Konten dari Pengguna

Instagram sebagai Jendela Budaya dan Daya Tarik Desa Adat Osing Kemiren

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alif Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penampilan Tari Gandrung di Desa Adat Osing Kemiren. Foto : Alif Maulana - Samsung Galaxy A21
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan Tari Gandrung di Desa Adat Osing Kemiren. Foto : Alif Maulana - Samsung Galaxy A21

Pagi di Desa Adat Osing Kemiren terasa seperti berjalan dengan caranya sendiri. Sang Surya mulai menampakkan dirinya. Alam berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Orang-orang melakukan aktivitasnya masing-masing. Semua berjalan secara bersamaan seolah Tuhan telah menulis itu semua. Desa ini masih memiliki nuansa masa lalu meskipun ia telah berjalan di era digital dan modernisasi. Rumah-rumah adat Osing berada di tengah kehidupan masyarakat yang masih memegang kebiasaan dan tradisi mereka. Di wilayah ini, budaya tidak hanya hadir sebagai sesuatu yang bisa dipamerkan untuk dinikmati wisatawan. Budaya justru terus menjadi bagian dari rutinitas dan keseharian masyarakat.

Kemiren merangkai kisahnya sendiri dimana hubungan kehidupan masyarakat dan alam di sekitarnya saling mendukung satu sama lain. Ibu Mistia yang merupakan salah seorang masyarakat lokal yang ada menyatakan bahwa nama Kemiren berasal dari adanya buah durian atau kemiren yang dahulu menjadi salah satu ciri khas dari desa tersebut. Seiring berjalannya waktu, banyak festival budaya mulai muncul dan masyarakat pun berinisiatif untuk menunjukkan kekayaan budaya yang dimiliki. Desa ini secara perlahan menemukan citra dan jalannya sendiri untuk menjadi sebuah destinasi wisata.

Ketika menjelajahi Kemiren, para penjelajah wisata tidak hanya menemukan lokasi indah untuk dijadikan bahan konten sosial media belaka. Terdapat Tari Gandrung, Pasar Adat Kemiren, pertunjukan Barong Ider Bumi, arsitektur rumah adat Osing, Tumpeng Sewu, dan Kopi Sepuluh Ewu yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali. Atraksi budaya tersebut memiliki latar belakang cerita dan tradisi yang berkembang dalam komunitasnya. Kang Ade seorang pemandu lokal yang mengatakan bahwa daya tarik wisata Desa Adat Osing Kemiren pada dasarnya berasal dari kebiasaan sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, apa yang disajikan kepada wisatawan seharusnya tidak mengubah nilai-nilai yang sudah ada.

Mungkin disanalah terkandung kekuatan Kemiren. Para penjelajah wisata hadir bukan untuk menyaksikan hal-hal yang ditunjukkan agar terlihat tradisional. Mereka datang untuk mengamati bagaimana suatu komunitas masih melestarikan tradisi dan budayanya secara berkelanjutan.

Pariwisata kemudian hadir membuka kesempatan baru bagi komunitas untuk berpartisipasi. Ruang di halaman depan rumah bisa dimanfaatkan untuk berdagang. Warga yang sebelumnya mayoritas berprofesi sebagai petani kini bisa memperluas kegiatan mereka agar terintegrasi dalam paket wisata seperti pengelolaan budidaya padi dan pengajaran teknik membatik. Kang Ade sebagai pendukung industri pariwisata di Desa Adat Osing Kemiren menyatakan bahwa pariwisata sangat berperan dalam meningkatkan ekonomi wilayah tersebut.

Manfaat dari industri pariwisata tidak selalu bisa diukur dengan uang semata. Ibu Mistia menjelaskan bahwa bagi warga yang lebih tua, bertemu dengan pengunjung setiap hari membuka peluang untuk bergaul. Adanya individu baru yang muncul membuat dialog baru yang berlangsung, dan lingkungan yang membuat mereka tetap energik. Hal ini tampak sederhana tetapi sangat berarti bagi mereka yang telah merasa kesendirian di dalam hidupnya. Sebuah desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai destinasi bagi para penjelajah wiaata dari luar. Desa itu juga bisa menjadi wadah bagi komunitas setempat untuk terus berinteraksi dan saling bercengkrama satu sama lain.

Zaman memperkenalkan inovasi baru di Kemiren. Kisah dahulu tentang sebuah desa hanya bisa tersebar dari mulut ke mulut. Kini, sebuah gambar bisa beredar dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Sebuah klip video bisa diakses oleh individu yang bahkan tidak pernah mengunjungi Banyuwangi. Platform media sosial seperti Instagram menjadi salah satu saluran baru bagi Kemiren untuk menampilkan jati diri budaya di era digitalisasi saat ini.

Kang Ade mengungkapkan bahwa generasi muda mengambil bagian dalam menciptakan konten untuk platform media sosial. Konten-konten ini dirancang oleh para pemuda dan dikembangkan secara kolektif. Instagram dimanfaatkan sebagai sarana promosi sedangkan situs web pemerintah desa, agen perjalanan, dan promosi secara lisan tetap berjalan secara berkelanjutan.

Hal menarik untuk dicatat yaitu metode promosi tidak perlu selalu berskala besar. Terkadang, para penjelajah wisata itu sendiri berkontribusi pada promosi. Mereka menangkap gambar, merekam hasil mahakarya kebudayaan, lalu membagikannya di media sosial sekaligus menyebut akun Kemiren. Kisah mengenai desa bisa tersebar kepada puluhan hingga ratusan orang lainnya dari satu penjelajah wisata.

Pada momen ini, kita pernah memikirkan bahwa kemunculan media sosial mungkin akan mengakibatkan perubahan dalam budaya. Apakah tidak benar bahwa apa yang ingin ditampilkan di layar sering kali disesuaikan dengan apa yang dianggap menarik? Bukankah budaya dapat dimodifikasi agar terlihat lebih menarik di foto, lebih ringkas, dan lebih mudah untuk dipasarkan?

Jawaban warga lokal Kemiren sebenarnya sangat sederhana. Ibu Mistia menyatakan bahwa mereka tidak merasa tertekan untuk memperlihatkan budaya demi tujuan komersialisasi. Mereka merasa bahagia ketika budaya Osing bisa dikenal secara lebih luas bahkan hingga ke luar negeri. Bagi mereka, hadir di platform media sosial tidak berarti harus mengabaikan identitas mereka.

Di sana kita menemukan hal yang lebih signifikan dibandingkan hanya teknik pemasaran. Globalisasi tidak selalu menyiratkan bahwa budaya setempat harus mengalah pada budaya kontemporer. Teknologi hanyalah sebuah perangkat belaka. Cara perangkat tersebut dimanfaatkan tergantung pada komunitas yang mengendalikannya.

Kemiren mengilustrasikan bahwa suatu tradisi bisa bertransformasi ke ranah digital tanpa harus melupakan asal-usulnya. Rumah tradisional masih berdiri tegak. Praktik budaya tetap dilanjutkan. Pertunjukan kebudayaan terus disajikan sesuai dengan norma komunitas. Namun, kini narasi mengenai semua itu memiliki jalan yang lebih jauh untuk dijelajahi.

Mungkin kemarin seorang penjelajah wisata tiba di Kemiren hanya untuk merasakan keunikan dan keaslian budaya Osing lalu pulang dengan pengalaman yang berkesan. Kini, mereka bisa pulang tidak hanya dengan kenangan tetapi juga dengan kamera. Dari kamera tersebut muncul sebuah postingan dan postingan itu muncul rasa penasaran sehingga rasa penasaran tersebut akan lahir perjalanan baru menuju Kemiren.

Pada akhirnya, hal yang membuat suatu budaya tetap eksis bukanlah seberapa sering ia ditampilkan, melainkan seberapa kuat rasa kepemilikan masyarakat terhadap budaya itu. Platform media sosial bisa berperan dalam memperkenalkan budaya kepada publik namun esensi budaya tetap berada di tangan komunitasnya.

Desa Adat Osing Kemiren mengajarkan bahwa menjadi kontemporer tidak selalu berarti mengabaikan sejarah. Terkadang, hal yang dibutuhkan hanyalah menemukan alat baru untuk membuat kisah lama melaju lebih jauh.

Sekarang, alat tersebut mungkin ada dalam kendali kita. Sebuah ponsel, sebuah kamera, dan satu postingan di Instagram. Satu postingan Instagram yang dapat membuka jendela budaya Indonesia menjadi mendunia.