Konten dari Pengguna

Pekerjaan, Tuntutan , Trauma, dan Hilang Kendali atas Diri Sendiri.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari alifa zuqni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Posisi manakah kita berada sekarang? Bekerja untuk Hidup atau Hidup untuk Bekerja?

Foto: Seorang bapak yang  sedang bekarja untuk menghidupi anak-anaknya, Doc; Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Seorang bapak yang sedang bekarja untuk menghidupi anak-anaknya, Doc; Pribadi

Banyak dari kita memiliki pekerjaan impian yang ingin diwujudkan. Bagi sebagian orang, pekerjaan impian menjadi bagian daftar harapan yang ingin mereka capai. Kita punya cita-cita dan keinginan yang bermacam-macam. Berbagai cita-cita itu pada akhirnya berkaitan dengan profesi yang ingin dijalani. Dulu semasa kecil kita sering mengatakan “ketika dewasa nanti aku ingin menjadi dokter, polisi, tentara, pengusaha yang sukses” dan masih banyak lagi. Namun, mengapa cita-cita yang begitu kita impikan di waktu kecil kini mulai memudar? Pengalaman hidup membuat kita merasa bahwa dunia ternyata jauh lebih keras daripada yang dibayangkan ketika kecil. Setelah mencicipi pahitnya kehidupan,minpi itu beralih menjadi lebih sederhana seperti Ingin menjadi orang yang sukses, mempunyai penghasilan yang cukup untuk menghidupi diri sendiri dan keluarga. Banyak orang beranggapan bahwa kita tidak pernah tahu kapan ajal akan datang. Karena itu, mereka memilih menikmati hasil kerja dan mewujudkan keinginan-keinginan kecil yang mampu dicapai hari ini daripada terus menunda kebahagiaan demi impian besar yang belum tentu sempat terwujud.

Mematuhi Perintah adalah cara Bertahan Hidup

Berbeda dengan tokoh “aku” di sebuah cerpen Nama yang Tak Pernah Dicoret Karya Teuku Mukhlis yang tidak punya alasan untuk membuat dirinya bersemangat menjalani hari- harinya, Cerpen ini mengisahkan tokoh "Aku", seorang algojo yang tidak pernah benar-benar menikmati kehidupannya. Sejak kecil, ia dididik menjadi seorang prajurit. Ia dituntut meninggalkan suara hati dan mematuhi setiap perintah. Bahkan, ia diajarkan untuk tidak takut pada kematian. Namun, jauh dilubuk hatinya, masih ada sisi kemanusiaan yang menyimpan ketakutan mendalam terhadap kematian. Konflik yang dialami tokoh "Aku" merupakan konflik eksternal, yaitu konflik yang terjadi antara tokoh dengan lingkungan atau manusia lain (Nurgiyantoro, 2018, hlm. 181). Tokoh "aku" disini tidak punya kebebasan untuk dirinya sendiri dan menyebabkan hidupnya serba di atur dibawah perintah seolah-olah ia hanyalah alat yang menjalankan perintah tanpa memiliki kebebasan menentukan pilihan. Perubahan mulai terjadi ketika ia bertemu dengan Bahtiar, anak dari seseorang yang pernah ia bunuh. Bahtiar mengucapkan kalimat yang untuk pertama kalinya menggugah hati nurani tokoh "Aku".

"Ayahku bukan sekadar nama dalam daftar itu. Ia punya mimpi. Ia punya masa depan."

Ucapan itu memunculkan konflik batin yang selama ini terkubur dalam dirinya (Nurgiantoro, 2018: 181). Kata-kata itu keluar dari seorang anak yang sangat membutuhkan peran ayah disisinya namun ia tidak mendapatkan hal itu. Kehilangan ayahnya membuat Bahtiar tumbuh dengan luka dan dendam yang terus ia bawa hingga dewasa. Selama hidupnya, untuk pertama kalinya tokoh “Aku” merasakan apa itu sebuah harapan, apa itu kasih sayang, apa itu kesepian dan apa itu rasa takut ditinggalkan oleh orang yang kita sayang, sampai dua puluh tahun pun bahtiar masih gigih mencari siapa yang membunuh ayahnya.

Apakah tokoh "Aku" dapat sepenuhnya disalahkan?

Menurut saya, jawabannya tidak sepenuhnya demikian untuk orang yang hanya bekerja di bawah perintah, Ia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Jika seandainya ia diberi hak untuk memilih, ia tidak akan pernah memilih tindakan tersebut, rasanya tidak ada seorang pun yang ingin menghilangkan nyawa orang lain tanpa mengetahui kesalahan yang sebenarnya.

Kisah tokoh "Aku" mencerminkan kenyataan yang juga dialami sebagian orang dalam dunia kerja. Demi mempertahankan hidup, seseorang terkadang harus mematuhi aturan yang tidak selalu sejalan dengan hati nuraninya, yang perlahan kehilangan ruang untuk menentukan pilihan hidup sendiri. Tekanan dalam pekerjaan sering kali menghantui kita. Karena, dalam kehidupan kita di tuntut untuk memilih dan dipilih, berkorban dan dikorbankan. Kenyataannya seperti itulah dunia yang kita jalani sekarang. Karena kehidupan hanya dijalani sekali, teruslah berusaha menjadi manusia yang tetap memiliki empati di tengah dunia yang penuh tekanan. Jangan kehilangan mimpi, sebab sering kali mimpi adalah alasan seseorang untuk tetap bertahan, melangkah, dan tersenyum.

Daftar Pustaka

Mukhlis, T. (2026, 8 April). Nama yang Tak Pernah Dicoret. Kompas.

Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.