Sampah Rumah Tangga Jadi Solusi Genangan Air, KKN UNS Ajak Warga Jaga Lingkungan

Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari alifah yumna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sisa sayuran, kulit buah, dan potongan tanaman selama ini kerap hanya berakhir di tempat sampah. Di Desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, sampah organik rumah tangga tersebut diperkenalkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi genangan air sekaligus menghasilkan pupuk kompos. Gagasan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNS Kelompok 75 dalam mengenalkan metode biopori sebagai solusi sederhana atas persoalan resapan air yang memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan rumah tangga.
Program tersebut dikemas melalui GEMA PORI (Gerakan Bersama Biopori) yang dilaksanakan di Desa Karanggondang RW 02 RT 08 dengan melibatkan ibu-ibu PKK setempat. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya genangan air di sekitar pekarangan maupun halaman belakang rumah warga, terutama pada musim penghujan, akibat rendahnya daya resap tanah terhadap air. Di sisi lain, sampah organik rumah tangga masih banyak yang hanya dibuang tanpa dimanfaatkan lebih lanjut, padahal berpotensi diolah menjadi bahan yang bernilai guna bagi kesuburan tanah. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNS Kelompok 75 Desa Karanggondang berupaya memperkenalkan biopori sebagai salah satu alternatif yang dapat diterapkan masyarakat secara mandiri.

Pelatihan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian biopori, manfaatnya bagi resapan air dan pengelolaan sampah organik, hingga cara pembuatan dan pemanfaatannya. Materi disampaikan menggunakan bahasa sederhana agar mudah dipahami peserta. Mahasiswa menjelaskan bahwa lubang resapan biopori dibuat dengan melubangi tanah di area pekarangan atau halaman belakang rumah, kemudian mengisinya dengan sampah organik rumah tangga maupun sisa tanaman. Keberadaan lubang tersebut berfungsi meningkatkan laju infiltrasi air ke dalam tanah, sehingga air hujan dapat terserap lebih cepat dan risiko genangan di sekitar rumah dapat diminimalkan.
Mahasiswa juga menjelaskan bahwa sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori tidak hanya berfungsi sebagai media resapan, tetapi juga akan terurai secara alami dan dapat dipanen dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan menjadi pupuk kompos. Pupuk hasil olahan tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan kembali oleh warga untuk menyuburkan tanaman di lingkungan rumah, sehingga tercipta siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien. Selain itu, disampaikan pula bahwa lubang biopori dapat dibuat menggunakan barang bekas yang tersedia di rumah, seperti galon air yang tutupnya dilubangi terlebih dahulu, sehingga warga tidak perlu menyediakan alat maupun bahan khusus untuk menerapkannya.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan peserta yang aktif bertanya mengenai cara pembuatan lubang biopori, jenis sampah organik yang dapat digunakan, hingga waktu panen pupuk kompos yang dihasilkan. Antusiasme peserta menunjukkan adanya ketertarikan terhadap pemanfaatan sampah organik sebagai alternatif pengelolaan lingkungan rumah tangga. Melalui pelatihan ini, peserta memperoleh tambahan pengetahuan sekaligus keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah masing-masing.
Melalui program GEMA PORI, mahasiswa KKN UNS Kelompok 75 Desa Karanggondang tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengenali potensi sampah organik di lingkungan sekitar dan memanfaatkannya secara bijaksana. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat terus diterapkan dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat Desa Karanggondang. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus mengenalkan pengelolaan lingkungan rumah tangga yang lebih berkelanjutan.
