Konten dari Pengguna

Memahami Emotional Quotient (EQ) dan Kontribusinya dalam Psikologi Pendidikan

Alifa Zakiya Azmi

Alifa Zakiya Azmi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Alifa Zakiya Azmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Foto pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Foto pribadi

Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan yang ada pada diri, memotivasi diri, dan kemampuan mengelola emosi dengan baik.

Goleman merancang kerangka kerja EQ yang terdiri dari lima unsur, yaitu:

  1. Kesadaran diri, terdiri dari: kesadaran emosi, penilaian secara teliti, dan percaya diri.

  2. Pengaturan diri, terdiri dari: pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada, adaptif, dan inovatif.

  3. Motivasi, terdiri dari: dorongan prestasi, komitmen, inisiatif, dan optimisme.

  4. Empati, terdiri dari: memahami orang lain, orientasi pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman, dan kesadaran politis.

  5. Keterampilan sosial, terdiri dari: pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan kolaborasi, dan kooperasi, serta kerjasama tim.

Tak hanya itu, EQ juga dapat berkontribusi dalam psikologi ppendidikan. EQ dapat mewujudkan keterampilan dalam membangun dan menguasai diri dalam kehidupan sosial.

Indikator dalam memahami kecerdasan emosional disampaikan oleh Goleman (2003), yaitu: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, mengenali emosi orang lain, dan membuna hubungan. Indikator ini penting agar mampu merasakan dan memahami yang kemudian disikapi secara manusiawi.

Menurut Goleman, generasi sekarang lebih susah dalam mengendalikan emosi. Mereka cenderung kesepian, pemurung, mudah cemas, serta lebih impulsif, dan agresif.

Dengan memahami emosi, maka akan lebih mudah dalam memahami perasaan oranh lain, memahami makna tersurat dam tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non-verbal. Pemahaman tersebut akan menuntun pada sikap sesuai kebutuhan, sehingga kehidupan sosialnya akan baik.