KKN UNNES GIAT 12 Gelar Sosialisasi Tas Siaga Bencana di SDN 4 Sumogawe

Mahasiswa Universitas Negeri Semarang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari ali Qamarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebanyak 41 siswa kelas 1 hingga 6 SDN 4 Sumogawe mengikuti kegiatan sosialisasi tas siaga bencana dan simulasi gunung berapi pada Jumat, 25 Juli 2025. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan siswa dalam menghadapi potensi bencana alam, khususnya letusan gunung berapi.

Acara dibuka dengan sambutan dari kepala sekolah yang menyampaikan pentingnya edukasi kebencanaan sejak usia dini. Menurutnya, wilayah Desa Sumogawe yang berada di lereng pegunungan memiliki risiko bencana tertentu, sehingga siswa perlu dibekali pemahaman dan keterampilan dasar dalam situasi darurat. Dalam sesi pertama, para siswa mendapat materi mengenai tas siaga bencana, yakni tas yang berisi perlengkapan penting seperti air minum, makanan ringan, senter, peluit, obat-obatan, dan dokumen penting. Tujuan sosialisasi ini adalah agar siswa mengenal isi tas tersebut, memahami fungsinya, dan mampu menyiapkannya sendiri di rumah bersama keluarga. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gunung berapi menggunakan miniatur yang menggambarkan proses letusan. Simulasi ini menunjukkan tanda-tanda awal erupsi, bahan yang dikeluarkan gunung seperti abu vulkanik dan lahar, serta langkah-langkah evakuasi yang benar. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengidentifikasi tanda bahaya, mengetahui jalur evakuasi, dan bersikap tenang saat menghadapi situasi darurat.
Antusiasme siswa terlihat jelas sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, mencoba mempraktikkan penggunaan perlengkapan dalam tas siaga bencana, dan mengikuti arahan simulasi dengan penuh semangat. Guru-guru berharap, melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga memiliki sikap waspada dan rasa tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan orang di sekitarnya. “Edukasi seperti ini sangat penting, apalagi di daerah rawan bencana. Anak-anak perlu dilatih supaya tidak panik, tahu apa yang harus dilakukan, dan bisa membantu orang lain,” ujar salah satu guru pendamping. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya siaga bencana di lingkungan sekolah dan masyarakat. Penyelenggara berharap, pesan kesiapsiagaan yang ditanamkan sejak dini akan terbawa hingga dewasa, sehingga mampu meminimalkan risiko dan dampak bencana di masa depan.
