Konten dari Pengguna

Ketika Motuba Menjelma Menjadi Ikon Kalcer Anak Muda Saat Ini

Alif Abrilian Muhammad

Alif Abrilian Muhammad

Mahasiswa S1, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alif Abrilian Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Honda Civic Nouva. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Honda Civic Nouva. Foto: Pexels

Modernitas membawa kita pada teknologi-teknologi canggih yang kini kita nikmati bersama. Mobil juga turut terkena dampak dari gelombang modernitas tersebut. Di tengah derasnya arus modernitas dan teknologi otomotif yang semakin canggih, muncul fenomena yang justru bergerak ke arah sebaliknya. Anak-anak muda kini ramai-ramai melirik sesuatu yang dianggap usang, yakni mobil tua bangka atau yang akrab disebut motuba. Terkadang terdapat celotehan bahwa motuba itu singkatan dari mobil tua bagus.

Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari perubahan selera dan cara generasi muda memaknai gaya hidup. Beberapa public figure, seperti Iqbal Ramadhan dengan civic nouva nya, Gading Martin dengan starko (starlet kotak), dan banyak influencer-influencer lainnya di media sosial yang memamerkan motubanya. Karena meningkatnya tren-tren tersebut, beberapa motuba kini harganya sudah tidak masuk akal lagi untuk mobil dengan umur tua, seperti Honda civic Estilo yang kini di pasaran harganya mencapai lebih dari setengah miliar.

Motuba perlahan menjelma menjadi simbol baru dalam budaya anak muda, sebuah bentuk ekspresi yang tidak lagi terikat pada kemewahan, melainkan pada makna, karakter, dan keunikan. Anak muda sekarang menyebutnya dengan kalcer.

Motuba pada dasarnya merujuk pada mobil-mobil lama yang sudah tidak diproduksi lagi, tetapi masih memiliki daya tarik tersendiri karena nilai historis dan estetika retronya. Daya tarik ini lah yang justru menjadi magnet kuat bagi generasi muda yang ingin tampil berbeda di tengah homogenitas desain mobil modern. Dalam konteks ini, motuba tidak lagi sekadar kendaraan, tetapi telah bergeser menjadi medium ekspresi diri.

Menariknya, meskipun harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu pintu masuk, ketertarikan anak muda terhadap motuba tidak hanya dilatarbelakangi oleh faktor ekonomi. Lebih dari itu, motuba menawarkan pengalaman yang tidak bisa diberikan oleh mobil modern seperti keterlibatan emosional dan intelektual.

Anak muda yang terjun ke dunia motuba dituntut untuk memahami mesin, merawat kendaraan, bahkan memperbaiki sendiri berbagai kerusakan. Proses ini menciptakan relasi yang lebih intim antara manusia dan mesin. Sesuatu yang mulai hilang dalam era otomotif digital karena telah tersentuh gelombang elektrofikasi.

Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari berkembangnya komunitas. Di berbagai kota seperti Bandung hingga Makassar, komunitas motuba tumbuh sebagai ruang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan bahkan solidaritas sosial. Komunitas ini menjadi wadah penting bagi anak muda untuk belajar, bertukar suku cadang, hingga membangun identitas kolektif sebagai bagian dari kultur tertentu. Komunitas menjadi fondasi utama yang menghidupkan tren ini.

Tantangan Merawat Motuba

Namun demikian, di balik romantisme tersebut, motuba tetap menyimpan tantangan. Usia kendaraan yang sudah tua membuatnya rentan terhadap berbagai masalah teknis, mulai dari komponen yang aus hingga sulitnya mencari suku cadang. Merawat mobil yang umur nya bahkan lebih tua dari pemiliknya membutuhkan ketelatenan, rasa ingin tahu, dan kesabaran tingkat tinggi. Di sinilah letak paradoksnya, apa yang menjadi daya tarik sekaligus menjadi tantangan. Tetapi justru dalam tantangan itulah nilai kalcer motuba menemukan maknanya, bahwa menjadi berbeda membutuhkan usaha lebih.

Bahkan, dalam banyak kasus, merawat mobil tua yang penuh tantangan justru dianggap sebagai bentuk dedikasi dan passion yang bernilai tinggi. Tren ini menunjukkan bahwa gaya hidup anak muda tidak lagi hanya soal tampilan luar, tetapi juga tentang proses dan cerita di baliknya.

Bagi kamu yang ingin memulai langkah pertama dalam perjalanan memelihara motuba, berikut ini beberapa pilihan mobil tua yang ikonik dan memiliki komunitas aktif:

1. Toyota Corolla DX (KE70)

Toyota Corolla salah satu sedan legendaris yang menjadi pilihan menarik karena memadukan nilai estetika klasik dengan kemudahan perawatan khas mobil Jepang, ditambah ketersediaan spare part yang masih cukup baik serta komunitas aktif yang menjaga eksistensinya.

2. Honda Civic Wonder (SB3)

Memiliki desain kompak, sporty, dan terkenal dengan mesinnya yang bandel. Mobil Hatchback ini sering disebut dengan mobil setrika di kalangan komunitas karena desain bodynya yang tegas menyerupai setrika.

3. Honda Civic Nouva (SH3)

Civic generasi ke 4 yang memiliki desain kompak seperti pendahulunya, yakni civic wonder. Mobil ini terkenal dengan desainnya yang menarik di kalangan anak muda.

4. Honda Civic Estilo (SR3)

Mobil yang kini harganya sudah sangat gelap. Sampai ada istilah bahwa memelihara mobil ini sama dengan investasi. Memiliki desain sporty, gampang untuk dimodif apa saja, dan desain timeless yang membuat mobil ini sangat menarik.

5. Toyota Starlet (Kotak/Kapsul)

Toyota Starlet cocok untuk pemula karena ukurannya yang kompak dan mudah dikendalikan, mesin yang terkenal awet, serta ketersediaan suku cadang yang masih terjaga, sehingga memberikan pengalaman awal yang relatif ringan dalam merawat mobil tua.

6. Toyota Kijang (Super/Kapsul)

Mobil yang terkenal dengan julukan “tahan banting” dengan mesin sederhana yang mudah dirawat, suku cadangnya melimpah hingga ke daerah, serta didukung komunitas besar di seluruh Indonesia, sehingga memudahkan pemilik baru dalam belajar dan mencari solusi ketika menghadapi kendala.

Serta masih banyak lagi mobil-mobil tua yang menjadi ikon saat ini, seperti Mitsubishi dengan Lancer nya, BMW dengan E30 dan E36, Mazda dengan Mazda 323 Interplay atau Astina.

Pada akhirnya, fenomena motuba mencerminkan pergeseran cara pandang anak muda terhadap gaya hidup. Mereka tidak lagi hanya mengejar yang baru, cepat, dan instan, tetapi juga menghargai yang lama, proses, dan nilai historis. Motuba kini bukan sekadar kendaraan tua yang ketinggalan zaman, melainkan telah bertransformasi menjadi simbol dari identitas dan pencarian makna di tengah dunia yang semakin seragam.