Riak Trauma dalam Ingatan yang Tak Pernah Tenggelam

Mahasiswa S1, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta
·waktu baca 26 menit
Tulisan dari Alif Abrilian Muhammad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bila mitos itu benar, bahwa ikan mas koki hanya mampu mengingat selama tiga detik, Lian akan mengirim surel kepada Tuhan dan minta dikutuk menjadi ikan. (Sasti Gotama, Ingatan Ikan-Ikan, 2024)
Tidak semua luka berdarah di permukaan. Ada luka yang hidup diam-diam di dalam ingatan tanpa bisa diperban oleh perban manapun, tumbuh bersama waktu, lalu menjelma menjadi kecemasan yang terus menghantui manusia sepanjang hidupnya. Sastra sering kali lahir dari ruang-ruang sunyi semacam itu, ruang ketika manusia gagal berdamai dengan masa lalu dan akhirnya terjebak dalam dirinya sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, sastra Indonesia kontemporer semakin ramai menghadirkan karya-karya yang menyoroti persoalan psikologis manusia, terutama mengenai trauma, kehilangan, dan pergulatan batin seseorang. Novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, misalnya, memperlihatkan trauma kehilangan dan ingatan keluarga korban penghilangan paksa. Sementara itu, Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo menghadirkan pergulatan batin perempuan dalam menghadapi kekerasan dan tekanan budaya patriarki. Karya lain seperti Kita Pergi Hari Ini atau Tempat-Tempat Indah dalam Mimpi-Mimpi Anak-Anak Baik-Baik karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie bahkan memperlihatkan luka psikologis manusia melalui simbol, absurditas, dan relasi emosional yang kompleks. Kehadiran karya-karya tersebut menunjukkan bahwa sastra Indonesia modern tidak lagi hanya berbicara tentang peristiwa besar di permukaan, tetapi juga tentang dunia batin manusia yang rapuh dan penuh kegelisahan.
Novel Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama hadir sebagai salah satu karya yang menawarkan pembacaan mendalam mengenai luka batin dan ingatan manusia. Novel yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2024 ini memiliki ketebalan 184 halaman dengan harga Rp79.000. Melalui gaya penceritaannya yang tenang merekam adegan-adegan di setiap lembar buku dibuka, Sasti Gotama menghadirkan kisah tentang manusia-manusia yang hidup di bawah bayang-bayang trauma dan cinta. Cerita novel ini bukan sekadar kenangan dan trauma-trauma masa lalu, melainkan sesuatu yang terus hidup dan memengaruhi cara tokoh-tokohnya memandang diri sendiri maupun dunia di sekitarnya.
Sebagai pengarang, Sasti Gotama merupakan penulis kelahiran Malang yang memiliki latar belakang sebagai seorang dokter yang jatuh cinta dengan dunia aksara. Perjalanannya dalam menulis dimulai pada tahun 2019 ketika dirinya terbaring sakit. Dalam kondisi tersebut, ia mulai menulis cerita-cerita pendek sederhana melalui telepon genggamnya lalu membagikannya di media sosial. Dari proses yang awalnya personal itu, namanya perlahan dikenal luas dalam dunia sastra Indonesia. Ia aktif mengikuti berbagai ajang sastra nasional maupun internasional, termasuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Sejumlah karyanya juga memperoleh perhatian besar, seperti kumpulan cerpen Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam yang menjadi salah satu buku rekomendasi Tempo tahun 2020 sekaligus meraih juara pertama Sastra Rasa tahun 2022. Selain itu, kumpulan cerpennya yang berjudul Akhir Kisah Gajah di Bukit Kupu-Kupu berhasil memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2025 kategori kumpulan cerpen. Dalam dunia novel, Sasti Gotama juga dikenal melalui karya-karya yang mengangkat persoalan perempuan dan psikologis, seperti Korpus Uterus yang mendapatkan perhatian dalam sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2023. Sementara itu, Ingatan Ikan-Ikan sendiri berhasil masuk ke dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2025.
Melalui novel yang diangkat dari kejadian kerusuhan 98 terhadap ras tertentu, Sasti Gotama tidak menghadirkan konflik yang meledak-ledak atau dramatis secara berlebihan. Ia justru membangun cerita melalui percakapan batin dan luka-luka psikologis yang tumbuh di dalam diri tokoh-tokohnya. Pembaca diajak untuk menyelami bagaimana manusia berusaha bertahan di tengah trauma, rasa bersalah, kehilangan, dan tekanan sosial yang tidak pernah benar-benar selesai. Oleh sebab itu, Ingatan Ikan-Ikan menjadi menarik untuk dibaca menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud, terutama untuk melihat bagaimana id, ego, dan superego bekerja dalam membentuk konflik batin para tokohnya.
Ingatan Ikan-Ikan merupakan novel pertama dari Sasti Gotama. Meskipun novel ini berstatus novel pertamanya, tetapi cerita yang disajikan sudah cukup untuk menciptakan rasa penasaran dari pembaca. Alur ceritanya bisa dibilang perlahan-lahan dalam membocorkan inti cerita.
Sesungguhnya, ingatan adalah entitas yang brutal. Kadang menyaru sebagai fakta solid, kemudian menyeru sebagai satu-satunya kebenaran. (Hal. 7)
Salah satu kutipan tersebut menjadi sebuah pengantar sempurna untuk membuka tabir pertunjukkan yang akan dibangun oleh Sasti Gotana. Sasti mengajak kita merenung mengenai ingatan yang kita punya.
Cerita dibuka dengan diperkenalkannya dengan tokoh utama perempuan bernama Lian Wen, seorang dokter hewan keturunan Tionghoa yang memilih hidup menyendiri bersama seekor ikan koki buta. Bukan karena dia sombong atau sengaja membangun tembok tinggi dengan orang sekitar, tetapi dia akan pingsan saat mendengar suara tawa dari seseorang. Dia sendiri juga tidak bisa tertawa, menurutnya pilihan yang ada hanyalah menghindarinya. Hal itu juga alasan dia bekerja sebagai dokter hewan karena menurutnya dengan menjadi dokter hewan ia akan lebih banyak berinteraksi dengan hewan yang tidak bisa tertawa.
Hingga suatu hari di tahun 2005, pada hari pertama Lian bekerja di klinik Mengmeng, datang sebuah surat misterius untuknya. Surat itu tertulis untuk Lian Wen dan di sisi satunya bertuliskan “Apakah Anda percaya pada keajaiban?” Penulis dari surat tersebut seolah ingin membuat Lian penasaran.
Di sisi lain, ada sosok pria bernama Ombak yang memiliki kesulitan tidur setiap malam. Dia selalu melakukan segala hal agar dapat tidur nyenyak. Namun, hal itu tidak berarti, mimpi-mimpi buruk yang selalu menghantuinya tetap menerobos masuk mendobrak ingatan-ingatan Ombak yang membuatnya ketakutan. Ombak menerima surat yang sama dengan Lian Wen. Surat yang mengajaknya percaya pada keajaiban, surat yang mengajaknya untuk terbebas dari mimpi buruknya, surat yang mengajaknya menghapus semua ingatan buruknya.
Kemudian alur berubah pada tahun 1998. Ombak adalah seorang loper koran dan sesekali ia membantu di toko Koh Wen karena ia hidup di keluarga yang kurang beruntung. Dia hidup mandiri tanpa bantuan orang tuanya sembari menghidupi adiknya, Awan. Di toko Koh Wen ini lah ia bertemu dengan anaknya, Lian. Lian adalah sosok wanita yang diidamkan oleh Ombak, menurutnya Lian adalah sosok wanita yang ideal. Maka dari itu, bekerja di toko Koh Wen bukanlah satu-satunya alasan, ia ingin melihat Lian setiap saat. Setelah berbagai pendekatan akhirnya mereka semakin dekat, hingga ombak memberanikan diri pergi ke rumah Lian hanya untuk memberikan sepasang ikan koki untuknya. Lian juga bukan dari keluarga yang sempurna, ia hanya tinggal berdua dengan papi nya, Koh Wen. Semuanya bahagia dengan mimpi besarnya yang sama, menjadi dokter. Hingga tiba di hari kamis, hari dimana kegelapan akan menyelimuti mereka selamanya. Hari dimana Lian mulai membenci suara tawa, hari dimana Lian tidak akan memaafkan dirinya, hari dimana Lian merasa jijik dengan dirinya sendiri. Begitu pun dengan Ombak. Ombak menemukan mimpi buruknya yang akan menghantui dalam mimpinya selamanya.
Depresi yang diakibatkan dari kejadian kelam itu sangat dalam. Keduanya terpaksa memulai kehidupannya masing-masing. Lian pindah kota dan melanjutkan kuliah di kedokteran hewan. Pun dengan Ombak, meninggalkan kota, menikah dengan adik temannya, membuka toko ikan, dan dikaruniai satu anak. Mereka terpaksa memakai topeng untuk menyambung hidup mereka sembari menyimpan luka yang terlalu parah untuk diobati. Lalu keduanya menerima sebuah surat misterius yang mengarahkan mereka kepada Penatu Binata. Mereka datang secara terpisah ke tempat itu. Mereka mempunyai harapan yang sama, harapan untuk membuat diri mereka lebih baik.
“Untuk beberapa orang, harapan tak ubahnya rumput di pinggir sungai yang digenggam ketika arus sungai menghanyutkannya. Serapuh apa pun akar serabut rumput, jika itu bisa membuat orang bertahan supaya tak tenggelam, apa masalahnya?” (Hal. 43)
Namun, perjalanan mereka tentu tidak habis di sini saja. Terdapat mitos yang berkata bahwa ikan mas koki hanya mampu mengingat selama tiga detik. Sebagai individu yang mengalami trauma, Lian rasanya ingin mengirim surel kepada Tuhan agar ia dikutuk saja menjadi ikan. Lian mencitrakan ingatan sebagai tawa manusia yang menjelma jarum-jarum menyakitkan. Sementara Ombak memvisualkan ingatan sebagai kaki-kaki sewarna arang dalam kantong hitam. Kesulitan antara bertahan hidup tanpa dihantui ingatan kelam menjadi kendala bagi keduanya untuk hidup secara lazim. Lalu Penatu Binata hadir, menawarkan jasa mencuci ingatan. Namun, apakah kekuatan besar di balik canggihnya Penatu Binata dapat menyembuhkan luka mereka? Pada titik ini, Sasti sukses membuka tabir perlahan-lahan sehingga memunculkan rasa penasaran bagi pembacanya.
Secara tematik, novel ini bergerak di sekitar persoalan trauma sejarah dan proses pemulihan luka batin. Tema tersebut dibangun melalui kehidupan tokoh-tokohnya yang menjadi korban kerusuhan 1998 dan terus dihantui pengalaman masa lalu mereka. Trauma di dalam novel ini tidak hadir sebagai sesuatu yang selesai dengan berlalunya waktu. Sebaliknya, trauma justru menjadi ingatan yang terus bergerak lalu muncul kembali dalam bentuk kecemasan, ketakutan, hingga kesulitan tokoh untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Dalam hal ini, Sasti Gotama tampak tidak sekadar menulis tentang tragedi sejarah sebagai peristiwa sosial-politik, tetapi juga sebagai luka psikologis yang diwariskan secara personal kepada individu-individu yang mengalaminya. Latar waktu ini selaras dengan gejolak politik Indonesia pada tahun 1998. Kerusuhan 1998 sendiri merupakan salah satu tragedi sosial-politik paling kelam dalam sejarah Indonesia pasca-Orde Baru. Menurut banyak kesaksian dan media-media yang beredar, peristiwa tersebut dipenuhi penjarahan, pembakaran, kekerasan massal, hingga kekerasan seksual yang banyak menimpa perempuan Tionghoa. Kekacauan yang berlangsung di berbagai kota, terutama Jakarta, tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga trauma berkepanjangan bagi para penyintasnya. Banyak korban hidup dalam ketakutan, kehilangan keluarga, kehilangan rumah, bahkan kehilangan rasa aman terhadap identitas mereka sendiri. Dalam konteks inilah Ingatan Ikan-Ikan terasa begitu dekat dengan realitas sejarah Indonesia. Sasti Gotama menyulap tragedi 1998 tidak hanya digunakan sekadar sebagai latar peristiwa, melainkan sebagai luka kolektif yang membekas di dalam tubuh dan ingatan manusia.
Tema tersebut diperkuat melalui penggunaan alur maju-mundur yang menjadi salah satu kekuatan struktur novel ini. Sasti Gotama membangun dua lapisan waktu yang saling bertaut. Lapisan pertama berada pada tahun 2005, tujuh tahun setelah kerusuhan 1998, ketika para tokoh berusaha menjalani hidup baru setelah tragedi berlalu. Tahun 2005 menghadirkan suasana yang lebih tenang di permukaan, tetapi sebenarnya masih menyimpan luka yang belum sembuh. Sementara lapisan kedua bergerak pada masa menjelang dan saat kerusuhan Mei 1998 berlangsung. Kerusuhan 1998 digambarkan sebagai ruang penuh ketakutan, kekerasan, dan ketidakpastian. Kekontrasan peristiwa ini lah yang digunakan Sasti untuk menjalankan ceritanya. Perpindahan waktu yang tidak linear ini bukan semata-mata teknik bercerita, melainkan juga representasi psikologis dari trauma itu sendiri. Ingatan traumatis tidak bekerja secara runtut, ia datang secara tiba-tiba, meloncat-loncat, dan kerap menyeret manusia kembali pada masa lalu yang sebenarnya ingin dilupakan. Dalam konteks ini, struktur alur novel seolah mengikuti cara kerja ingatan manusia yang retak akibat trauma. Melalui novel ini, Sasti Gotama seolah ingin mengingatkan pembaca bahwa tragedi 1998 bukan hanya meninggalkan kerusakan fisik dan politik, tetapi juga trauma berkepanjangan bagi para penyintasnya.
Dari segi sudut pandang, penggunaan sudut pandang orang ketiga membuat cerita terasa lebih leluasa dalam menelusuri kehidupan batin para tokohnya. Narator menjadi pencerita peristiwa dan pengamat yang perlahan membuka tabir psikologis tokoh-tokohnya. Teknik ini memungkinkan pembaca melihat pergulatan emosional para tokoh secara lebih dekat tanpa kehilangan jarak reflektif sebagai pembaca.
Jika dibaca menggunakan lensa psikoanalisis Sigmund Freud, konflik batin yang dialami Lian dan Ombak memperlihatkan pertarungan antara id, ego, dan superego di dalam diri manusia. Dalam bukunya yang berjudul The Ego and The Id (1923), Freud menjelaskan bagaimana tiga komponen kepribadian tersebut berinteraksi hingga akhirnya membentuk perilaku manusia. Dalam struktur kepribadian menurut Freud, id, ego, dan superego mempunyai prinsip yang berbeda dalam pembentukan kepribadian individu. Id merupakan bagian yang bekerja atas dasar prinsip kesenangan dan dorongan insting. Ia akan selalu mendorong individu untuk selalu memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Dalam konteks tokoh Lian, id nya terlihat melalui dorongannya untuk lari dari rasa sakit. Ego adalah struktur kepribadian yang menjembatani antara kebutuhan id dan realitas. Ego akan berusaha memenuhi keinginan dari id, tetapi dengan cara yang sesuai dengan realita sosial dan dalam konteks Lian, ego bekerja dalam pengambilan keputusan yang rasioanl. Sedangkan superego merupakan struktur kepribadian yang menyerap norma dan nilai sosial dari realitas. Dalam kasus Lian, superego bekerja sebagai bentuk panndangan moral dan nilai sosial yang dia anut. Namun, ketika nilai ini bertentangan dengan id nya, maka Lian akan mengalami pergolakan batin.
Trauma masa lalu memunculkan kecemasan dan dorongan bawah sadar yang terus menghantui Lian dan Ombak. Dalam beberapa situasi, mereka tampak ingin melupakan masa lalu dan mencari ketenangan sebagai bentuk dorongan ego untuk bertahan dalam realitas. Namun, ingatan traumatis yang terus muncul memperlihatkan bagaimana alam bawah sadar bekerja secara represif dan tidak pernah benar-benar bisa ditekan sepenuhnya. Freud menyebut kondisi semacam ini sebagai bentuk represi, yakni pengalaman menyakitkan yang ditekan ke alam bawah sadar, tetapi sewaktu-waktu kembali muncul dalam bentuk kecemasan, ketakutan, atau gangguan psikologis lainnya.
Trauma yang dialami Lian akibat peristiwa kerusuhan 1998 menjadikan dirinya hidup dalam keadaan selalu waspada terhadap berbagai pemicu yang mengingatkannya pada masa lalu. Salah satu pemicu tersebut adalah suara tawa. Pada kutipan ini misalnya:
Karena itu, di hari pertamanya bekerja, Lian berpesan kepada Kenes, jangan tertawa di depannya. (Hal. 14)
Refleks, Lian membentak Kenes untuk diam, yang setelah itu segera Lian sesali. Karena itu, dia mengambil jalan tengah. Setiap pagi, sebelum pasien berdatangan, Lian mengulang kembali pesan agar Kenes tidak tertawa, apa pun jenisnya. (Hal. 15)
Pada hari pertama bekerja, Lian secara khusus meminta Kenes agar tidak tertawa di depannya. Ketika permintaan itu dilanggar, ia bahkan refleks membentak sebelum akhirnya memilih mengulang pesan tersebut setiap pagi. Sikap ini menunjukkan bagaimana ego bekerja sebagai penengah antara kecemasan batin dan tuntutan realitas. Ego di sini berfungsi sebagai mediator antara dorongan bawah sadar (id) dan realitas sosial. Lian menyadari bahwa ia tidak dapat mengontrol perilaku orang lain sepenuhnya, tetapi ia berusaha menciptakan lingkungan yang menurutnya aman agar dapat tetap berfungsi dalam kehidupan sosial. Upaya mempertahankan kestabilan diri juga tampak melalui berbagai kebiasaan yang dilakukan Lian untuk meredakan kegelisahan. Seperti upaya Lian dalam kutipan berikut:
Suara dari Toko Mengmeng menyisip melewati celah tingkap kaca. Tak bisa diprediksi, apakah di antara himpunan pembeli itu ada yang akan terkikik atau terbahak. Karena malas bangkit dan menutup gorden. Lian meraih kapas dari rak periksa, lantas menyumpal telinga. (Hal. 17)
Selama kuliah, dia hanya datang, duduk di pojok kelas, mencatat, dan langsung pulang, tanpa menyapa ataupun disapa mahasiswa lain. (Hal. 17)
Dengan gelisah, Lian mengetuk-ngetuk pahanya sebanyak tujuh kali. Lalu dia ulangi, ulangi, ulangi lagi. Pada setiap ketukan, dia merasa tenang. (Hal. 23)
Ia menyumpal telinganya dengan kapas ketika mendengar suara yang mengganggu, memilih duduk menyendiri di pojok kelas selama masa kuliah, serta berulang kali mengetuk pahanya ketika merasa cemas. Seluruh tindakan tersebut memperlihatkan strategi pertahanan diri yang dibangun ego untuk melindungi individu dari tekanan psikologis yang terlalu besar. Dalam perspektif Freud, mekanisme tersebut menunjukkan bahwa ego berusaha menjaga keseimbangan antara dunia luar dan luka-luka yang terus bergerak di dalam alam bawah sadar dalam diri seseorang.
Namun, kemampuan ego untuk mengendalikan trauma tidak selalu berhasil. Seperti yang dikatan Freud di awal bahwa ingatan traumatis yang muncul tidak bisa ditekan sepenuhnya. Hal ini juga diangkat oleh Sasti dalam novelnya ini. Pada beberapa bagian, Sasti Gotama memperlihatkan bagaimana ingatan traumatis yang tersimpan dalam ketidaksadaran muncul kembali secara tiba-tiba dan mengambil alih kendali diri Lian. Ketika mendengar tawa Kenes, misalnya, suara tersebut menjelma menjadi pengalaman sensoris yang menyakitkan.
Belum selesai mengucap kata, Kenes terkikik sendiri. Mendadak tawa itu menjelma hujan berwarna putih berkilauan. Nmaun, itu bukan air. Itu hujan tepung gandum yang seruncing jarum. Kilauan putih itu menghujani Lian hingga dia merasakan nyeri yang begitu dahsyat di perut bagian bawahnya. Nyeri itu kemudian menjelma akar pegagan yang merayapi dada, punggung, dan kepala Lian. Hanya itu yang Lian ingat sebelum tubuhnya limbung mengahantam lantai (Hal. 16)
Lian membayangkan hujan tepung gandum yang seruncing jarum menghantam tubuhnya hingga ia merasakan nyeri hebat sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Reaksi ini tidak lahir dari pertimbangan rasional, melainkan dari dorongan bawah sadar yang muncul secara spontan. Dalam kerangka psikoanalisis Sigmund Freud, kondisi ini mencerminkan kerja id yang beroperasi berdasarkan prinsip kesenangan dan ketidaksadaran, di mana dorongan atau trauma yang terpendam muncul secara spontan tanpa melalui pertimbangan rasional. Hal yang sama terlihat ketika Lian menandak-nandak di atas kasur sambil menghentak-hentakkan kepalanya demi mengusir suara tawa yang terus menghantuinya seperti pada kutipan berikut:
Lian menandak-nandak di atas kasur sambil menghentak-hentakkan kepala, ke kiri, ke kanan, ke depan, berharap suara tawa itu hengkang. (Hal. 144)
Dalam kondisi tersebut, id mengambil alih kesadaran dengan menghadirkan respons emosional dan fisik yang tidak lagi berada dalam kendali rasio. Trauma yang selama ini ditekan muncul kembali sebagai ledakan psikis yang memperlihatkan betapa rapuhnya batas antara masa lalu dan masa kini.
Seolah ingin melengkapi teori psikoanalisis Freud, Sasti Gotama tidak hanya memperlihatkan dominasi id dan ego, tetapi juga menunjukkan kuatnya pengaruh superego dalam diri tokohnya. Pergulatan superego tampak dalam hubungan Lian dengan Ombak. Pada satu sisi, Lian memiliki keinginan untuk tetap berhubungan dengan Ombak. Ia merindukan kehadiran lelaki itu dan ingin sekadar mendengar suaranya seperti dahulu sebelum kerusuhan. Namun, kompas moralnya mengatakan bahwa Ombak adalah sesuatu yang “salah” dan karena itu tidak boleh dipertahankan karena kini Ombak sudah mempunyai anak-istri. Lian tidak mau terjerumus ke dalam hubungan perselingkuhan. Kebimbangan Lian diperjelas dengan kutipan berikut:
Tapi, tidak ada Ombak. Karena Ombak adalah "salah". Dan, salah tidak menjelma benar hanya karena Lian sengsara. Namun, kini, dia ingin menelponnya. Sekadar mendengar suara. Tidak, tidak boleh menelpon. Bagaimana jika mengirim pesan saja? Hanya menanyakan kabar. Hentikan! Siapa yang kau bohongi, Lian? Diri sendiri. (Hal. 158)
Dia menggigit bibir, lantas mengetik ulang. Sekadar salam. Tak ada salah dengan salam saja, bukan? ini masih putih, tidak abu-abu, apalagi hitam. Namun, kemudian dia menyesal. Lian mengetik pesan baru yang menyebutkan bahwa dia salah kirim. (Hal. 160)
Pertarungan antara hasrat dan moralitas tersebut terlihat ketika Lian berdebat dengan dirinya sendiri mengenai keinginan untuk menelepon atau mengirim pesan kepada Ombak. Bahkan ketika akhirnya ia memberanikan diri mengirim salam sederhana, rasa bersalah segera muncul dan memaksanya mengirim pesan baru yang menyatakan bahwa ia salah kirim. Dalam konteks Freud, kondisi ini menunjukkan dominasi superego yang terus mengawasi dan menghakimi keinginan-keinginan personalnya. Superego tidak hanya menjadi suara moral, tetapi juga sumber rasa bersalah yang membuat Lian sulit memperoleh ketenangan batin. Superego juga muncul pada hubungan Lian dengan ayahnya, hubungan tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Papi terdiam. Setelah jeda yang memualkan, dia berkata, “Papi ingin Lian bisa tertawa” (Hal. 19)
Ketika sang ayah berkata, “Papi ingin Lian bisa tertawa,” kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung tuntutan normatif mengenai bagaimana seseorang seharusnya hidup. Lian diharapkan menjadi pribadi yang bahagia dan mampu mengekspresikan kebahagiaan tersebut sebagaimana orang lain pada umumnya. Akan tetapi, trauma telah membuat dirinya tidak lagi mampu memenuhi standar tersebut. Menariknya, Lian menanggapi harapan itu dengan mengatakan bahwa tidak semua orang yang tertawa merasa bahagia, dan tidak semua orang yang bahagia harus tertawa. Pernyataan tersebut memperlihatkan upaya ego untuk merumuskan pemahaman yang lebih rasional terhadap kondisi dirinya sekaligus melawan tekanan moral yang dibebankan kepadanya.
Pergulatan serupa juga tampak dalam diri Ombak. Salah satu contohnya muncul ketika ia membenarkan tindakan mengambil uang demi biaya kuliah kedokteran yang ia impikan karena ia sendiri adalah anak dari keluarga yang kurang beruntung.
Uangnya bisa dia gunakan untuk kuliah kedokteran. Ombak tahu, mencuri itu tidak baik. Namun, ini bukan mencuri. Ini kesempatan. Semua melakukannya. (Hal. 80)
Ombak mengetahui bahwa tindakannya bertentangan dengan norma moral, tetapi ia berusaha merasionalisasikannya dengan menyebut bahwa semua orang melakukan hal yang sama dan bahwa peristiwa itu lebih merupakan kesempatan daripada pencurian. Mekanisme rasionalisasi tersebut menunjukkan bagaimana ego bekerja untuk mendamaikan kebutuhan hidup dengan tuntutan moral yang berasal dari superego. Pada saat yang sama, hubungan Ombak dengan Lian juga memperlihatkan kemampuan ego untuk merespons realitas secara adaptif. Ketika Lian mengalami ketakutan dan kegelisahan, Ombak tidak larut dalam emosinya sendiri, melainkan memilih tindakan konkret dengan menggenggam tangan Lian untuk memberikan rasa aman dan menenangkan.
Tanpa ragu, Ombak langsung menggenggam telunjuk kiri itu, lantas menyatukannya dengan tangankanan Lian yang ada dalam tangkupan tangannya. Hangat dan lembap. Gigil di tubuh lian sedikit mereda. (Hal 137)
Menariknya, perjalanan psikologis Lian tidak sepenuhnya bergerak ke arah kehancuran. Pada satu titik, ia mulai menunjukkan keinginan untuk melepaskan diri dari trauma yang selama ini mengurung hidupnya. Hal tersebut tampak ketika ia berkata, “Persetan dengan segala logika. Mungkin kali ini dia harus rela menjadi mencit percobaan dan berserah pada keajaiban semesta.” Kalimat ini menunjukkan momen ketika Lian mulai menyerahkan sebagian kendali dirinya kepada harapan dan kemungkinan baru. Jika sebelumnya ego selalu berusaha mengontrol segala sesuatu secara ketat, maka pada titik ini muncul dorongan yang lebih impulsif untuk keluar dari lingkaran trauma yang membelenggunya selama bertahun-tahun.
Lian mengangguk. Persetan dengan segala logika. Mungkin kali ini dia harus rela menjadi mencit percobaan dan berserah pada keajaiban semesta.” (Hal. 44)
Jika banyak karya mengangkat kerusuhan Mei 1998 berusaha untuk merekonstruksi peristiwa sejarah melalui gambaran kekerasan, kerusuhan massa, atau ketegangan politik yang melatarbelakanginya, seperti novel Laut Bercerita karya Leila Chudori, Ingatan Ikan-Ikan besutan Sasti justru memilih jalan yang berbeda. Sasti tidak menempatkan tragedi tersebut sebagai pusat tontonan. Tragedi tersebut cukup dijadikan sebuah pemantik sebuah jalannya cerita, yaitu sebagai penyebab luka yang terus hidup di dalam ingatan para penyintasnya. Kerusuhan 1998 dalam novel ini hadir sebagai bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi, terus mengikuti langkah para tokohnya bahkan setelah tujuh tahun peristiwa itu berlalu. Pilihan semacam ini membuat Ingatan Ikan-Ikan tidak terjebak menjadi sekadar novel sejarah, tetapi Sasti Gotama telah sukses mengawinkan antara peristiwa sejarah dengan bidang psikologi. Novel ini berkembang menjadi novel tentang trauma dan daya tahan manusia dalam menghadapi masa lalu yang terus menghantui.
Kekuatan terbesar novel ini agaknya terletak pada kemampuannya menerjemahkan trauma ke dalam pengalaman yang sangat personal. Sasti Gotama tidak menjelaskan trauma melalui definisi-definisi psikologis yang rumit. Sebaliknya, ia membiarkan trauma itu berbicara melalui tubuh, ingatan, dan perilaku tokohnya. Kecemasan dan trauma merupakan dua hal yang berhubungan. Menurut Sigmund Freud kecemasan atau rasa khawatir pada masa sekarang merupakan dampak dari trauma seseorang di masa lalu (Andri & Dewi, 2007).
Teori tersebut sesuai dengan konteks ini, dimana kecemasan yang dialami Lian merupakan hal yang dipicu oleh pengalaman traumatis pada masa lalunya. Ketakutan Lian terhadap suara tawa, kebiasaannya menyumpal telinga dengan kapas, hingga kegelisahan yang muncul tanpa sebab yang jelas memperlihatkan bahwa trauma bukan hanya persoalan mengingat suatu peristiwa, tetapi juga bagaimana peristiwa tersebut terus hidup di dalam tubuh seseorang. Di titik ini, Sasti menunjukkan kepekaan yang tinggi dalam menggambarkan dampak psikologis dari sebuah tragedi sejarah. Trauma tidak diposisikan sebagai sesuatu yang dramatis dan meledak-ledak, melainkan sebagai luka yang diam-diam menggerogoti kehidupan sehari-hari. Kepiawaian Sasti dalam menerjemahkan teori-teori psikologis tersebut dapat dilihat dari penggalan berikut:
Suara merembes lewat jendela kamar. Segerombolan anak sekolah. Tertawa. Menjelma pelatuk terkokang. Menembaki Lian. Pistol berjelaga. Lian ambruk di dipan. Mengerang Tersengal-sengal. Tolong! Nyeri, nyeri sekali! Jauh lebih nyeri dari triliunan nyeri yang pernah menyambanginya. Kabut tepung gandum. Ribuan, jutaan, miliaran jarum. Tolong tolong! Ombak, tolong aku!
Kini, tubuhnya jauh lebih peka dari sebelumnya. Cekikikan manusia akan mencekik lehernya. Tawa kecil akan membuat semestanya hujan peluru dan granat. Bahkan suara binatang kadang akan menjelma tawa manusia dan bisa membuatnya kejang di tempat. Nyeri, nyeri, nyeri, Ombak. Tolong! (Hal. 158)
Dalam kutipan tersebut Sasti sukses menyampaikan penderitaan apa yang dirasakan oleh seseorang yang mempunyai trauma kepada pembaca melalui metafora-metafora sastrawi. Sasti sukses menerjemahkan teori-teori mentah menjadi sebuah penggambaran yang gampang dirasakan oleh pembaca. Perhatikan alinea kedua saat penulis mencoba menggambarkan bahwa suara tawa seperti halnya peluru senapan atau bahkan granat baginya yang seolah bisa melukai tubuhnya, terkadang suara binatang pun dapat membuatnya kehilangan kesadarannya dan membuatnya kejang. Bahkan ingatannya akan tepung gandum yang menghujani tubuhnya diibaratkan seperti hujan ribuan jarum yang dapat menusuknya. Sasti dengan keluwesannya menggabungkan metafora dan personifikasi sekaligus sehingga mampu menghasilkan deskripsi yang memukau tentang apa yang dirasakan Lian saat traumanya menyerang dirinya.
Keberhasilan tersebut semakin diperkuat oleh penggunaan alur maju-mundur yang menjadi salah satu elemen paling efektif dalam novel ini. Perpindahan antara tahun 1998 dan tahun 2005 tidak hanya berfungsi sebagai teknik penceritaan, teknik ini menjadi representasi cara kerja ingatan traumatis itu sendiri. Ingatan tidak pernah bergerak secara linear. Ia datang secara tiba-tiba, melompat dari satu peristiwa ke peristiwa lain, lalu menyeret seseorang kembali ke masa yang sebenarnya ingin dilupakan. Dengan memanfaatkan struktur semacam itu, Sasti Gotama berhasil membuat bentuk novel ini berjalan seiring dengan tema yang diusungnya mengenai trauma psikologis. Alur tidak lagi hanya menjadi wadah cerita semata, melainkan salah satu unsur dari makna yang ingin disampaikan.
Selain itu, keberanian Sasti Gotama mengangkat pengalaman korban Kerusuhan Mei 1998 juga patut diapresiasi. Hingga hari ini, tragedi tersebut masih menyisakan banyak ruang kosong dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Tidak sedikit kisah korban yang terlupakan atau sengaja dilupakan. Dalam situasi semacam itu, Ingatan Ikan-Ikan hadir sebagai upaya menghidupkan kembali suara-suara yang selama ini tenggelam di balik narasi besar sejarah. Novel ini mengingatkan pembaca bahwa dampak sebuah tragedi tidak berhenti ketika berita koran berhenti menuliskannya. Bagi para penyintas, luka itu dapat bertahan bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
Pemilihan ikan mas koki sebagai simbol dan salah satu poros cerita juga tidak kalah menariknya. Sasti tentu tidak sembarang memilih ikan mas koki ini untuk dimasukkan ke dalam ceritanya. Sasti secara brilian memanfaatkan metafora ikan mas koki bukan sekadar sebagai elemen pasif, melainkan sebagai jankar simbolis untuk membangun sebuah sebuah dualitas trauma psikologis dan amnesia sejarah. Pemilihan hewan ini didasarkan dengan mitos bahwa ingatan mas koki hanya dapat mengingat selama tiga detik. Meskipun secara ilmiah ikan mas koki sebetulnya pengingat yang handal.
Lian memutar bola matanya. Telah banyak jurnalyang menjelaskan bahwa ikan mas koki sebenarnya pengingat yang anda. Ia bisa mengingat dalam hitungan minggu, bulan, hingga tahun. Namun, Lian malas menjelaskan kepada Homo Sapiens yang lebih suka bertingkah seperti Chihuahua dan memiliki ingatan seburuk anjing laut ini, perihal ingatan Kenes, tampaknya Lian harus mengamini ucapan mantan pacar si Kenes. Dan seandainya mitos itu benar, bahwa ikan mas koki hanya mampu mengingat selama tiga detik, Lian akan mengirim surel kepada Tuhan dan minta dirinya dikutuk jadi ikan mas koki saat ini juga. (Hal 12)
Pada level personal, ikan koki dengan mitos memori tiga detiknya menjadi representasi dari mekanisme pertahanan diri (defend mechanism) yang dirindukan oleh tokoh Lian dan Ombak. Seperti dalam kutipan tersebut, Lian sangat ingin melupakan ingatan-ingatannya dengan akan mengirim surel kepada Tuhan dan minta dikutuk menjadi ikan mas koki saat ini juga. Hal ini semkain menguatkan bahwa sebuah eksistensi tanpa ingatan adalah anugerah tertinggi bagi jiwa-jiwa yang remuk dihantam trauma mas lalu.
Namun demikian, sebagaimana karya sastra lainnya, Ingatan Ikan-Ikan bukanlah karya yang tanpa cela. Dominannya porsi refleksi psikologis dalam novel ini terkadang membuat ritme cerita berjalan lambat. Pada beberapa bagian, pembaca lebih banyak diajak menyelami pikiran dan perasaan tokoh daripada menyaksikan perkembangan peristiwa secara langsung. Bagi pembaca yang menyukai konflik yang bergerak cepat dan penuh kejutan, bagian-bagian semacam ini mungkin terasa melelahkan. Akan tetapi, perlambatan tersebut agaknya merupakan konsekuensi dari pilihan estetik yang diambil pengarang. Sulit membayangkan sebuah novel tentang trauma dapat bergerak dengan ritme yang tergesa-gesa. Luka batin selalu membutuhkan ruang untuk direnungi, dan ruang itulah yang berusaha diberikan Sasti kepada tokoh-tokohnya.
Kelemahan lain yang cukup terasa adalah pengembangan beberapa tokoh pendukung yang belum memperoleh kedalaman psikologis sebagaimana tokoh utama. Lian dan Ombak tampil sangat kuat sebagai pusat penceritaan, tetapi sejumlah tokoh lain lebih berfungsi sebagai penunjang perjalanan batin keduanya. Akibatnya, dunia sosial yang mengelilingi para tokoh terkadang terasa kurang hidup jika dibandingkan dengan kompleksitas konflik internal yang mereka alami. Meski demikian, kekurangan tersebut tidak sampai mengurangi kekuatan utama novel yang memang sejak awal berfokus pada persoalan psikologis individu.
Terlepas dari beberapa catatan tersebut, Ingatan Ikan-Ikan tetap merupakan salah satu novel Indonesia kontemporer yang penting untuk diperhitungkan. Novel ini memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu harus berbicara lantang untuk menyampaikan kritik sosial. Melalui kisah yang tenang, Sasti Gotama berhasil menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip negara atau buku pelajaran, tetapi juga hidup di dalam tubuh manusia yang pernah mengalaminya. Di tangan Sasti, trauma sejarah berubah menjadi pengalaman sastra personal, sekaligus politis.
Relevansi novel ini bahkan terasa semakin kuat ketika dihadapkan pada perdebatan yang masih berlangsung mengenai Kerusuhan Mei 1998 hingga hari ini. Salah satu persoalan yang terus memunculkan polemik adalah pengakuan terhadap kekerasan seksual yang diduga terjadi secara massal selama kerusuhan berlangsung. Meskipun berbagai laporan investigatif, kesaksian korban, serta temuan lembaga independen pernah mendokumentasikan dugaan tersebut, pengakuan negara terhadap peristiwa itu masih menjadi wilayah yang dipenuhi tarik-menarik kepentingan dan perbedaan tafsir. Dalam beberapa kesempatan, muncul pula pernyataan-pernyataan dari pejabat publik yang mempertanyakan atau meragukan keberadaan pemerkosaan massal pada Mei 1998. Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan terbesar dari sebuah tragedi sejarah bukan hanya peristiwa itu sendiri, melainkan bagaimana masyarakat dan negara memilih untuk mengingat atau melupakannya.
Dalam konteks itulah Ingatan Ikan-Ikan menemukan urgensinya. Novel ini tidak berupaya menjadi dokumen sejarah yang menawarkan bukti-bukti faktual, tetapi bekerja melalui wilayah yang sering kali luput dari catatan resmi, ingatan, trauma, dan pengalaman manusia. Ketika sejarah diperdebatkan, korban kerap dipaksa membuktikan kembali luka yang telah mereka tanggung selama bertahun-tahun. Sasti Gotama seolah mengingatkan bahwa di balik setiap angka, laporan, dan perdebatan politik terdapat manusia-manusia yang harus hidup bersama kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sebagai karya sastra yang berangkat dari salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah Indonesia, Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama berhasil menghadirkan pembacaan yang dalam mengenai trauma, kehilangan, dan upaya manusia untuk berdamai dengan masa lalu. Melalui tema trauma sejarah yang dibangun dengan alur maju-mundur, tokoh-tokoh yang memiliki kompleksitas psikologis, serta latar yang berpijak pada peristiwa kerusuhan Mei 1998, novel ini tidak hanya menyajikan kisah personal para penyintas, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif tentang luka sejarah yang masih menyisakan banyak pertanyaan hingga hari ini. Pembacaan menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud menunjukkan bahwa konflik yang dialami Lian dan Ombak merupakan cerminan pertarungan antara id, ego, dan superego dalam menghadapi trauma yang terus hidup di dalam alam bawah sadar mereka.
Dari segi estetik, kekuatan utama novel ini terletak pada kemampuannya menerjemahkan trauma ke dalam pengalaman yang sangat manusiawi. Sasti Gotama tidak menghadirkan tragedi sebagai tontonan yang sensasional, melainkan sebagai luka yang perlahan mengendap dalam ingatan dan memengaruhi kehidupan para tokohnya. Penggunaan alur nonlinier, sudut pandang orang ketiga, serta bahasa yang sederhana berhasil mendukung tema yang diusung novel ini. Meskipun ritme cerita terkadang berjalan lambat dan beberapa tokoh pendukung belum memperoleh pengembangan yang seimbang, kelemahan tersebut tidak mengurangi nilai keseluruhan karya. Justru melalui kesunyian dan refleksi-refleksi batinnya, Ingatan Ikan-Ikan mampu menghadirkan pengalaman membaca yang mendalam dan menggugah.
Lebih jauh lagi, novel ini menunjukkan bahwa sastra memiliki peran penting dalam menjaga ingatan terhadap sejarah. Ketika berbagai peristiwa masa lalu masih diperdebatkan, dipertanyakan, atau bahkan berisiko dilupakan, sastra hadir sebagai ruang alternatif untuk merawat suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Dalam konteks tersebut, Ingatan Ikan-Ikan tidak hanya penting sebagai karya fiksi, tetapi juga sebagai pengingat bahwa trauma sejarah tidak pernah benar-benar berakhir selama para penyintas masih hidup bersama luka yang mereka bawa.
Oleh karena itu, Ingatan Ikan-Ikan layak ditempatkan sebagai salah satu novel Indonesia kontemporer yang penting untuk dibaca, terutama bagi pembaca yang tertarik pada tema trauma, ingatan, sejarah, dan psikologi manusia. Novel ini menawarkan lebih dari sekadar cerita, ia mengajak pembaca memahami bagaimana sebuah tragedi dapat terus hidup dalam ingatan individu maupun masyarakat. Pada akhirnya, sebagaimana yang diperlihatkan Sasti Gotama melalui tokoh-tokohnya, mengingat bukanlah sekadar menoleh ke masa lalu, melainkan juga usaha untuk memahami diri sendiri dan mencegah agar luka yang sama tidak kembali terulang di masa depan.
