahan teknologi seharusnya membuat universitas kembali memikirkan fungsi dasarnya. Universitas bukan sekadar tempat memperoleh gelar, melainkan ruang untuk membentuk manusia yang mampu berpikir, berdialog, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Mahasiswa masa depan tidak cukup hanya menguasai satu bidang ilmu. Mereka membutuhkan kemampuan membaca persoalan melalui berbagai perspektif. Seorang mahasiswa pendidikan perlu memahami teknologi. Mahasiswa teknologi perlu memiliki kepekaan terhadap persoalan sosial. Mahasiswa ilmu agama perlu memahami perkembangan sains dan teknologi. Sebaliknya, perkembangan sains dan teknologi juga membutuhkan pertimbangan nilai dan kemanusiaan.
Di sinilah integrasi ilmu menjadi kebutuhan, bukan sekadar pilihan akademik. Dunia nyata tidak pernah memberikan persoalan dalam bentuk mata kuliah yang terpisah. Persoalan hadir dalam bentuk yang kompleks dan saling berhubungan. Pendidikan tinggi harus mempersiapkan mahasiswa menghadapi kompleksitas tersebut.
Pendidikan yang Tidak Kehilangan Manusia
AI mungkin akan semakin cepat, semakin cerdas, dan semakin mampu melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan kemampuan manusia. Kondisi tersebut tidak semestinya membuat pendidikan kehilangan arah. Justru perubahan itu menjadi momentum untuk memperjelas kembali apa yang menjadi keunggulan manusia.
Manusia memiliki kemampuan untuk merasakan, mempertimbangkan nilai, memahami pengalaman, membangun relasi, merawat sesama, dan memberikan makna. Kemampuan tersebut perlu menjadi bagian penting dari pendidikan tinggi.
Sehingga pendidikan masa depan bukan tentang manusia yang berusaha mengalahkan AI. Manusia tidak harus lebih cepat daripada mesin. Manusia harus mampu menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan mesin.
Universitas perlu mengajarkan mahasiswa untuk tidak sekadar mencari jawaban, tetapi memahami proses di balik jawaban. Tidak hanya menerima informasi, tetapi menguji kebenarannya. Tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi mempertimbangkan dampaknya. Tidak hanya menguasai ilmu, tetapi memahami untuk apa ilmu tersebut digunakan.
Pada akhirnya, ketika AI semakin mampu menjawab banyak hal, nilai pendidikan justru semakin ditentukan oleh kemampuan manusia dalam menentukan arah penggunaan pengetahuan. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Integrated Twin Towers UINSA menemukan relevansi barunya sebagai gagasan yang mempertemukan ilmu, nilai, dan kemanusiaan.
Dua menara tidak cukup hanya berdiri kokoh. Harus ada jembatan yang menghubungkannya. Sebab masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dapat dikuasai manusia, melainkan tentang seberapa bijak manusia menggunakan pengetahuan untuk kehidupan.
