Alarm Pendidikan; Mendengar Kata "Kuliah" dan Ketakutan Anak-Anak Usia Dini

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN SYARIFHIDAYATULLAH JAKARTA
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari alifa zuqni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata "kuliah"? Bagi siswa SMP atau SMA, perkuliahan sering kali dipersepsikan sebagai gerbang menuju kebebasan, fase eksplorasi diri, dan dinamika kehidupan kampus yang penuh warna. Namun, persepsi tersebut dapat berbalik 180 derajat ketika pertanyaan serupa ditujukan kepada anak-anak usia sekolah dasar.
Pengalaman ini saya dapatkan ketika mengajar sebagai guru pengganti di sebuah Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) sebuah lembaga pendidikan keagamaan Islam nonformal jenjang dasar. Suatu hari, di tengah suasana kelas yang santai, saya melemparkan pertanyaan sederhana kepada para santri: "Siapa di antara kalian yang setelah besar nanti ingin kuliah?"
Seketika, mayoritas anak mengangkat tangan mereka dengan antusias. Mereka saling bersahut-sahutan mengungkapkan cita-cita polosnya. Namun, perhatian saya tertuju pada seorang anak laki-laki yang duduk di barisan paling depan. Dialah satu-satunya siswa yang tetap bergeming, sama sekali tidak mengangkat tangannya.
Ketika saya bertanya mengapa ia tidak ingin berkuliah, ia menjawab dengan jujur dan lugas
"Mengapa aku harus kuliah Ustazah, kalau kakakku saja tidak kuliah?"
Sebuah jawaban yang merefleksikan bagaimana lingkungan terdekat membentuk standar dan ekspektasi seorang anak. Untuk memotivasinya, saya mencoba memberikan pemahaman yang sederhana
"Justru karena itu kamu harus kuliah. Supaya kelak di rumahmu ada foto pertama seorang anak cerdas yang mengenakan toga."
Meskipun demikian, raut wajahnya masih menunjukkan keraguan. Saya pun menambahkan penjelasan lain
"Tenang saja, kalau kita memiliki kemauan dan tekad yang kuat untuk belajar, pasti ada jalannya. Saat ini banyak program beasiswa untuk anak-anak yang ingin berkuliah secara gratis, bahkan mendapatkan uang saku dan laptop."
Mendengar penjelasan tersebut, binar bahagia dan harapan baru seketika terpancar dari wajahnya.
Refleksi: Bayang-Bayang Ekonomi dan PR Pendidikan Nasional
Peristiwa singkat tersebut meninggalkan perenungan yang mendalam bagi saya. Ada keprihatinan yang menyeruak: Apa yang sebenarnya telah didengar oleh anak sekecil itu mengenai realitas ekonomi dan dunia perkuliahan hingga ia merasa takut untuk sekadar bermimpi? Apakah dalam persepsinya, menaruh cita-cita setinggi perguruan tinggi hanya akan memperberat beban orang tuanya?
Dari kejadian ini, kita diingatkan kembali betapa besarnya pengaruh peran orang tua, kondisi sosio-ekonomi, dan lingkungan sekitar terhadap pembentukan pola pikir anak. Di era modern saat ini, pendidikan memegang peranan krusial dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Pendidikan formal mulai dari SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi bertujuan membentuk cara pikir yang kritis, analitis, kreatif, serta solutif dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Sayangnya, realitas di Indonesia menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang menghentikan pendidikannya hanya di jenjang menengah atas (SMA/sederajat). Hambatan utama kerap berakar dari faktor finansial, keterbatasan informasi, hingga rendahnya motivasi.
Hal yang kian memprihatinkan adalah hadirnya stigma negatif dari sebagian kelompok masyarakat terhadap pentingnya pendidikan tinggi. Narasi-narasi skeptis seperti "kuliah hanya menunda pengangguran" atau "gelar tidak menjamin pekerjaan" kerap dilontarkan. Fenomena ini mencerminkan keberadaan (Crab Mentality) sebuah kecenderungan psikologis-sosial untuk meremehkan, menghambat, atau mematahkan semangat orang lain yang sedang berusaha untuk berkembang.
Langkah ke Depan
Sebagai generasi muda dan bagian dari elemen masyarakat yang peduli pada masa depan bangsa, kita memiliki tanggung jawab moral untuk memutus mata rantai pemikiran pesimistis ini. Kita tidak boleh membiarkan anak-anak usia dini memadamkan mimpinya hanya karena keterbatasan informasi atau beban psikologis ekonomi keluarga.
Anak-anak Indonesia tidak boleh dibiarkan terjerat dalam lingkaran putus sekolah dan buta huruf, apalagi hingga dipaksa bertransformasi menjadi tulang punggung keluarga sebelum waktunya. Edukasi mengenai akses pendidikan, informasi beasiswa, serta dukungan moral dari lingkungan terdekat harus terus digaungkan demi mewujudkan pemerataan kualitas generasi penerus bangsa. Memberikan anak-anak keberanian untuk bermimpi setinggi-tingginya tanpa dibayangi ketakutan ekonomi adalah tanggung jawab kolektif kita bersama.
