Konten dari Pengguna

Apakah Kesetaraan Akses Vaksin melalui COVAX dapat Tercapai?

Alifa Rahmah F
Mahasiswa di Universitas Al Azhar Indonesia
30 Desember 2021 15:21 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Alifa Rahmah F tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://pixabay.com/id/photos/vaksin-vaksinasi-covid-19-5926664/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/vaksin-vaksinasi-covid-19-5926664/
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama kurang lebih dua tahun terakhir telah menyebabkan hilangnya jutaan nyawa dan mengganggu kehidupan miliaran orang lainnya. Dengan semakin banyaknya korban jiwa akibat pandemi ini mengakibatkan kenaikan urgensitas untuk vaksinasi masyarakat negara-negara di dunia. Hal ini dikarenakan vaksin merupakan sebuah solusi untuk mengakhiri pandemi ini. Selain mengurangi korban jiwa yang tragis dan membantu mengendalikan pandemi, pengenalan vaksin akan mencegah kerugian ekonomi global US$ 375 miliar setiap bulannya. Oleh sebab itu dibutuhkan akses yang adil secara global terhadap vaksin, terutama untuk melindungi petugas kesehatan dan mereka yang paling berisiko adalah cara untuk mengurangi dampak kesehatan dan ekonomi masyarakat dari pandemi.
ADVERTISEMENT
Namun demikian, pada kenyataannya akses vaksin pada awal pandemi bahkan hingga saat ini merupakan hal yang cukup sulit untuk diterapkan, terutama untuk negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah (LMICs). Dengan munculnya masalah baru terkait kesulitan dalam mengakses vaksin, muncul lah sebuah ide untuk memberi kesetaraan akses vaksin kepada negara-negara di dunia melalui sebuah program kerja sama yang bernama COVAX Facility. COVAX Facility merupakan pilar vaksin dari Accelerator Access to COVID-19 Tools (ACT).
ACT Accelerator adalah kolaborasi global untuk mempercepat pengembangan, produksi, dan akses yang adil dengan cara penelitian serta perawatan terkait vaksin COVID-19. COVAX Facility dipimpin bersama oleh Gavi, Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dan WHO. Tujuannya adalah untuk mempercepat pengembangan, produksi dan distribusi vaksin COVID-19, serta menjamin akses yang adil dan merata bagi setiap negara di dunia. COVAX Facility juga bekerja dalam kemitraan dengan produsen vaksin negara maju dan berkembang, serta membutuhkan pendonor dana untuk menjalankan programnya.
ADVERTISEMENT
Dengan adanya COVAX Facility, secara umum masalah mengenai kesetaraan akses vaksin sudah memiliki solusi dan dapat segera diatasi. Namun, apabila tujuan COVAX Facility memang benar-benar berhasil dan kesetaraan akses vaksin dapat dirasakan oleh seluruh negara-negara di dunia, lalu mengapa masih ada negara-negara yang belum bisa merasakan hal ini? Sehingga penulis merasa bahwa COVAX ini pun belum dapat menjadi solusi yang optimal bagi kesetaraan akses vaksin karena beberapa alasan utama berikut.
Pertama adalah mengenai kemitraan dengan produsen vaksin di negara berkembang ataupun negara maju. COVAX Facility harus bisa melibatkan sebanyak-banyaknya produsen vaksin untuk berkomitmen dalam mendistribusikan vaksin mereka ke negara-negara yang membutuhkan melalui program ini. Karena jika produsen vaksin hanya berasal dari negara tertentu saja, maka jika suatu saat nanti kasus pandemi meningkat kembali di negara produsen, negara tersebut kemungkinan besar akan menutup ekspor vaksin mereka karena berfokus pada penyediaan vaksin di dalam negeri mereka. Sehingga penyaluran vaksin melalui COVAX Facility akan terhambat.
ADVERTISEMENT
Salah satu contoh kasusnya adalah kerja sama dengan produsen vaksin dari India. India relatif baik selama tahun pertama pandemi dan sebagai hasilnya, Serum Institute of India (SII) yang merupakan fasilitas besar yang berlokasi di Pune pada akhirnya memiliki lisensi untuk memproduksi AstraZeneca dari Oxford University dan Novavax. Mereka juga berkomitmen untuk memproduksi ratusan juta dosis yang dapat didistribusikan COVAX ke negara lain. Tetapi pada musim semi 2021, India dihantam oleh COVID-19 dan negara tersebut memutuskan untuk menghentikan sementara semua ekspor vaksin mereka dan fokus mendistribusikan vaksin untuk dalam negeri mereka dengan harapan meminimalkan kerusakan yang terjadi akibat lonjakan tersebut. Penutupan sementara ekspor dari India membuat COVAX Facility memiliki stock kurang dari 190 juta dosis vaksin dan mengalami keterlambatan dalam memenuhi tujuannya pada akhir Juni 2021.
ADVERTISEMENT
Kedua adalah mengenai sumber pendanaan dari COVAX Facility itu sendiri. COVAX Facility masih membutuhkan suntikan dana dari negara-negara atau organisasi-organisasi swasta yang membantu mereka dalam mendistribusikan vaksin ke negara yang membutuhkan. Mungkin untuk saat ini dana tersebut masih ada, tetapi bagaimana untuk ke depannya? Apakah sumber dana mereka akan tetap ada atau tidak. Karena apabila sumber dana nya berkurang maka besar kemungkinan distribusi vaksin akan mengalami keterlambatan sehingga membuat tujuan utama COVAX mengalami keterlambatan.
Kemudian apabila kita mengambil contoh nyata terkait distribusi vaksin COVAX ke Indonesia menurut informasi yang didapatkan dari Bapak Andrie Vitra Diazmara, S.Sos., MIR, Sub Koordinator Kerja Sama Multilateral 2, Biro Kerja Sama Luar Negeri, Kemenkes RI, pada Weekly Meeting Update Rencana Supply Vaksin Covid-19 mengatakan bahwa update terkait vaksin Pfizer dimana untuk vaksinnya sendiri belum ada update terkait penundaan, namun dikarenakan ada keterlambatan pengiriman Syringe, sehingga kemungkinan akan terjadi keterlambatan pula pada pengiriman vaksin Pfizer oleh COVAX facility. Beliau juga menambahkan bahwa pengiriman vaksin Pfizer juga tergantung dari kesiapan negara dalam menerima vaksin Pfizer yang memerlukan tempat penyimpanan khusus.
ADVERTISEMENT
Ini contoh di Indonesia dan masih ada kemungkinan bahwa di negara-negara lain juga mengalami keterlambatan distribusi vaksin dari COVAX. Sehingga dengan adanya keterlambatan-keterlambatan ini, kesetaraan akses vaksin yang diinginkan menjadi terhambat/sulit untuk dicapai dalam waktu dekat. Tetapi bukan berarti tidak bisa dicapai sama sekali, hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan tersebut dari waktu yang telah direncanakan.