Konten dari Pengguna

Meneropong Manusia di Masa Depan: Resensi Buku Homo Deus Youval Harari

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alif Abrilian Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku Homo Deus: Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Buku Homo Deus: Dokumen Pribadi

Setelah sukses dengan bukunya berjudul “Sapiens” kini Youval Harari kembali hadir dengan bukunya yang terbaru. Buku ini juga merupakan sekuel dari “Sapiens” mengingat buku tersebut sangat laku di pasaran. Buku terbarunya yang juga sukses ini berjudul “Homo Deus” Buku ini sudah lama masuk ke dalam wishlist saya setelah selesai membaca “Sapiens”. Namun, karena wishlist saya terlalu banyak, juga buku-buku untuk menunjang kuliah saya juga sudah mengantre, terpaksa saya menunda-nunda untuk membeli buku ini.

Pada kesempatan ini saya akan membagikan pengalaman saya saat membaca “Homo Deus” karya Youval Harari. Ini adalah pendapat saya terhadap buku ini. Jadi, jika anda tertarik untuk membaca buku ini, saya sarankan silakan membacanya terlebih dahulu bukunya.

Homo Deus dibagi tiga bagian dalam tiga bab besar lalu diikuti oleh subbab-subbab kecil oleh Youval Harari. Tiga bab tersebut antara lain, Homo Sapiens Menakulkan Dunia, Homo Sapiens memberi makna bagi dunia, dan Homo Sapiens kehilangan kendali.

Judul-judul bab yang sangat revolusioner tentunya daripada buku sebelumnya. Saat saya membaca judul-judul bab tersebut saya langsung merasa bahwa Harari mempunyai kecondongan ke arah pesimisme dalam menghadapi masa depan manusia. Pendapat saya ini diperkuat ketika saya mulai membaca halaman demi halaman bukunya. Mulai dari cara Harari mengagungkan budaya primitif dengan budaya kerja modern yang menurutnya sangat mengerikan dan sangat tidak manusiawi. Intinya Harari mencoba mengkontraskan budaya masa lalu lebih dapat diterima manusia daripada budaya manusia modern dan kedepannya, lagi-lagi ini adalah pendapat saya.

Yang menjadi bagian menarik bagi saya adalah Harari menuliskan tulisan-tulisan ini menggunakan prespektif yang lain, alih-alih menggunakan pemikiran ilmiah, meskipun buku ini tergolong ke dalam suatu kajian ilmiah, Harari menggunakan prespektif pengulangan Sejarah atau pola-pola sejarah pada masa lampau. Tidak heran jika ia menggunakan prespektif ini karena latar belakang dia pun sebetulnya lulusan Sejarah. Saat saya membaca buku ini yang ada dalam benak saya adalah Harari seorang peramal masa depan yang menggunakan magis tertentu untuk meyakinkan pembaca dengan gaya menulisnya.

Bab Pertama (Homo Sapiens menaklukan dunia)

Pada bab pertama ini, yang menjadi sorotan bagi saya adalah Harari sangat menyinggung tentang Anthroposentrisme. Keyakinan bahwa manusia lah yang menjadi pusat alam semesta. Ia mengkritik habis-habisan tentang paham anthroposen pada bab ini, mulai dengan menanyakan apakah kesadaran makhluk selain manusia seperti tikus-tikus laboratorium tidak lebih berharga dengan kesadaran manusia? Harari sukses mengobrak-abrik paham anthroposen.

Selain itu, Harari pada bab ini juga menjelaskan tentang kematian Deisme. Harari berpendapat mungkin Sebagian orang di Bumi masih percaya akan adanya sifat imanen dan transenden, tetapi bukan berarti deisme belum mati, hanya saja tubuhnya belum dibuang dan kita menganggapnya masih hidup, begitulah yang ia katakana di bukunya.

Hal itu dimulai ketika manusia beranggapan bahwa organisme adalah sebuah sekumpulan algortima genetik yang akan bisa dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Ketika doa-doa dan puji-pujian tampaknya belum bisa menyelesaikan masalah manusia, Ilmu pengetahua hadir dengan lebih menjanjikan. Ilmu pengetahuan bak air kelapa di teriknya padang gurun. Manusia sadar ketika pada abad sebelumnya dihadapkan dengan sebuah wabah, kelaparan, dan perang, manusia dapat mengatasinya dengan sejumlah ilmu pengtahuan yang ada. Kini manusia menuntut sebuah sifat keilahiah setelah dapat menaklukan maslah-maslah tersebut dengan ilmu pengetahuan terelpas dampaknya terhadap dunia.

Bab kedua (Homo Sapiens Memberi makna bagi dunia)

Kini kita berlanjut ke bab selanjutnya yaitu, Homo Sapiens memberi makna bagi dunia. Setelah hancurnya posisi deisme pada bab pertama, kini deisme digantikan dengan ajaran humanisme. Hari ini mungkin banyak agama melebur dengan Humanisme, tetapi mungkin dalam buku ini Harari akan memberikan magisnya kepada banyak orang untuk bergabung pada humanisme.

Jujur saja bab ini mungkin akan memberikan pengalaman tidak nyaman bagi Anda, terutama bagi Anda yang menganut ajaran agama. Harari akan mencoba memojokkan Anda dari berbagai arah. Seperti serangan yang bertubi-tubi, seperti bahwa vaksin-vaksin dari laboratorium lebih dapat bisa diandalkan daripada sebuah doa. Bahkan juga ia mengutip filsuf Yunani kuno, Epicurus, yang mengatakan bahwa menyembah Tuhan itu membuang-buang waktu.

Kembali lagi pada Humanisme yang menjadi fokus bab ini. Humanisme sendiri terbagi menjadi tiga bagian yang saling mengkritik. Humanisme Liberal, Humanisme Sosialis, dan Humanisme Evolusioner. Humanisme Liberal beranggapan bahwa kebebasan kehendak individu adalah sesuatu yang dimuliakan yang akan melahirkan sebuah aliran ekonomi kapitalis yaitu pasar bebas—harga sesuai ketentuan pasar. Humanisme Sosialis, humanisme ini beranggapan bahwa kesadaran bersamalah yang harus diutamakan daripada kesadaran individu, karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berkelompok, pandangan ini membawa kita kepada paham komunisme. Lalu yang terakhir adalah Humanisme Evolusioner, humanisme yang berpandangan pada proses evolusi atau hukum rimba, yang terkuatlah yang akan bisa melanjutkan keturunan.

Tak lupa, lagi dan lagi Harari menggunakan perbandingan Sejarah dalam menyampaikan pendapatnya. Ia mengungkapkan bahwa tidak ada sistem kepercayaan yang abadi, tetapi hanya berlangsung sesaat. Seperti keyakinan-keyakinan terdahulu yang telah runtuh. Begitupun dengan keyakinan Humanisme ini, Harari meramalkan bahwa humanisme nantinya juga akan runtuh. Keruntuhan Humanisme ini akan dibahas pada bab terakhir.

Bab Ketiga (Homo Sapiens kehilangan kendali)

Setelah runtuhnya humanisme, Harari pada bab ini mengnalkan agama baru yang disebut agama data. Sebuah penyegaran yang sangat berani. Saya terkejut ketika Harari sendiri menyebutkan sebuah agama data. Agama data sendiri menurut Harari terjadi ketika manusia sudah sangat bergantung pada teknologi, bahkan kesadaran kita sendiri ada di bawah teknologi. Ketika kebebasan data kita dibiarkan sebebas-bebasnya dan semua perangkat dapat mengaksesnya, sehingga kita sendiri tidak mengenali siapa kita. Namun, teknologi lah yang malah bisa lebih mengenali kita daripada kita sendiri. Di situ lah agama data akan tercipta.

Manusia telah melaju sangat cepat dari yang kita bayangkan. Mungkin manusia akan berubah dari Homo Sapiens menjadi Homo Deus. Bisa dibayangkan ketika pada abad ke-20 kedokteran bertujuan menyembuhkan orang sakit, sedangkan kedokteran pada abad ke-21 bertujuan memperbaharui orang sehat.

Selain itu, teknologi juga memberikan akses kepada kita tentang AI. AI disini digambarkan sebagai pedang bermata dua bagi manusia. Manusia menjadi terlena akan kemudahan teknologi yang ia ciptakan sendiri. Mulai dari sinilah homo sapiens kehilangan kendalinya. Harari mengikrarkan ramalannya ini bahwa akhir dari periode manusia akan dihancurkan oleh dirinya sendiri.

Buku ini diakhiri dengan ending menggantung. Para pembaca seoalah dibiarkan dalam nihilisme yang sangat gelap. Akan tetapi, Harari sukses untuk menggiring pembaca pada prespektif-prespektif baru mengenai masa depan manusia. Setelah saya pikir-pikir, buku ini tidak akan bisa memberikan anda kebahagiaan, jika anda berpikir ingin mencari kebahagiaan bagi manusia di masa depan dengan kemajuan teknologinya, anda salah. Buku ini menurut saya lebih bertemakan distopia. Seperti yang telah saya sebutkan di awal, Harari lebih condong ke arah pemikiran pesimisme. Anda akan merasakan kemanusiaan yang mulai memudar dan pesimisme dalam jiwa Anda akan menjadi semakin besar.

Kesimpulan dari saya adalah cukup anggap buku ini sebagai sebuah karya postmodern yang mencoba memberikan sudut pandang lain dari masa depan. Untuk menghabiskan buku ini perlu kebijaksanaan yang sangat besar karena banyak sekali pendapat-pendapat atau bahkan fakta yang dapat mengusik pemikiran yang telah disusun manusia selama berjuta-juta tahun, terutama dalam bab kepercayaan.

Ada satu pertanyaan yang saya suka dari buku ini yang diselipkan oleh Harari di akhir buku ini, yaitu apa yang lebih berharga, kecerdasan atau kesadaran? Pertanyaan filosofis yang hanya bisa dijawab oleh waktu selama manusia masih menapakkan kaki di bola kosmos ini.

Mungkin itu saja ulasan dari saya mengenai buku Homo Deus karya Youval Harari ini. Terima kasih telah membacanya.